| Selasa, 31 Agustus 2004 | SALA |
Kawula Keraton Unjuk RasaKERATON SURAKARTA- Sekelompok warga yang mengatasnamakan kawula Keraton Surakarta mengadakan unjuk rasa di depan Pagelaran Keraton Surakarta. Sikap sebagaimana rakyat keraton zaman dulu itu dilakukan karena mereka menyayangkan tindakan para putra-putri keraton dalam menyikapi suksesi kali ini. "Kami sebagai kawula keraton prihatin dengan tindakan para putra-putri dalem dalam menyikapi suksesi. Rasa-rasanya seperti air dan minyak yang tidak pernah bersatu," ujar KRHT Kalinggo Hanggapura, kordinator aksi yang memimpin belasan abdi dalem tersebut, kemarin. Mereka membagi-bagikan selebaran yang isinya mengingatkan para petinggi keraton agar tidak larut dalam perpecahan. Aksi itu dilakukan tidak lebih dari tiga puluh menit. Dimulai sekitar jam 17.30, setengah jam kemudian kelompok kecil abdi dalem itu bubar. Dia menolak anggapan aksi itu dilakukan untuk memihak kepentingan salah satu kelompok putra-putri dalem Paku Buwono XII. "Sebagai kawula alit, kami tidak berani memihak ke salah satu kelompok. Sebab semuanya junjungan kami. Sebenarnya kami tidak ingin cawe-cawe dalam suksesi. Namun lama-lama rasanya kok semakin tidak jelas, sehingga kami sepakat melakukan aksi pepe (berjemur-Red) ini agar didengar beliau-beliau," katanya. Selain menyampaikan rasa keprihatinan, kelompok itu juga menyampaikan solusi untuk memecahkan kemelut suksesi tersebut. Kalinggo menyebutkan solusi yang disodorkan kepada pihak Keraton Surakarta. Solusi itu yaitu pertama pengukuhan raja dari putra tertua yang sudah bergelar nama Purubaya, Mangkubumi atau Hangabehi yang sebelumnya sudah bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Anom (KGPAAA) Hamangkunagoro Sudibyo Raja Putra Narendro Ging Mataram. Sehari setelah penobatan raja, raja mengangkat salah satu saudaranya (adiknya) menjadi KGPAAA dan setelah itu mengangkat KGPH Haryo Mataram sebagai Kanjeng Gusti Panembahan sebagai paranpara noto. "Ini sebenarnya solusi urut-urutan yang harus dilakukan dalam suksesi Keraton, semoga bisa diterima," ujarnya. Selain itu, dia juga menyayangkan para putra-putridalem yang dalam menyikapi suksesi tidak menunjukkan sikap sebagai priyayi yang berjiwa satria. Apalagi mereka itu lahir dari keraton di Jawa, khususnya Solo. "Seorang satria akan menunjukkan sikap rendah hati, tidak ingin menonjolkan diri apalagi menginginkan kekuasaan. Kalau priyayi Jawa ditunjuk menjadi pimpinan malah akan menunjuk kepada orang lain yang dianggapnya lebih pantas dan lebih baik dari dirinya. Lha yang di Solo kok malah berebut kekuasaan, lalu yang bisa menjadi anutan yang mana?" tambahnya.(won,sri-17i) |