| Rabu, 01 September 2004 | KEDU & DIY |
Dukung SBY, Jam Kerja DikurangiPURWOREJO- Seorang guru sebuah SMK di Purworejo, Suprapto Efendi SPd, merasa diperlakukan tidak adil di tempat kerjanya. Jam mengajar dia yang semula 43 jam/minggu dipangkas menjadi 23 jam/minggu. Menurut perkiraan Suprapto, pemangkasan jam mengajar itu karena dia aktif sebagai tim sukses calon presiden SBY-Kalla. Dengan pengurangan itu, berarti gaji dia juga berkurang. ''Padahal tahun ini standar gaji di tempat kerja saya dinaikkan,'' kata Suprapto, kemarin. Dugaan pengurangan jam mengajar karena aktif sebagai pendukung SBY, menurut perkiraan Suprapto karena sekolah tersebut mendukung salah satu calon presiden yang tidak ikut di pilpres putaran kedua. Walau calon presiden yang didukung sudah kalah, kata Suprapto, tetapi jajaran SMK di tempat kerjanya masih fanatik. ''Tempat kerja saya sangat kental mendukung salah satu calon presiden. Walau kalah tetapi mereka fanatik,'' ujar sekretaris tim sukses SBY-MJK itu. Yang membuat dia heran, karena pengurangan jam kerja itu tanpa pemberitahuan sama sekali. ''Jam mengajar saya dikurangi drastis tanpa kompromi terlebih dahulu. Otomatis penghasilan saya berkurang drastis. Mungkin itu salah satu risiko yang harus saya hadapi sebagai pendukung SBY,'' tuturnya. Kepala SMK tersebut tidak berhasil diminta konfirmasinya, karena sedang rapat dengan pengurus yayasan. Sekitar pukul 14.00 Suprapto menelepon kantor perwakilan Suara Merdeka, dan memberitahukan dia baru saja ditelepon pengurus yayasan. Intinya pengurus yayasan di tempat kerjanya melarang dia memperpanjang masalah itu. Di sisi lain, walau di sekolahnya mendapat perlakuan tidak adil, ada pihak-pihak yang mengabarkan Suprapto pindah ke tim sukses Mega-Hasyim. Alasan penyebaran kabar tersebut, kata Suprapto, karena akhir-akhir ini dia jarang ke sekretariat tim sukses SBY-Kalla. Sebaliknya, mungkin karena dia sering terlihat bersama beberapa personel tim Mega-Hasyim. Lalu ada yang menerka-nerka dia masuk tim Mega-Hasyim. Dia beralasan, kedekatan berteman dan sering bersama dengan anggota tim Mega-Hasyim itu wajar. Bahkan, itu merupakan wujud kedewasaan berdemokrasi dan politik. Juga agar tercipta situasi yang kondusif, tenang, aman, dan damai. ''Bagi saya kanca tetap kanca, sedulur tetap sedulur. Masalah pilihan tergantung hati nurani masing-masing,'' imbuhnya. Dia menegaskan, sebenarnya dia masih aktif melakukan kegiatan sosialisasi SBY-Kalla secara door to door kepada masyarakat dan akar rumput. Kecuali itu, berkonsentrasi pada keluarga dan pekerjaan sebagai guru SMK. (yon-76b) |