| Selasa, 31 Agustus 2004 | PANTURA |
Reuni Diwarnai Buka-bukaan Rahasia AsmaraSETELAH 30 tahun menghilang, belang Roni Kristianto akhirnya terbongkar. Lelaki nakal itu, pada Reuni Alumni SMA 1 Tegal 1974, Minggu lalu (29/8), membuat heboh teman-temannya. Ceritanya, sore itu dia membaca sebuah surat yang semula dirahasiakan nama pengirimnya. Dia hanya mengatakan, kiriman surat dengan tulisan tangan itu diterima dari teman wanitanya pada 1977. Saat itu, dia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dengan tekanan suara jelas dan vokal lantang, dia membacakan kalimat demi kalimat yang tertera dalam surat. Namun, inti dari surat itu adalah bicara tentang perasaan hati, atau sebutlah sebuah curahan hati dari seorang perempuan, yang saat itu masih diliputi gejolak asmara. Usai membaca surat yang terdiri atas dua lembar yang telah kusam dan sobek pinggirnya itu, Roni melempar teka-teki. "Ayo tebak, siapa yang membuat surat ini," tukasnya. Tentu saja sekitar 70 alumnus diam membisu tak bisa menjawab. Tak bergayung sambut, Roni meningkatkan perang urat syarafnya. "Baik, siapa yang merasa mengirim surat ini harap maju ke panggung. Kalau tidak mau, akan saya jemput." Suasana menjadi ribut. Namun, gertakan itu bagai kesiur angin. Roni lalu mengancam, kalau pengirim surat tetap tak mau maju, dia akan menyebut namanya. Sebelum itu dilakukan, dia memanggil Titi untuk meneliti tulisan di surat itu. Titi pun mengaku sangat kenal dengan tulisan tersebut. Akhirnya Titi menjemput Sri Rejeki, yang kini menjadi dosen di Undip Semarang. Dengan malu-malu kucing, ia akhirnya mengaku sebagai penulis surat. Rejeki kemudian dirangkul oleh beberapa temannya seperti Titi, Umi Bebek, Nani IS, Utari, Uci, Iin Kristin, Dulkhalim, Wasrin, dan N Aji. Suasana pun menjadi hangat. "Cinta saya milik Roni, tapi hati milik orang lain," komentar Sri Rejeki. Dasar Roni itu bengal, diiringi musik organ tunggal Arief Efato, dia pun lalu menembang sebuah lagu yang menggambarkan perasaan cinta. "Saya mencari lagu yang temanya sama dengan isi surat selama tiga bulan. Akhirnya lagu Kau yang Tersayang berhasil saya temukan," ujarnya. Membalas Namun, Sri Rejeki di luar dugaan membalas lagu itu dengan sebuah nyanyian pula berjudul "Hati yang Terluka." Kalau Sri Rejeki berada di Semarang, Roni kini menjadi konsultan di Jakarta. Roni mengaku, surat yang disimpannya itu mungkin pernah dibaca istrinya. Melihat ulah teman-temannya itu, Agus Pramono, yang kini menjabat Sekretaris Ditjen Postel hanya tersenyum kecil. Namun, Edy Pranowo yang kini menjabat Kepala Dipenda Pemkot Tegal menyentil, Agus itu tenang tapi menghanyutkan. "Sebab, dia itu calon Dirjen Postel," kelakarnya. Lima mantan guru SMA 1 -Ronas Haroen, SN Ratmana, Slamet Effendi, Sugianto, dan Sutopo- yang melihat gasak-gasakan para bekas muridnya itu hanya tersenyum bangga. "Saya benar-benar senang, melihat ulah nakal mereka. Maklum, mereka kan sudah tak bertemu selama 30 tahun. Jadi, wajar melampiaskan rasa kangennya," ujarnya. Acara reuni itu diakhiri dengan pembentukan pengurus Paguyuban Alumnus SMA 1 1974. Terpilih Agus Pramono sebagai ketua; sedangkan Edy Pranowo menjadi koordinator Kota Tegal dan sekitarnya. Agus belum bisa mengemukakan programnya. "Kegiatan bisa sewaktu-waktu ada. Pokoknya terserah teman-temanlah," tukasnya dengan logat Tegal. (Nuryanto Aji-74a) |