logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 September 2004 BANYUMAS
Line

Dari Lukisan Miring sampai Pentas Begalan

PAMERAN lukisan di Kota Purwokerto kini sudah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan seniman. Sebulan ini ada dua kali pameran yang melibatkan perupa dari berbagai aliran dan generasi.

''Itu bukti, kehidupan seni di Kota Purwokerto tidak mati. Bahkan terus tumbuh,'' kata Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas, Bambang Set, Selasa (31/8) malam, seusai menutup pameran "Gebyar Lukisan, Batik, dan Foto" di Gedung Kesenian Sutedja Jalan Pemuda, Purwokerto.

Dalam pameran itu dipajang 200 karya batik, foto, dan lukisan. Itulah karya para siswa TK, SD, SMP, SMA, dan para senior. Pelukis senior yang setia unjuk gigi adalah Yokh Hartono dan Cipto Pratomo.

Dalam pemeran pada 29-31 Agustus itu lukisan miring berjudul ''Arkelog in Egypt'', karya Istianah Maryam Jamilah yang akrab dipanggil Mila, mengundang decak kagum para pengunjung dan seminan. ''Imajinasinya bagus dan aneh,'' kata Yokh Hartono. ''Belum pernah ada seniman membuat lukisan miring seperti ini.''

Pelukis muda yang mendapat acungan jempol selama pameran adalah Alisha dan Semeru Kukuh. Lukisan Alisha, siswi SDN 1 Sokanegara, bertajuk ''Begalan'' menjadi acuan peserta lomba lukis pelajar SMP di gedung itu. Juara lomba itu pun meniru motif Alisha ketika menggambar kesenian tradisional.

Semeru, siswa kelas III SDN 2 Sokanegara, menampilkan karya berjudul "Tarian Barong" dan "Banjir". Yokh menuturkan kelas karya Semeru di atas rata-rata pelukis Purwokerto. ''Sulit mencari anak berbakat seperti dia. Lukisannya layak tampil di arena internasional.''

Meski banyak pelukis senior mengikuti pameran, yang jadi pusat perhatian pengunjung justru goresan para pelukis muda. ''Ide mereka orisinal,'' kata Cipto Pratomo, ketua panitia pameran.

Pameran lukis, foto, dan batik yang diadakan Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) itu dibuka Bupati Aris Setiono. ''Kita ingin melihat kemampuan seniman Banyumas. Ternyata luar biasa,'' kata Bambang Set.

Motif tradisional yang ditampilkan Alisha juga jadi perbincangan hangat. ''Bentuk lukisannya sudah jadi, seperti karya sketsa di media massa. Ya, karyanya sudah matang,'' kata Kustomo, seorang pengunjung.

Dia menuturkan Alisha tampaknya menguasai ragam budaya begalan di atas rata-rata, seperti pelukis senior. Lukisan anak-anak SD itu memang menarik. Dia dan anaknya, Dwi Yana Abitya, siswa kelas X SMA 2 Purwokerto, begitu serius dan terkagum-kagum mengamati lukisan Mila, siswi kelas VI SDIT Al Irsyad 1, Purwokerto. ''Ijaminasinya tak terbatas,'' katanya.

Kustomo menyatakan Semeru memiliki kemampuan mengembangkan imajinasi dari hal-hal sepele, seperti banjir dan pentas tradisi. Sesuatu yang sederhana itu diolahnya menjadi luar biasa di atas kanvas.

Bagaimana dengan Mila? ''Dia harus berani bereksperimen lebih dahsyat dalam menuangkan imajinasi. Dia perlu mengamati kesenian tradisional dan kejadian sehari-hari secara detail agar lebih kaya,'' ujarnya.

Yokh pun terkagum-kagum melihat lukisan Mila. Dia menyatakan selama berkecimpung di dunia seni belum pernah melihat pelukis melukis miring.

Pelukis senior Bungsu Mulyono sebaiknya pelukis muda tidak mengekor gurunya. (Khoerudin Islam-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA