| Rabu, 01 September 2004 | SALA |
Banyak Tamu Undangan Kecele
KERATON SURAKARTA - Pemindahan lokasi penobatan KGPH Tedjowulan menjadi Paku Buwono XIII dari Sasana Sewaka Keraton Surakarta ke Kottabarat, membuat banyak tamu undangan kecele. Sedari pagi beberapa tamu berpakaian nasional ataupun secara jawi komplit berdatangan ke tempat itu. Namun ketika mendapati di tempat itu tidak ada peristiwa apa pun, mereka terlihat kecewa. Bahkan ada yang sedikit emosi meminta penjelasan berkait dengan undangan penobatan tersebut. Pejabat yang kecele di antaranya Wakil Wali Kota Surakarta J Soeprapto yang selama beberapa jam menunggu di depan Sasana Sewaka. Dia heran lantaran mendapati tempat tersebut sedang dipersiapkan untuk penobatan KGPH Hangabehi pada 10 September mendatang. "Saya tidak akan pulang sebelum tahu akhirnya. Ingin melihat hasil akhirnya bagaimana?" ujarnya dengan bercanda ketika dicegat wartawan, kemarin. Mengenai polemik di Keraton Surakarta, pria yang akrab dipanggil Pak Je itu menyarankan, sebaiknya dimusyawarahkan kembali. Keraton harus mengundang pihak mana pun yang bisa membuat musyawarah itu menemukan titik temu. Sebagai warga Solo, dia tidak ingin mempunyai dua raja dalam satu keraton. "Baik gubernur, wali kota, dan lainnya tidak ingin turut campur dalam permasalahan polemik keraton. Namun saya berharap segera ada penyelesaian," ujarnya. Busana Nasional Rombongan lain yang juga kecewa adalah Paguyuban Trah Ronggowarsito yang seluruh anggotanya mengenakan busana nasional lengkap. Mereka mengaku tidak tahu tempat penobatannya dipindah ke rumah Mooryati Sudibyo di Kottabarat. "Kemarin pukul 17.00 ada pemberitahuan kalau pakaian kejawen diganti busana nasional. Namun tidak ada pemberitahuan tentang pemindahan tempat," ujar seorang di antara rombongan tersebut. Beberapa abdi dalem juga terlihat berdatangan dengan busana kebesarannya. Mereka mengaku mendengar kabar adanya jumenengan di Keraton Surakarta dari radio. Tanpa berpikir panjang, mereka pun mengenakan busana adat dan datang ke Keraton. Beberapa tamu ada yang agak emosi. Mereka mempertanyakan siapa pihak yang bertanggung jawab terhadap undangan tersebut. Jika akan dipindah seharusnya ada pemberitahuan, sebab undangan telah disebarluaskan. "Kalau begini siapa yang bertanggung jawab? Di undangan tidak tertulis panitianya siapa, bisa reservasi di mana. Undangan hanya menyebutkan acara berlangsung di keraton, tetapi sekarang malah dipindah," ujarnya. (won,G18,G19-17i) |