| Rabu, 01 September 2004 | SEMARANG |
''Klub Gatal'' di Saluran Ngeres (2)Tak Puas via Telepon, Tante Bisa ''Dikopi Darat''BELUM habis rayuan dari ''Tante Montok'' dan cewek siap saji, simak yang satu ini. ''Menu hari ini adalah gadis genit, janda kesepian, dan tante nakal. Dikemas dalam menu siap saji dan memuaskan, sampai kamu lemas. Mana tahan, nda!'' Maka, tak jarang banyak caller yang tak ambil peduli bila akhirnya, tagihan telepon di rumah dalam sebulan membengkak melebihi kewajaran. Sebab, lewat fantasi di saluran premium call itu tarifnya Rp 3.420/menit. Padahal, sekali masuk saluran itu, cewek operator akan habis-habisan untuk menjerat caller berlama-lama mendengar desahan mengundang birahi. Karena, tumbuhnya imajinasi dalam pikiran itulah yang menjadi salah satu daya pikat bagi layanan tersebut. Para mania seks lewat saluran telepon itu cenderung menjadi ''penjahat'' telepon, karena mereka tak mau peduli dampaknya. Tidak hanya telepon rumah, telepon kantor pun menjadi sasaran untuk melampiaskan keisengan ngeseks lewat saluran telepon. Tentu saja, yang paling diuntungkan adalah operator dan penyalur jasa saluran telepon. Robert (bukan nama sebenarnya-Red), seorang salah satu penggemar telepon seks menceritakan pengalamannya. Dia mengaku sering menghubungi layanan seks melalui telepon kantor. Bujangan yang bekerja pada sebuah perusahaan swasta di Jalan Imam Bonjol itu, menyatakan mulanya sekadar iseng. ''Sekadar mengisi waktu kosong. Daripada bete, saya coba-coba cari teman lewat telepon seks yang ditampilkan di sebuah media lokal. Bagi saya sangat menghibur,'' katanya, sembari menjelaskan ia melakukannya di sela-sela kerja lembur. Soal istilah bete itu pun, bisa menjadi pembuka pembicaraan. Dia mengisahkan, si cewek operator pernah menyebutkan kalau bete itu birahi tinggi, butuh teman, atau istilah lain yang sangat jorok. Setelah beberapa kali menggunakan layanan itu muncul keinginannya untuk mem-booking perempuan operator. Dia menyebut kencan itu dengan kopi darat. Penawarannya pun bak gayung bersambut. Beberapa nama wanita di seberang menyatakan OK. Keyakinannya, makin bertambah setelah dia memperoleh sejumlah nomor telepon seluler ''si tante montok'' atau ''mbak Diah yang lagi pingin''. Dia pun mengontak beberapa nomor ponsel. Namun, dari tiga nomor yang diberikan ternyata hanya satu perempuan yang nomornya berhasil dihubungi. Ternyata, si cewek yang mengaku bernama Rachel itu berada di Jakarta. Bila wanita itu dikehendaki datang ke kota lain, misalnya Semarang, tarifnya Rp 1.000.000 untuk short time. Agar lebih murah, pelayan telepon seks memintanya datang ke Jakarta, dan berkencan di sebuah hotel kawasan Senayan. Tarifnya separuh lebih rendah sebesar Rp 500.000 short time. ''Tentu saja kalau dia mau ke Semarang biayanya jauh lebih besar, saya harus menyediakan cukup uang untuk booking di hotel. Belum lagi biaya PP.'' Diakui dia, tidak semua perkerja telepon seks bisa di-booking. Alasannya, ada yang mengaku masih sekolah, kuliah, atau sudah bersuami. Ada pula yang sejatinya perempuan baik-baik. ''Tetapi itu juga masih punya peluang. Asal kami telah menjadi pelanggan lama, mereka biasanya mau dibooking,'' jelasnya. Sama dengan Robert, Johny (bukan nama sebenarnya), pegawai perusahaan ekspor-impor di Semarang, mengaku menggunakan layanan tersebut sekadar mengusir sepi. Justru yang menarik dari telepon seks itu adalah pancingan suara wanita yang membangkitkan hasrat seksual. Laki-laki berusia 40 tahunan itu mengakui, wanita tersebut sangat lihai memancing pembicaraan. Mulanya hanya pertanyaan sederhana yang menyangkut masalah nama, hobi, pekerjaan, atau tempat tinggal. Sepertinya, ada teknis khusus agar penelepon tidak segera mengakhiri pembicaraan. Hingga sedikit demi sedikit, pembicaraan mulai memasuki hal-hal yang nyerempet-nyerempet, sampai yang paling panas. ''Ada juga mbak-mbak di seberang yang langsung tembak ukuran 'cucak rawa'. Juga cerita tentang hutan yang lebat gunung yang tinggi menjulang. Gila nggak sih,'' ujarnya dengan mata berbinar-binar. (Karyadi, Hernandhono, Agus Toto W-84b) |