| Selasa, 31 Agustus 2004 | PANTURA |
"Dapat Medali Saja Sudah Cukup"
MESKI masih kecil, Andhika Renaldi ngomongnya ceplas ceplos. Dia menyatakan mustahil, jika akan berhasil menjadi juara olimpiade dunia untuk jurusan matematika. "Bagi saya, yang penting mendapatkan medali saja sudah cukup," ujarnya ketika diwawancarai Suara Merdeka di sekolahnya, SD Pius Kota Pekalongan, kemarin. Karena jawabannya yang lugu itu, kepala sekolahnya, Suwandi yang ikut mendampingi dalam wawancara menjadi tertawa. "Dia memang masih polos. Jadi ngomongnya masih lugu," kata Suwandi, menimpali jawaban anak kelas VI SD itu. Menurut Suwandi, Renaldi maju ke olimpiade dunia setelah berhasil menembus 10 besar untuk jurusan matematika tingkat SD. Dari hasil penjaringan tingkat nasional, putera pasangan Reddy dan Ratna Dewi Andriani Wulandari tersebut berhasil meraih peringkat delapan. Karena yang akan dikirimkan ke India sebanyak 10 anak, maka Renaldi dinyatakan termasuk yang harus ikut seleksi di tingkat dunia. Siapa lawan-lawannya? Renaldi juga belum mengetahui persis. "Yang jelas dari seluruh dunia, dan mereka anak-anak pandai," ujar Renaldi. Menurut Kepala SD Pius tersebut, Renaldi yang kelahiran 2 Desember 1993 itu ikut seleksi olimpiade dunia berawal dari penunjukan Pemkot Pekalongan tanpa melalui seleksi dari tingkat kecamatan atau kota. Dia satu-satunya anak yang ditunjuk mewakili jurusan matematika untuk seleksi di Provinsi Jateng. Dia menambahkan, di SD yang dipimpinnya itu juga terdapat siswa yang mewakili jurusan IPA, yakni Steven Sanjaya. Tapi sayang, di tingkat provinsi anak itu gagal karena berada pada peringkat 10; sedangkan yang diambil untuk bisa mengikuti babak nasional hanya sembilan. Dari penunjukan Wali Kota itu, Renaldi berhasil lolos dalam putaran yang diikuti 61 anak melalui seleksi di Semarang. Saat itu, anak tersebut berada pada peringkat 27. Selanjutnya di Jakarta diseleksi lagi, sehingga dari 61 anak tinggal 20 anak. "Dalam kaitan itu, Renaldi lolos ke 20 besar dan berada pada peringkat ke-13. Bahkan dalam seleksi terakhir, dia berada pada peringkat delapan dari 10 anak yang dinyatakan bisa mengikuti olimpiade dunia di India, yang direncanakan berlangsung 8 September mendatang," katanya. Bagaimana persiapannya kini? Menurur Suwandi, pihak sekolah sudah berusaha mencarikan dana agar anak sulung itu dapat didampingi keluarganya ke India. Dinas Pendidikan pun sudah memberikan jalan keluar, menyangkut biaya yang harus dikeluarkan. Namun sayang, setelah dikonsultasikan dengan panitia pusat, akhirnya pihak keluarga Renaldi tidak boleh mendampingi putranya. "Yang akan ke India cukup anaknya sendiri, dibantu panitia pusat," tegasnya. Renaldi mengakui, menggemari pelajaran matematika itu baru muncul sejak kelas empat. "Kelas 1 hingga 3, saya biasa-biasa saja dengan matematika. Namun setelah kelas empat, baru saya merasa senang. Semua soal-soal yang diberikan dari sekolah berhasil saya kerjakan. Bagusnya nilai matematika itu, juga mendorong pelajaran lainnya menjadi baik, sehingga saya dinyatakan juara kelas," ujarnya. (Trias Purwadi-14a) |