logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 01 September 2004 SALA
Line

Tari Bedaya Parangkusumo Disiapkan Sambut Presiden Megawati

BEDAYA Parangkusumo merupakan tarian yang dapat dijadikan media untuk mengantar puja-puji (doa permohonan kepada Tuhan). Tari ini rencananya pada Rabu (1/9) ini ditampilkan dalam sajian atraksi kesenian menyambut kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri di Stadion Pringgondani Wonogiri.

Dalam pengertian baku tentang khazanah tari Jawa, bedaya merupakan gelar tari yang dibawakan tujuh putri sebagai penggambaran tujuh bidadari yang ngejawantah (mewujud secara lahiriah) dan diiringi kekidungan (tembang) bersama tetabuhan gamelan lokananta.

Nama tari bedaya dalam adat tradisi Keraton Kasunanan Surakarta disesuaikan dengan laras gending yang mengiringinya. Misalnya, Bedaya Ketawang, Bedaya Pangkur, dan Bedaya Lala. Lain halnya dengan tradisi di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Di sana tari bedaya disesuaikan dengan cerita atau kisah yang dibingkainya, seperti Bedaya Bedhah Madiun.

Menurut buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa karya Drs R Hamanto Bratasiswara yang diterbitkan oleh Yayasan Suryasumirat, Jakarta, 2000, tari bedaya telah ada sejak zaman kadewan (sejak masyarakat percaya terhadap keberadaan dewa). Tari bedaya merupakan klangenan (kesukaan) para dewa yang konon digubah oleh para dewa di Suralaya.

Menurut cerita, suatu hari yang ditandai dengan sengkalan (isyarat pertanda penunjuk tahun) Rasaning Tata Kembar (tahun 256), Kaendran kejatuhan mulat (cahaya).

Oleh para dewa, hal itu kemudian disambut dengan melakukan sidikara (puja-puji), yang akhirnya cahaya itu berubah menjadi tujuh putri cantik berbusana indah (bidadari). Kemudian, oleh Sang Hyang Endra mereka diberi nama Dewi Supraba (karena wajahnya elok bercahaya), Dewi Wilutama (bentuk tubuhnya indah), Dewi Rasiki (anggota badannya serasi), Dewi Surendra (penampilannya memikat), Dewi Gagarmayang (sikap dan penampilannya menggiurkan), Dewi Irim-irim (ulah geraknya luwes), dan Dewi Tunjung Biru (wajah dan kulitnya menawan).

Ketujuh dewi tersebut oleh para dewa kemudian diperkenankan untuk menari mengelilingi segaran (taman kolam) di khayangan dilanjutkan dengan ambadhaya (menari berjajar-jajar) di hadapan para dewa dengan diiringi kekidungan (tembang) dan instrumen gamelan lokananta.

Sejak itulah, tarian tujuh bidadari yang berjajar-jajar diiringi tembang dan bunyi gamelan itu disebut sebagai bedaya.

Wanita Cantik

Adapun tari Bedaya Parangkusumo (BP) yang pada hari ini ikut dipentaskan di Stadion Pringgondani Wonogiri menyambut kedatangan Presiden RI Megawati, khusus diciptakan oleh Begug Poernomosidi yang juga Bupati Wonogiri. Namun, penari inti BP adalah sembilan wanita cantik ditambah dua putri emban pembawa kelengkapan sesaji dupa ratus.

Sebagai jenis tari sakral untuk media pengantar puja-puji, tari BP dipentaskan hanya pada waktu-waktu tertentu yang dianggap istimewa.

Sebagaimanan tradisi di Kabupaten Wonogiri, tari BP hanya digelar dalam upacara ritual labuhan di pantai selatan pada bulan Sura. Atau pada event-event khusus yang secara spiritual memerlukan gelar ritual tari BP.

Pagelaran tari BP yang bersifat khusus itu pernah disajikan ketika Bupati Begug menggelar upacara pernikahan putrinya di Pendapa Kabupaten Wonogiri setahun lalu.

Tari BP yang digelarnya itu sebagai media pengantar puja-puji (doa) permohonan agar Tuhan berkenan memberi anugerah daya gaib catur wahyu (empat anugerah), yakni bagyo, mulya, mukti, wibawa (kebahagiaan, kemuliaan, kesejahateraan, dan kewibawaan). (Bambang Pur-80e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA