| Rabu, 01 September 2004 | INTERNASIONAL |
Militan Irak Eksekusi 12 Sandera NepalDUBAI - Sebuah kelompok militan Irak mengklaim telah mengeksekusi 12 sandera Nepal. Kelompok itu pun menunjukkan gambar-gambar pembantaian tersebut lewat sebuah situs internet, Selasa kemarin. ''Kami telah melaksanakan hukuman Tuhan terhadap 12 warga Nepal yang datang dari negara mereka ke sini untuk memerangi kaum muslim,'' bunyi pernyataan sayap militer Tentara Ansar al-Sunna. Kelompok itu memperlihatkan sejumlah gambar yang menunjukkan dua orang bertopeng dan seorang berseragam loreng, sedang menekan kepala seorang sandera. Salah seorang pria bertopeng tersebut kemudian terlihat menggorok leher sandera, dan mengangkat tinggi-tinggi kepala korban yang telah putus dari leher. Gambar-gambar lain menunjukkan beberapa sandera tertelungkup, dengan luka-luka bekas peluru di punggung mereka. Pernyataan kelompok tersebut disampaikan melalui rekaman video. Para warga Nepal itu disandera awal bulan ini, ketika mereka datang ke Irak untuk bekerja sebagai juru masak dan petugas kebersihan pada sebuah perusahaan Yordania. Kelompok Ansar al-Sunna mengatakan telah menculik mereka, karena warga Nepal tersebut bekerja sama dengan pasukan pendudukan AS. Kaum militan melakukan kampanye penculikan di Irak, yang bertujuan mengusir perusahaan, individu, atau pasukan yang mendukung tentara Amerika dan Pemerintah Sementara Irak. Sadr Ikut Politik Sementara itu, ulama militan Moqtada al-Sadr dikabarkan memutuskan untuk mengajukan para kandidat dalam pemilu pertama Irak. Dia mengkampanyekan platform yang menyerukan penarikan pasukan AS. Langkah politik Sadr tersebut dilakukan, setelah dia beralih dari sikap oposisi yang keras terhadap kehadiran tentara AS, kata pembantu dekatnya, Selasa kemarin. Pengumuman langkah politik tersebut dikeluarkan, setelah para Sadr mengatakan Senin lalu bahwa ulama muda itu telah memerintahkan milisi Tentara Mahdi untuk mengakhiri serangan terhadap pasukan AS dan Pemerintah Sementara Irak. Sadr akan segera mengungkapkan rencana untuk mencapai tujuannya melalui jalan politik, bukan konflik. Langkah tersebut merupakan titik balik dari taktik ulama Syiah tersebut. Ucapannya, bahwa ''tak ada demokrasi di bawah tentara pendudukan'', telah meraih dukungan di kalangan ulama nasionalis dan generasi miskin Syiah. Kedua kalangan Syiah tersebut tetap tidak percaya pada sistem politik Irak, sejak Presiden Saddam Hussein digulingkan oleh invasi AS, April lalu. Muslim Syiah merupakan mayoritas di Irak. ''Program politik selengkapnya akan segera diungkapkan. Gerakan Sadr punya elemen-elemen akademis dan pakar yang berada di garis depan, dan mendukung perannya di Irak yang bebas, independen, dan demokratis,'' kata Ali al-Yassiri, pembantu Sadr. Gerakan Syuhada Al-Sadr, yang namanya mirip dengan mendiang ayah dan paman Al-Sadr yang tewas setelah melawan Saddam, akan berubah menjadi mesin politik yang lebih efisien pada pemilu Januari mendatang dan tidak lagi menyerang pasukan Amerika, katanya. ''Langkah yang akan dia ambil secara politik adalah penarikan mundur pasukan pendudukan AS secepat mungkin,'' kata Yassiri. Di Irak terdapat sekitar 140.000 pasukan Amerika. Ayatollah Ali al-Sistani, ulama Syiah kelahiran Iran yang paling berpengaruh di Irak, mendesak al-Sadr untuk mendukung pemilu sebagai bagian dari suatu kesepakatan, pekan lalu. Kesepakatan tersebut telah mengakhiri perlawanan al-Sadr dan para pengikutnya selama tiga pekan di Najaf, pusat ajaran Syiah. Ratusan warga Irak tewas dalam perlawanan tersebut.(rtr-ben-30) |