logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 PANTURA
Line

Pameran di SME'sCO Jakarta

Batik Sutra Pekalongan Banyak Diminati

Beberapa pengusaha Kota Pekalongan yang tergabung dalam Koperasi Trading House mengikuti pameran di SME'sCO Jakarta pada 26-30 Agustus. Wartawan Suara Merdeka Trias Purwadi yang mengikuti acara tersebut melaporkan hasilnya berikut ini.

NAMA Pekalongan memang sudah bisa dijual di kota-kota besar. Itu dapat dibuktikan saat pameran di SME'sCO di Jakarta yang berlangsung sejak 26 Agustus hingga hari ini. Begitu pengunjung lewat di stan Kota Pekalongan, mereka akan mampir di stand Trading House Kota Batik. Karena itu, tidak heran jika sejak pameran dibuka oleh Presiden Magawati, pengunjung mulai melirik stan Kota Pekalongan. Stan itu makin ramai karena juga bergandengan dengan stan Kabupaten Pekalongan.

Pameran itu diikuti 327 peserta dari semua daerah di Indonesia mulai dari Aceh hingga Papua. Semua peserta menempati tiga lantai, stan dari Jawa Tengah di lantai dua. Kota Pekalongan berlokasi di stan 260. Pameran itu berlangsung di Gedung Pusat Promosi Koperasi dan UKM Jalan Gatot Subroto Jakarta.

Ada 10 perusahaan batik Kota Pekalongan yang ikut pameran di Jakarta, semua anggota Koperasi Trading House Pekalongan.

Untuk pameran itu, Kantor Dinas Koperasi dan UKM setempat juga ikut membina dan mengarahkan pengusaha agar pameran itu bisa sukses.

"Melihat pameran tingkat nasional dan internasional, stan pun dibuat tidak seperti stan daerah lain. Kami sengaja memasang stan kayu ukir dan diberi lampu remang-remang sehingga stan Kota Batik itu menonjolkan seninya dan bukan menjual tekstil semata," papar Kepala Dinas Koperasi dan UKM Ir Candra Herawati saat ditemui di Jakarta.

Untuk menunjukkan itu hasil kerajinan tangan, Trading House sengaja mengajak seorang perajin batik tulis berikut peralatannya untuk berdemo di samping pameran. Ny Juriah, perajin itu, terus membatik kain di depan stan sehingga membuat daya tarik tersendiri para pengunjung.

Selama sehari demo, tak sedikit pengunjung yang berhenti untuk melihat wanita tua itu menorehkan canting ke kain yang dipegangnya. Membatik lebih menonjolkan seni, sehingga wajar jika pekerjaanya dilakukan cukup lama. "Satu kain untuk satu ukuran baju, kami selesaikan dalam waktu sebulan," tutur Juriah.

Pengunjung yang belum mengerti proses membatik memang pada umumnya merasa heran. "Kalau dikerjakan dalam sebulan, dalam sehari akan mendapatkan berapa? Hasilnya bagaimana? Kemudian batiknya dijual berapa?" tanya seorang pengunjung.

Batik Tulis

Juriah dengan sabar menjawab pertanyaan itu. Jika kain dibatik semua memang begini, sehingga penjualannya pun menjadi mahal. Namun, dalam hal membatik disesuaikan dengan di pasaran dan batik dibuat dengan variasi. Ada satu kain batik tulis sutra yang dijual hingga jutaan tetapi juga ada yang dijual murah Rp 100.000.

"Kalau batik tulis, jelas dijamin bagus. Motifnya pun tidak akan mudah luntur," ujar seorang pengusaha batik asal Pekalongan.

Namun dalam pameran itu, dia mengakui, hanya membawa batik sutra yang semua hasil batik tulis. Kemudian juga campuran tulis dan sablon serta cap. "Ini semata-mata untuk melayani pembeli yang berbeda latar belakang ekonominya," kata H Faturrahman.

Dia mengungkapkan, barang-barang yang cukup laris memang sebagian besar pakaian untuk kelas menengah atas yang kebanyakan dari bahan sutra. Meski demikian, bukan berarti dari Kota Pekalongan tidak membawa pakaian dari alat tenun bukan mesin (ATBM). "Kami tetap membawa tapi jumlahnya kecil," ujar H Faturrahman, pengusaha batik

Hasilnya lumayan. Dalam sehari seusai pameran dibuka Presiden, pengunjung melimpah. Karena itu, petugasnya pun tidak pernah beristirahat sampai pameran tutup sampai pukul 22.00.

Dalam pembukaan itu, memang Megawati tidak sempat mengunjungi stan Pekalongan di lantai dua. Presiden hanya mengunjungi stan di lantai bawah. Setelah itu, Presiden meninggalkan tempat.

Namun masih beruntung, stan Pekalongan mendapat kunjungan dari mantan Menkop Bustanil Arifin dan Drs Subiakto Tjakrawerdaya. Sementara itu, pejabat tingkat pusat yang mengunjungi stan Kota Batik adalah Sekretaris Meneg Koperasi dan UKM Drs Fajar Sofiar MM dan Kepala Dinas Pelayanan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah Drs Sukaton.

Stan Pekalongan dalam pameran itu memang bukan semata-mata menjual secara ritel, melainkan sebagai ajang promosi mengenalkan produk unggulan Pekalongan yang selama ini dikenal sebagai Kota Batik di seluruh dunia.

Sebab, bila hanya sekadar menjual secara ritail maka akan secara bisnis akan rugi. "Kami di Jakarta akan memasarkan batik dalam jumlah besar, yakni kerja sama dengan pembeli untuk pemasaran dalam jangka panjang," tutur Candra.

Dalam pameran di SME'sCO, ada beberapa pejabat yang ingin bekerja sama dengan Trading House Pekalongan untuk memasarkannya. Seperti halnya dilakukan Ir H Husni Alamsyah, Kepala Deperindag Medan. "Batik-batik Pekalongan cukup laris di Medan. Selain kualitasnya bagus, harganya juga miring. Bagaimana kalau kami ingin kerja sama memasarkannya?" tawarnya kepada pengusaha Pekalongan.

H Faturahman Nur menajwab, masih akan dibicarakan dengan pengurus lain bagaimana cara yang akan ditempuh dalam kerja sama itu. Sepanjang kerja sama itu baik, tidak ada masalah.

Upaya untuk membuka pemasaran batik dari Pekalongan memang terus dilakukan. Upaya itu antara lain sejak Mei lalu sudah 40 pengusaha membuka usaha di International Trading Centre (ITC) Cempaka Mas Jakarta. September mendatang, 68 pengusaha juga akan membuka usaha lagi di Pasar Sunan Giri Ramangun Jakarta Timur.

"Hal itu dilakukan sebagai upaya membuka pasar alternatif setelah Pasar Tanah Abang terbakar," kata Candra.

Dia mengemukakan, upaya membuka usaha di Jakarta itu sungguh di luar dugaan. Batik dan ATBM dari Pekalongan laku keras di sana. Selama tiga bulan sejak mereka menempati, omzet dalam sebulan rata-rata sudah Rp 700 juta.

Kini, kembali mengadakan pameran di SME'sCO yang juga akan dapat memasarkan batik Pekalongan sehingga ke depan batik Pekalongan akan diharapkan menguasai pemasaran batik di kota-kota se-Indonesia.(34j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA