| Selasa, 31 Agustus 2004 | SALA |
Ingin Lihat Tia Tilik Kampung, Kaki PatahKEMENANGAN Theodora Meilani Setyawati alias Tia AFI, memang menjadi kebanggaan warga kampungnya, di Lompo Batang, Mojosongo, Jebres, Solo. Karena itu, saat dia pulang tilik kampung, wajar kalau warga berjubel ingin melihat dan bersalaman dengannya. Akibatnya, acara tilik kampung itu pun memakan korban. Adit, anak Ketua RT 02 RW 20 Mojosongo, terjatuh dan kedua kakinya patah saat berdesakan ingin menyaksikan kedatangan Tia yang sudah jadi selebriti itu, di rumahnya. "Anak saya terjatuh, dan kedua kakinya patah. Itu yang kemudian membuat saya menyayangkan pihak penyelenggara. Seandainya pihak Indosiar memberitahukan sebelumnya kepada kami, kalau Tia akan tilik kampung, tentu kami bisa mempersiapkan penyambutan, termasuk keamanannya, sehingga tidak makan korban seperti ini," tandas Kuncono kepada Suara Merdeka. Adit yang berusia 15 tahun itu, memang ikut berdesakan bersama warga lainnya. Dia sangat ingin menyaksikan Tia, dan kalau mungkin bersalaman dengan bintang AFI 2 itu. Begitu mendengar kalau Tia datang, dia langsung lari ke rumah orang tua Tia, di Jl Lompo Batang Utara, yang hanya beberapa puluh meter jaraknya. Sampai di rumah Tia, ternyata sudah banyak warga lain yang berjubel. Namun dia tidak kehilangan akal, dan memilih naik genting agar bisa menyaksikan wajah juara AFI 2 itu. Malang, kayu penyangga genting itu ternyata sudah rapuh, sehingga jebol. Adit pun jatuh ke bawah, dan kedua kakinya patah. "Kemarin pagi dia dioperasi, kedua kakinya digibs," kata ayahnya, Kuncono. Berubah Tia, diakui atau tidak telah jadi selebriti usai memenangi Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 2. Gadis kelahiran 22 tahun silam itu pun bersinar bintangnya, dan menjadi idola baru masyarakat. Dari seorang gadis sederhana yang kemudian menjadi bintang kesohor, tentunya diikuti oleh perubahan status sosial pula. Jamaknya, seseorang yang mengalami loncatan stratifikasi sosial justru bertingkah neko-neko dan berubah perangainya. Namun, hal itu tidak berlaku pada gadis yang masih tercatat sebagai mahasiswi Akademi Keuangan dan Perbankan (AUB) Surakarta tersebut. Tak banyak perubahan yang terjadi pada gadis berwajah manis itu, baik dalam sikap maupun pembawaannya sehari-hari. Tiada kesan glamor dan sok selebriti dalam gaya berpakaian maupun dandanannya. Ia tetaplah Tia, yang setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus tak pernah absen memberi hiburan pada lingkungannya. Setidaknya, kesan itulah yang ditangkap beberapa warga Mojosongo yang tinggal di sekitar rumah pemenang AFI 2 tersebut usai bertemu Tia. "Kami sudah bertemu mbak Tia, dan yang membuat kami salut, tak ada yang berubah padanya," ujar Kuncono. Sejak Sabtu (28/8) lalu, dia sudah berada di Solo. Meski menginap di salah satu hotel di Solo, ia menyempatkan pulang ke rumahnya yang mungil. Kepulangan Tia itu sudah didengar warga RW tersebut sehari sebelumnya, sehingga membuat geger kampung tersebut. Mereka menyiapkan dua buah spanduk besar, salah satunya bertuliskan "Selamat Datang ke Kampung Halaman untuk Tia". Spanduk itu terpasang di dekat Lapangan Lompobatang Mojosongo, dan di depan gang rumah Tia.(Wisnu Kisawa, Evie Kusnindya-17a) |