| Kamis, 02 September 2004 | WACANA |
TAJUK RENCANAAgar PON Tidak Sekadar Jadi Seremoni- Di masa lalu, PON adalah "segala-galanya" bagi para pelaku olahraga nasional, seperti para atlet dunia memberi apresiasi terhadap Olimpiade. Di ajang multievent tersebut tergabung unsur-unsur puncak prestasi nasional, kebanggaan sebagai wakil daerah, sekaligus promosi untuk menjadi atlet nasional. PON juga ditunggu dengan gaungnya yang luar biasa. Apalagi hingga dekade 1980-an, akses informasi global terhadap kompetisi-kompetisi olahraga belum merupakan tren mediatika, sehingga publikasi PON masih mendapat tempat yang utama. Maka kita tentu merasakan gaung dan getar yang berbeda kalau membandingkan spirit masa lalu itu dengan PON XVI di Palembang, Sumatera Selatan yang hari ini akan dibuka di Stadion Gelora Siriwijaya Jakabaring. - PON XVI merupakan yang pertama di luar Jawa sejak Makassar 1957, dan kebetulan digelar menyusul penutupan Olimpiade Athena. Memang tidak ada relevansi langsung. Namun bagaimana dengan fakta olahraga Indonesia telah masuk menjadi "komunitas Olimpiade" sejak Barcelona 1992? Bagaimana pula dengan fakta bahwa kita mampu mempertahankan tradisi perolehan medali di Athena 2004, dan para peraih medali itu pun kini akan tampil membela daerah masing-masing di Palembang? Berarti mata rantai itu tetap harus ada, walaupun dalam kompetisi nomor-nomor terukur di Athena catatan prestasi para atlet kita masih jauh dari standar persaingan elite. Penampilan di Olimpiade belum untuk bersaing, baru sebatas untuk memperbaiki prestasi-prestasi nasional. - Idealnya, PON adalah bagian dari mata rantai atau tahapan menuju Olimpiade. Sejak provinsi-provinsi menggelar Porda, idealnya Indonesia sudah mulai menyeleksi atlet-atletnya yang berbakat. PON menciutkan mereka sebagai seleksi menjadi atlet nasional yang pantas untuk setidak-tidaknya multievent regional Asia Tenggara, SEA Games. Dari SEA Games, terseleksi lagi yang paling layak untuk Asian Games, dan dari arena ini kita punya bayangan Olimpiade. Tahapan ini tidak bersifat mutlak. Artinya, dari arena PON bisa muncul prestasi Asia, bahkan Olimpiade. Di luar bulutangkis dan angkat besi/ angkat berat, sementara ini yang terjadi justru sebaliknya. Penampilan atlet-atlet kita di SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade malah baru memecahkan rekor-rekor nasional. - Hal itu menggambarkan, PON belum benar-benar mentas menuju level dunia. Kalau melihat sejumlah atlet senior masih dibawa sebagai anggota inti kontingen suatu provinsi, bukankah ini mengindikasikan ada yang tidak beres dengan pembinaan olahraga kita? Sikap hanya mengejar kemungkinan pengumpulan medali dalam apresiasi pembinaan di daerah-daerah belum sepenuhnya dapat dikikis, mengingat semua itu terkait dengan harga diri dan kebanggaan daerah. Idealisasi pembinaan dengan memberi peluang lebih besar kepada atlet muda, menjadi urusan nomor dua. Apalagi dengan pembinaan olahraga yang lebih berat berada dalam lingkup penanganan birokrasi pemerintahan daerah, agaknya sulit dihindari dominasi sikap-sikap lamban dalam kultur birokrasi. - Dominasi campur tangan pemerintah daerah, secara kultural masih menentukan. Memang tidak seluruhnya negatif. Dari sisi kepentingan atlet yang terkait dengan iming-iming bonus, misalnya. Karena sadar medali emas merupakan harga diri daerah, rangsangan bonus untuk atlet layak dilihat sebagai bentuk perhatian, dan itu memang pantas sebagai penghargaan atas pengorbanan yang telah diberikan oleh si atlet. Masalahnya, karena kesadaran terhadap harga diri daerah tadi, provinsi-provinsi yang merasa memiliki kekuatan finansial memilih jalan pintas dengan mendatangkan atlet yang sudah jadi, tidak peduli bahwa daerah lain sudah susah-susah membinanya. Lalu lintas kepindahan atlet ini menciptakan proses pembinaan yang memintas secara tidak alamiah. - Melihat fakta-fakta prestasi kita di Olimpiade, dengan mengerucut di dua cabang utama, yakni bulutangkis dan angkat besi, sikap memberi prioritas pembinaan tidak mungkin dihindarkan. Kita belum yakin dalam dua Olimpiade mendatang ada cabang lain yang bisa menyusul prestasi kedua cabang tersebut. PON, idealnya juga membentangkan peta geografis pembinaan. Misalnya provinsi A menjadi basis cabang olahraga X, provinsi B cabang olahraga Y, dan seterusnya. Pada sisi lain, PON harus dipacu agar tidak sekadar menjadi seremoni empat tahunan. Penyelenggaraan yang makin distributif - tidak memusat - diharapkan mampu memacu pertumbuhan olahraga daerah, baik dalam penyebaran fasilitas maupun momentum yang memberi gelora baru pembinaan. |