| Selasa, 31 Agustus 2004 | SALA |
Penduduk Terserang Gatal-gatal
BOYOLALI - Kekeringan di berbagai desa di Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, mencapai puncaknya. Karena itu, ratusan penduduk dilaporkan mulai membeli air bersih dengan harga cukup tinggi. Ironisnya, hingga kemarin pemerintah belum memberikan bantuan air bersih. Padahal, kekeringan juga mengakibatkan puluhan ternak sapi kekurangan air . Sebagian peternak tidak mampu membeli air bersih karena harganya terlalu mahal. Apalagi, penjualan susu tidak seimbang dengan biaya pemeliharaan. Kekurangan air bersih juga dirasakan sebagian warga kota Boyolali sehingga ada yang mulai membeli air bersih. Keterangan yang dihimpun menyebutkan, kekurangan air bersih juga menimbulkan penyakit gatal-gatal. Keluhan itu sudah mulai muncul dari beberapa warga di Kecamatan Musuk. Sebagian warga melaporkan mulai merasakan gatal-gatal di tubuh dan lengan. ''Bagaimana tidak gatal kalau mandi hanya satu kali sehari,'' kata Sudi, warga Desa Linginlarik. Hal senada juga dikemukakan beberapa warga Desa Musuk. Mereka mengungkapkan kemunculan penyakit gatal-gatal biasanya terjadi saat kemarau mencapai puncaknya. Akhir bulan ini warga semakin sulit mendapatkan air bersih. Mereka pun harus berhemat air. Namun itu berdampaknya pada badan yang menjadi gatal-gatal dan kondisi tubuh kurang enak. Karena itu warga pun mengharapkan pemerintah segera mengedrop air bersih. Kekeringan di Kota Menurut penuturan warga, harga air bersih yang dijual dengan mobil tangki, cukup mahal. Harga setiap tangki dengan kapasitas 5.000 liter bisa mencapai Rp 75.000-Rp 80.000. Biasanya untuk membeli air satu tangki, warga patungan sehingga setiap orang dibebani Rp 10.000. Air bersih tersebut kemudian diutamakan untuk memasak dan minum. Untuk sapi perah, idealnya setiap satu ekor 40 liter/ hari. Namun dalam kondisi sekarang, sebagian peternak hanya mampu menyediakan 20 liter. Kalau harus menyediakan 40 liter, mereka akan rugi. Lebih-lebih kalau mereka hanya memiliki tiga ekor sapi dengan produksi susu 5 liter/ekor. ''Lebih baik kami memberikan 20 liter/hari, sedangkan kekuranganya diberikan dari air pada gedebog pisang,'' kata salah seorang peternak. Kekurangan air bersih di kota Boyolali, menurut Harjan, salah seorang konsumen, juga sudah mulai terasakan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terkadang mesti mengangsu di Umbul Tlatar, Desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali. Namun ada kalanya warga membeli air melalui mobil tangki. Kabag Sosial, Drs Mulyono, saat dimintai konfirmasi mengatakan, pekan ini pihaknya mulai mengedrop air bersih ke semua desa Kecamatan Musuk. Jadwal pengedropan air bersih sudah dibuat, tinggal berkoordinasi dengan PDAM. Anggaran untuk pengedropan air bersih dari APBD sekitar Rp 22 juta, ditambah bantuan dari Gubernur 25 juta. Berdasarkan data, setidaknya ada 33 desa di lima kecamatan yang merupakan daerah rawan kekeringan. (shj-49i) |