| Rabu, 01 September 2004 | OLAHRAGA |
Atlet Tertua PON XVI Asal Jateng"Seperti Kambing, Bukan Harimau"MESKI garis-garis keriput telah menghiasi sebagian wajahnya, tubuh Hawari (66) masih terlihat tegap dan bugar. Mengenakan topi rimba bermotif doreng kesayangannya, dia gagah duduk di dalam kokpit pesawat glider tipe SGS I-26. Siang itu, Selasa (31/8), Hawari bersiap terbang di landasan pacu Lapangan Terbang Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan, dalam ajang PON XVI. Dengan bantuan sebuah pesawat terbang propeler kecil, pesawat glider yang dikemudikan lelaki sepuh itu pun mengangkasa. Selama berjam-jam dia melayang-layang di udara pada ketinggian sekitar 1.000 meter. Hawari adalah atlet cabang olahraga terbang layang Jateng yang turun di nomor presision landing (ketepatan mendarat) dan single seater. Meski tidak secara resmi dinyatakan dalam buku PB PON, dialah sejatinya atlet tertua yang turut berlaga dalam ajang PON XVI 2004 Sumsel. Hawari mengaku menerjuni olahraga terbang layang sejak awal 1960-an. Saat itu, dia yang berprofesi sebagai guru mengikuti Kursus Aeromodeling dan Pramuka (KAP) selama satu tahun (1961-1962). Pada 19 Juli 1963, suami Sri Chayati (58) itu mendapat kesempatan terbang perdana dengan pesawat glider. Sejak saat itulah Hawari ditunjuk sebagai instruktur aeromodeling TNI Angkatan Udara (AU) di Lapangan Udara Panasan Solo (sekarang Lanud Adisumarmo). Anak didiknya para prajurit TNI AU serta guru-guru SMP di Kota Solo dan sekitarnya. Tak puas dengan itu, dia mengikuti pendidikan terbang layang yang diselenggarakan TNI AU. Tak lama kemudian, lelaki kelahiran Boyolali 7 Juli 1938 itu mendapatkan kehormatan dari TNI AU dengan penganugerahan pangkat pembantu letnan satu (peltu). Tugas Hawari selanjutnya adalah menjadi instruktur terbang layang di Panasan hingga pensiun pada 1991. Prestasi Pengalaman terbangnya sangat banyak. Hawari sudah lupa menghitungnya. Demikian halnya pengalaman bertandingnya dalam PON. Hingga kini telah enam kali pesta olahraga empat tahunan nasional itu dia ikuti. Kali pertama bertanding pada PON VII di Surabaya tahun 1969. Saat itu dia hanya menyabet medali perunggu dari nomor presision landing. Empat tahun kemudian pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta, Hawari berhasil menggondol medali emas nomor free distance flight. Pada PON IX, cabang olahraga terbang layang tidak dipertandingkan. Namun dalam PON-PON selanjutnya, dia tetap berprestasi. Sepanjang keikutsertaannya dalam PON, Hawari telah mengoleksi dua medali emas, tujuh perak, dan dua perunggu. Sementara pada kejuaraan nasional terbang layang yang dia ikuti sejak 1968, hampir selalu mendapat medali emas. Ditanya mengenai resep menjaga kebugaran tubuhnya, lelaki enam cucu itu mengaku rutin berolahraga, utamanya bersepeda dan tenis lapangan. Hampir setiap hari olahraga murah itu dia lakukan. Selain itu, Hawari tidak makan daging, alias vegetarian."Saya ini makannya sayur seperti kambing, bukan seperti harimau," tuturnya beranalogi. Dengan gaya hidup sehat seperti itu, dia mengaku tidak pernah menderita penyakit-penyakit orang tua, seperti darah tinggi, gula dan sejenisnya. Bahkan pada usianya yang merembang petang itu, giginya masih utuh seratus persen. "Lihat mas, gigi saya belum ada yang ompong," ujar Hawari sembari menyeringai, memamerkan deretan kokoh gigi-giginya.(Rukardi-77) |