logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 September 2004 BANYUMAS
Line

Mutilasi dan Wajah Kita

DALAM perang klasik antara Rama dan Rahwana, adu kesaktian kedua tokoh Ramayana karya Mpu Walmiki itu diwarnai adegan mutilasi. Panah sakti Rama memotong-motong tubuh raksasa sang lawan.

Namun raja angkara murka itu memiliki aji antimutilasi yang disebut Pancasona. Meski sudah tercerai berai, badannya masih mampu menyatu kembali. Gagal memutilasi, dengan bantuan Hanoman akhirnya Rama menjepit Rahwana dengan dua bukit sehingga tak dapat berkutik lagi.

Mutilasi juga mewarnai perang modern di Irak. Pada April 2004 Amerika menutuk aksi mutilasi terhadap jenazah tentaranya yang tewas di Irak. Sementara itu, Harian The Guardian terbitan London edisi Juni 2004 melaporkan tentara Inggris memutilasi tawanan Irak.

Hal yang sama terjadi saat perang Vietnam. Foto seorang sersan Amerika menenteng dua kepala yang dipenggal dari mayat musuh dipublikasikan dalam surat kabar tahun 1967. Jenderal William Westmoreland, Komandan Tentara Amerika di Vietnam, menyatakan tindakan mutilasi terhadap mayat musuh dalam peperangan sekalipun sebagai tindakan tidak manusiawi.

Kasus mutilasi paling aktual terjadi di Purwokerto dalam perang ''antarpreman'' yang dipicu oleh masalah lahan keamanan bus antarprovinsi. Herry Best, yang menjadi korban mutilasi, berniat masuk ke dunia pengamanan bus. Namun ada pihak lain yang tidak menyukainya. Dia tak sekadar dibunuh, tetapi badannya juga dipotong-potong. Kepalanya dibuang di sekitar Telaga Sunyi Baturraden, sedangkan tubuhnya dibuang di sekitar Waduk Mrica Banjarnegara.

Sedang Stress

Dua pandangan berbeda dikemukakan kriminolog asal UI, Adrianus Meliala dan Erlangga Masdiana (2003). Adrianus menyebut mutilasi sebagai kejahatan dengan memotong-motong tubuh korban. Itu dilakukan untuk menghilangkan jejak dari tindak kejahatan tersebut.

Persoalan yang lebih substansial bukan mengapa orang melakukan mutilasi. Namun yang memprihatinkan adalah sikap masyarakat yang memandang kasus mutilasi sebagai kejahatan biasa. Sikap masyarakat seperti itu justru luar biasa.

Erlangga Masdiana melihat peningkatan tindak multilasi berkorelasi dengan kondisi masyarakat yang sakit akibat akibat tekanan ekonomi dan sosial. Hal itu menyebabkan masyarakat mengalami stres ekonomi atau stres sosial.

Kondisi masyarakat kita sedang sakit. Sesuai dengan hasil survei Jaringan Epidemologi Psikiatri Indonesia (1995), 185 dari 1.000 penduduk Indonesia menunjukkan gejala gangguan (sakit) jiwa.

Dalam kasus mutilasi di Purwokerto, Ruslan Abdul Gani, pelaku mutilasi, tak cuma memotong-motong tubuh Herry Best. Dia juga meminum darahnya. Perbuatan itu hanya bisa dilakukan oleh penderita stres berat atau sakit jiwa. Karena itu polisi masih perlu memeriksa kondisi kejiwaan tersangka Gani.

Psikolog Kartini Kartono dalam buku Patologi Sosial (2003) menyebut dua jenis ekspresi penyimpangan perilaku berdasar teori penyakit jiwa. Pertama, psikopat yaitu bentuk kekalutan mental yang ditandai ketiadaan pengorganisasian diri dan pengintegrasian pribadi.

Ciri khas yang melekat adalah ganas dan buas tanpa sebab jelas serta bertindak kriminal. Kedua, defect, yakni individu yang jahat, antisosial, tak memahami dan mengendalikan tingkah laku yang salah, dan jahat.

Pakar kriminologi dari Undip, Dr IS Susanto SH, dalam bukunya Kriminologi (1995) menyatakan selain faktor ekonomi, kelompok atau keluarga merupakan salah satu faktor penyebab kejahatan. Umumnya manusia belajar berperilaku dari keluarga. Barbara Wootton menguji beberapa faktor yang berkait dengan keluarga yang disebutnya twelve criminological hypotheses seperti jumlah keluarga, kedudukan anak, broken home dalam hubungannya dengan kejahatan.

Struktur keluarga Soni dengan tiga anak lelaki yang menjadi tersangka mutilasi sehari-hari hidup dalam suasana keras di terminal. Hal itu, ditambah kekecewaan akibat harta mereka musnah dalam kerusuhan di Ambon, menyebabkan tekanan ekonomi sangat hebat. Menyadari atau tidak mereka menderita sakit jiwa. Bahkan Gani pernah dirawat di bangsal penyakit jiwa RSUD Banyumas. Maka reaksi mereka kepada Herry Best pun sangat keras, ketika sang ayah dipukul sampai jatuh karena menolak memberikan uang kepada Herry.

Bagi Herry, peristiwa itu juga merupakan langkah akhir perjalanan mengarungi dunia yang keras. Adapun sikap Gani yang memutilasi korban mewakili masyarakat Indonesia yang sakit. Bahkan mungkin mewakili wajah kita. (86)

- Didi Wahyu,

Wartawan Suara Merdeka Biro Banyumas.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA