logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 01 September 2004 KEDU & DIY
Line

Pergeseran Budaya Urban ke Pesisir Selatan

RENCANA pemerintah menggelindingkan megaproyek peningkatan jalan selatan-selatan menjadi 24 meter bakal membawa implikasi besar pada sosiokultural dan ekonomi masyarakat. Di satu sisi, proyek itu akan mempunyai manfaat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat pesisir selatan.

Yang perlu diantisipasi adalah bakal memudahkan proses ekologi, yakni proses yang mempunyai gejala-gejala sebagai berikut. Pertama, perubahan lingkup dan luas wilayah kota. Kedua, perubahan pola hubungan antarmanusia. Ketiga, perubahan fokus terhadap posisi geografi individu ataupun kelompok.

Apabila pembangunan jalan tersebut sudah jadi, secara fisik teritorial Kota Kebumen dan sekitarnya akan berkembang. Bukan lagi hanya di wilayah tengah (Kecamatan Prembun, Kutowinangun, Kebumen, Pejagoan, Karanganyar, dan Gombong), melainkan akan menyebar ke wilayah kecamatan di bagian selatan seperti Kecamatan Mirit, Ambal, Klirong, Petanahan, Puring, dan Ayah. Hubungan antarwarga masyarakat Purworejo, Cilacap, bahkan Yogyakarta dan Jabar dengan masyarakat Kebumen akan semakin intensif sehingga akan terjadi pergeseran nilai-nilai. Pola hubungan antarindividu juga akan berubah, termasuk perubahan-perubahan lain.

Secara teoritis, pembangunan peningkatan jalan selatan-selatan menjadi empat jalur bagi masyarakat Kebumen jelas ada manfaatnya. Namun sampai pada tataran yang bagaimana manfaat itu bisa dinikmati secara nyata oleh masyarakat? Inilah rasanya yang masih remang-remang.

Sebab bagaimanapun, masyarakat Kebumen di pesisir selatan dilihat dari sisi sumber daya manusia (SDM) tampak belum siap untuk berkompetisi dalam kehidupan perekonomian bebas seperti sekarang. Mayoritas masyarakat dan komunitas itu belum memiliki life-skill yang kompetitif.

Seperti diketahui, masyarakat Kebumen di pesisir selatan adalah masyarakat agraris tradisional.

Kebanyakan mereka adalah petani buruh, petani ladang kering yang biaya produksinya tinggi, dengan hasil yang tidak seimbang. Banyak juga di antara mereka yang cara mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya hanya dengan menjadi penyadap nira-kelapa atau tukang nderes (memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira-kelapa (sajeng) yang akan dibuat gula merah.

Dengan kondisi sosial ekonomi demikian itu bisa dikatakan bahwa masyarakat Kebumen di pesisir selatan itu sebenarnya masih dalam kondisi ''sulit hidup''. Bila ada sebuah keluarga membangun rumah senilai Rp 15 juta ke atas, hampir pasti dana yang dipakai untuk membangun rumah itu berasal dari hasil jual ladang atau pekarangan. Kalau tidak, berarti uang itu berasal dari hasil kerja di luar negeri atau menjadi TKI.

Hidup ''Menduda''

Di wilayah pesisir selatan sekarang banyak sekali bapak-bapak yang hidup ''menduda'' karena ditinggal istrinya bekerja di luar negeri dengan satu tujuan meningkatkan taraf hidup yang memang masih terseok-seok. Ada satu fenomena menarik di pesisir selatan sekarang, yaitu terjadinya kekagetan budaya (cultural shock) bagi para pemuda di wilayah pesisir selatan. Pada mulanya para pemuda itu memiliki pola kerja seperti bapaknya, yaitu ngarit (mencari rumput untuk pakan sapi/kambing piaraannya). Begitu ibu mereka yang menjadi TKW di luar negeri mengirim uang untuk membangun rumah dan perbaikan kehidupan serta gengsi keluarga mereka, biasanya ada satu barang yang wajib dibeli, yaitu sepeda motor.

Berawal dari kehidupan mereka yang biasanya merumput kemudian sekarang mempunyai sepeda motor dan pegang uang hasil kiriman ibunya dari luar negeri, para pemuda itu merasa naik gengsinya. Ia merasa tidak pas lagi bekerja seperti bapakanya yang masih merumput dan kerja kasar yang lain. Mereka kemudian setiap hari mondar-mandir, ngalor-ngidul naik sepeda motor. Sikap mental dan perilaku demikian tentu tidak menguntungkan bagi sebuah keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pencerahan sikap mental agar para pemuda itu bisa dan mau bekerja sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat tempat mereka tinggal.

Di samping itu, tipologi masyarakat pesisir selatan itu memiliki kultur dan perilaku yang temperamental dan keras. Hal ini dapat dibuktikan dengan sering terjadinya kekerasan antarwarga. Tawuran masal dan perkelahian antarkelompok massa bukan hal yang aneh lagi. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi rencana pembangunan peningkatan jalan selatan-selatan tersebut, pembuat kebijakan harus benar-benar melakukan studi kelayakan dan rekayasa sosial yang terencana dengan baik (well-planed). Artinya, pembuat kebijakan, dalam hal ini pihak Pemerintah Kabupaten Kebumen, jangan hanya memikirkan hal-hal yang bersifat intrastruktur fisik saja. Yang paling utama untuk dilaksanakan oleh Pemkab adalah membangun dan memperbanyak infrastruktur ekonomi.

Pembangunan pasar, pabrik, usaha nelayan, dan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang bisa menyerap tenaga kerja yang banyak adalah sebuah keniscayaan dan tidak boleh diabaikan. Tanpa pembangunan dan pengembangan infrastruktur ekonomi di wilayah pesisir selatan, saya yakin, lambat atau cepat akan muncul problema-problema sosial yang serius.

Oleh karena itu, pemerintah, khususnya Pemkab Kebumen, harus berusaha secara maksimal mulai sekarang mendidik masyarakat di pesisir selatan untuk memiliki jiwa dan semangat wirausaha dan menguasai keterampilan-keterampilan hidup sesuai dengan tuntutan dunia kerja.

Apabila kepentingan-kepentingan ekonomi masyarakat tak terakomodasi dan mereka tidak dibekali keterampilan wirausaha serta keterampilan hidup life-skill yang lain, paling banter, mereka hanya akan bisa jual bensin eceran kaki lima dan warung-warung kecil. (76n)

- Drs Moh. Dawamudin Masdar MAg, dosen Stainu dan Kepala MTs N 1 Kebumen.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA