logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 September 2004 WACANA
Line

SURAT PEMBACA

Siapa Mau Peduli Sumber Air Tlatar

Saya pelaksana Yayasan Pengembangan Akhlaq Mulia yang setiap saat melihat, mengamati perubahan lingkungan khususnya dalam pengelolaan rnanajemen sumber daya air di Tlatar Boyolali. Ada sebagian daerah yang diuntungkan dengan melimpahnya sumber air. Tetapi di lain wilayah sebelah utara, Pemkab Boyolali tidak peduli perubahan.

Saya mengetuk masyarakat Boyolali dan sekitarnya mengenai makin memprihatinkan keadaan mata air Tlatar secara ekologi. Eksploitasi oleh PDAM Boyolali makin menjadi-jadi baik dengan pipanisasi atau menggunakan tangki.

Eksploitasi perusahaan air isi ulang dari Solo dengan mengam/bil nama besar air Tlatar dan eksploitasi penjual jasa air yang mencapai 100 tangki/hari tanpa didukung peraturan dan kontribusinya. Eksploitasi oleh Pemkab dan swasta lain semata-mata melihat air Tlatar sebagai berkah Illahi yang bisa dijual.

Saya pernah menawarkan kerja sama untuk membuat draf SK Bupati yang mengatur prosedur pengambilan air di Tlatar, sehingga setiap mobil tangki yang mengambil air baik dilakukan Pemkab atau swasta dikenakan retribusi.

Uang retribusi dikelola secara transparan untuk penghijauan daerah catchment area. Namun eksekutif, Diparda dan Bapedal tetap jalan di tempat meski eksploitasi air terus dilakukan. Saya berharap Pemkab dan masyarakat menjadi peduli.

Subardi

Kentingan Rt 10/Rw 3 Mudal, Boyolali

***

Fatimah Azzahra Berangkat ke India

Fatimah Azzahra, siswa SD Muhammadiyah 17 akan mengikuti India Elementary Mathematics Internasional Contest (IEMIC) 2004 yang diselenggarakan di kota Lucknow, India pada tanggal 8 September s.d 11 September 2004. Dia merupakan salah seorang siswa yang lolos seleksi matematika tingkat nasional di Jakarta beberapa waktu lalu.

Berita di media massa menyatakan Fatimah terancam gagal ke India karena Muhammadiyah Kota Semarang tidak punya dana, sama sekali tidak benar. Keberangkatan ke India dibiayai penuh oleh Depdiknas karena keikutsertaannya mewakili Indonesia, bukan Muhammadiyah.

Semula keberangkatannya akan didampingi seorang guru dan kedua orang tuanya. Untuk pendamping inilah Muhammadiyah berusaha mencarikan dana. Ternyata ada informasi peserta tidak boleh didampingi siapa pun karena Depdiknas menyediakan pendamping.

Selain itu selama di India para peserta dikarantina dan tidak boleh bertemu dengan siapa pun kecuali pendamping resminya. Seandainya keberangkatan Fatimah tidak ditanggung pemerintah, maka Muhammadiyah sanggup membiayai. Demikian penjelasan resmi PD Muhammadiyah Kota Semarang.

H Harminto Agustono

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Semarang

***

Kelebihan Muatan...

Truk yang terguling di depan Pasar Jatingaleh Semarang beberapa waktu lalu ternyata juga karena kelebihan muatan. Berarti ini satu pelajaran lagi yang harus segera disikapi oleh aparat penegak ketertiban muatan angkutan (DLLAJR).

Saya berharap tidak ada lagi alasan bahwa kelebihan muatan tersebut berasal dari luar daerah. Itu alasan yang basi dan kuno. Anak kecil juga tahu. Truk pasir yang sering lewat di depan mata adalah dari daerah Magelang atau Muntilan, bukan daerah lain termasuk yang terguling juga dari Raja Besi Semarang, bukan daerah lain.

Saya kira bila kepala DLLAJR berani bertindak tegas seperti Bapak Kapolda memberantas togel, saya yakin pasti bisa. Namun adakah niat itu di hati para pemimpin di DLLAJR Jateng?. Persoalan sesungguhnya hanya terletak pada ''niat''. Jika niat ada ditambah keberanian berkorban mengalahkan individu demi kepentingan yang lebih besar bagi rakyat, pasti berhasil.

Namun bila masih terdapat keinginan untuk mendahulukan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum, hasilnya tentu akan berbeda. Haruskah menunggu penggantian pejabat dulu untuk melakukan sebuah perubahan?

Saya mohon Bapak Gubernur mendukung langkah Bapak Kapolda dengan menggerakkan seluruh jajaran pejabat tingkat I segera menertibkan instansinya masing-masing. Namun sayangnya sampai detik ini saya melihat hanya Pak Kapolda sendiri saja yang berani, yang lain masih mikir-mikir... (untung ruginya)... kasihan deh Bapak Kapolda.

Daryoso

Jl Tusam, Semarang

***

Nilai Ujian Saya

Tanggal 11 Agustus 2004 sekitar pukul 12.30 WIB saya menelepon Bapak koordinator pengampu mata kuliah Fisika Dasar dari Fakultas MIPA Undip untuk menanyakan rincian nilai saya yang E/gagal). Bapak dosen menjawab: "Memangnya kenapa kalau nilai E, silakan mengulang semester depan".

Jawaban itu di luar dugaan apalagi saya hanya ingin meminta kejelasan dan rincian karena nilai tersebut jauh di luar perkiraan. Ditambah lagi Bapak dosen mengira saya tidak aktif kuliah karena berstatus perbaikan. Saya tegaskan hal itu tidak benar, saya tetap punya motivasi kuat mengikuti perkuliahannya.

Semula saya berharap nilai mata kuliah Fisika saya yang sebelumnya B (cukup baik) bisa menjadi lebih baik lagi. Beberapa hari kemudian saya ke kampus dan terpampang selembar pengumuman (tanpa pengesahan dan identitas yang mengumumkan) tentang rincian nilai saya.

Dari ketiga dosen pengampu mata kuliah Fisika Dasar, yaitu Bu Ayu memberi nilai 40, Pak Azam 55 dan Bapak Nasio 47,5 dengan Nilai Akhir E (gagal). Akhirnya saya tidak berminat lagi menanyakan nilai tersebut. Saya bertanya-tanya apakah memang demikian standar pelayanan dosen terhadap mahasiswanya?

Buku Pedoman Undip 1999-2000 di halaman 82 memmuat tentang sistem penilaian, tercantum butir (d) yang menyatakan: "Nilai hasil ujian diumurnkan secara terbuka...." Pemahaman saya berarti saya berhak mengetahui secara jelas dan mempertanyakan rincian nilai tersebut.

Imran Sakwan H

Jl Timoho Raya 276 Bulusan Semarang

***

Matur Nuwun Kapolda

Sebagai warga Kabupaten Kendal, merupakan impian bagi saya untuk terciptanya wilayah yang ''Beribadat'' (Bersih, Indah, Barokah, Damai, Aman dan Tertib). Tentu saja hal ini tidak akan dapat tercipta dengan mudah seperti membalik telapak tangan. Dibutuhkan banyak keberanian untuk bersikap.

Setidaknya sikap yang diambil Kapoda Jateng selaku salah satu pimpinan lembaga Law enforcement di Jateng dalam upaya memberantas penyakit masyarakat (pekat) khususnya togel dapat menjadi contoh nyata. Sekaligus awal bagi setiap pribadi atau lembaga di Jateng umumnya dan Kendal khususnya untuk dapat lebih berperan nyata.

Banyak kepentingan terkait sehingga tidak mudah memberantas togel, namun selama masih ada good will dari setiap pelaku untuk menciptakan wilayah yang "sehat", bukanlah hal yang tidak mungkin. Selanjutnya sebagai orang Jawa, sebuah ucapan yang pantas bagi yang berani memulai dan sebagai bentuk penghargaan adalah matur nuwun.

Semoga keberanian yang muncul bukan hanya formalitas namun berdasar kesadaran dan diikuti tindakan nyata semua komponen masyarakat untuk mewujudkan. Semoga setiap langkah kita akan tercatat sebagai ibadah manakala memang meniatkannya.

Massa SIP

Jl Masjid 113, Kendal


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA