| Selasa, 31 Agustus 2004 | SALA |
Tedjowulan: Amankan Aset Keraton
KOTA- Tiga pengageng Keraton Surakarta Hadiningrat, sepakat menunjuk Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Tedjowulan sebagai penerus pengganti Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) XII. Kesepakatan itu diwujudkan dalam bentuk Surat Keputusan No Kep./01/2004 bertanggal 27 Agustus 2004 dan ditandatangani tiga pengageng, yakni KGPH Hadiprabowo selaku pengageng putrasentana, GPH Dipokusumo (pengageng parentah keraton), dan GK Ratui Alit (pengageng parentah kaputren). Dengan kemunculan surat keputusan yang Minggu (29/8) malam lalu dibagikan kepada sejumlah wartawan di Dalem Joglo, Kota Barat tersebut, terjawab sudah teka-teki siapa calon pengganti SISKS PB XII, setelah sebelumnya tiga pengageng menolak penobatan KGPH Hangabehi. Hal tersebut sekaligus menjawab keterangan dari KGPH Hadiprabowo dan GPH Dipokusumo sebelumnya yang mengatakan, keputusan tentang hal itu masih belum final. Minggu siang dua orang pengageng tersebut mengatakan masih akan ada pembicaraan lebih lanjut berkaitan dengan keputusan itu. Kepada para wartawan, KGPH Tedjowulan yang juga hadir jumpa pers mengatakan, ada dua alasan utama dari kemunculan surat keputusan tersebut. Pertama, surat keputusan itu dibuat agar konflik tentang suksesi tidak berlarut-larut. Kedua, surat keputusan itu dibuat untuk mengamankan aset-aset Keraton. 31 Agustus Diperoleh keterangan, menurut rencana penobatan KGPH Tedjowulan menjadi SISKS Paku Buwono ke XIII akan dilakukan pada Selasa (31/8) ini. Namun, sebelum itu akan ada pula acara penobatan KGPH Tedjowulan sebagai Kanjeng Pangeran Adipati Anom. Menyinggung persiapan penobatan, calon Raja Keraton Surakarta tersebut mengatakan, semuanya sudah dilakukan, termasuk penyebaran sekitar 2.000 undangan yang akan menghadiri acara penobatan nanti. "Namun acara penobatan nanti mungkin lebih sederhana. Tidak menggunakan 'Bedhaya Ketawang' ataupun arak-arakan kereta kencana. Itu akan dilakukan bukan pada penobatan, tapi pada tingalan jumenengan," papar KGPH Tedjowulan. Ketika ditanya apakah pemilihan hari penobatan itu bermaksud untuk mendahului pihak lain (KGPH Hangabehi)? Dengan tegas dia menjawab tidak ada tujuan seperti itu. "Mengapa memilih Selasa, sebab menurut perhitungan Jawa, hari itu adalah anggorkasih. Hari yang biasanya juga untuk acara jamasan pusaka," jelasnya. Sementara itu menjawab pertanyaan terkait dengan status dia yang militer aktif, KGPH Tedjowulan mengatakan sudah mendapatkan izin dari atasannya. "Ada dua alternatif yang mungkin bisa ditempuh. Pertama, saya pensiun dini, yang kedua saya izin mengurus keraton dengan tetap masih aktif sebagai militer. Kalau ditanya mana yang akan saya lakukan, ya itu tergantung pada keputusan pimpinan saya," kata anggota militer berpangkat kolonel tersebut.(G19-17i) |