logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 SALA
Line

Masyarakat Ikut Biayai Jaringan Telepon

KLATEN - Saat ekspos di hadapan anggota DPRD Klaten beberapa waktu lalu, PT Telkom Tbk Wilayah Jateng/DIY menginformasikan daftar tunggu sambungan telepon di daerah tersebut mencapai ribuan. Jumlah itu semakin bertambah dari waktu ke waktu.

Meski demikian, ratusan konsumen di Desa Danguran dan Desa Glodokan, Kecamatan Klaten Selatan, tidak perlu antre untuk mendapatkan sambungan baru dari Telkom. Pelayanannya pun bisa disebut memuaskan, sebab dilakukan dari pintu ke pintu.

Tentu saja semua kemudahan itu tidak gratis. Calon pelanggan harus mengeluarkan biaya Rp 1,6 juta lebih untuk satu nomor sambungan baru.

Jumlah itu jauh lebih mahal dari biaya resmi sambungan baru, yakni Rp 200 ribu untuk rumah tangga dan Rp 300 ribu untuk bisnis ditambah pajak pertambahan nilai (PPN) 10% dan biaya instalasi kabel rumah (IKR).

Meskipun mahal, ternyata 180 nomor baru yang ditawarkan Telkom habis dibeli calon pelanggan telepon kabel. Adapun, pembayarannya bisa dilakukan dengan dicicil dua kali.

Urip dan H Abu Amar, warga Perumahan Puri Hutama, Danguran, mengaku didatangi seorang tetangga yang menginformasikan akan ada sambungan telepon kabel di perumahan mereka pada Juni 2004. Semula mereka ragu, apalagi harga yang ditawarkan cukup mahal, yakni Rp 1,6 juta.

Biaya itu meliputi biaya pembuatan jaringan Rp 1,4 juta dan biaya sambungan baru Rp 200 ribu. Namun karena merasa butuh, mereka pun setuju memasang sambungan dengan biaya Rp 700 ribu sebagai tanda jadi.

IKR lalu dipasang di rumah. Karena itu, pelanggan diharuskan membayar lagi Rp 700 ribu paling lambat pada 27 Agustus 2004. Direncanakan, 31 Agustus sudah kring.

Ada warga yang mengeluhkan tinggi biaya yang harus dibayar. Padahal, operator-operator telepon GSM sedang ramai memberikan tarif murah kepada pelanggannya. Seharusnya, Telkom selaku perusahaan milik negara lebih mengedepankan pelayanan kepada masyarakat.

Partisipasi

Soal kemahalan biaya pasang baru telepon dari Telkom, Wahyudi, Manajer Kantor Cabang PT Telkom Tbk Klaten, mengatakan, saat ini Telkom tidak membuat jaringan telepon kabel baru.

Fokus bisnis Telkom saat ini telepon tanpa kabel, atau disebut dengan Flexi yang berbasis CDMA.

''Jadi, kalaupun ada pembangunan jaringan baru telepon kabel, itu karena Telkom mengajak pelanggan ikut berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan jaringan. Karena itu, biaya yang harus ditanggung calon pelanggan pun tidak sama,'' ujar Wahyudi.

Soal biaya Rp 1,6 juta yang dibebankan kepada pelanggan di Danguran dan Glodokan, Wahyudi mengaku tidak tahu-menahu perincian perhitungannya. Sebab, soal itu seharusnya telah dimusyawarahkan antara calon pelanggan dan Koperasi Pegawai PT Telkom Indonesia (Kopegtel) Klaten selaku pelaksana lapangan.

Beberapa waktu lalu, pelanggan di Perumahan Griya Prima di Desa Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, harus membayar antara Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta untuk mendapatkan sambungan telepon kabel.

Sama seperti di Belangwetan, calon pelanggan di Danguran dan Glodokan mengaku tidak pernah diajak musyawarah, tetapi langsung disodori edaran biaya pembayaran. (F5-49i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA