logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 WACANA
Line

Surat Pembaca

Ngotot, Jauhkan Agama dari Politik

Tragis benar jika ada elite agama yang ngotot berupaya menjauhkan agama dari politik. Ini sama saja menempatkan kembali aspirasi umat di bidang politik persis sebangun pada kurun waktu tiga dasa warsa lebih kala berjayanya rezim orba. Saat itu, aspirasi politik berbasis agama terbekukan.

Akibat fatal, selama itu dan cenderung masih terasa sampai kini, norma etika dan moral berdasarkan ajaran agama hanya sebatas berjaya berwujud 'materi bincang-bincang' di ruang pertemuan bernuansa ritual semata.

Sekalipun memberdayakan tatap muka, mengaplikasikan jurus komunikasi satu arah (doktriner) atau dua arah (tanya-jawab, sambung rasa), tak mampu menerobos sekaligus merubah dan menjadi acuan perilaku di ruang publik, apalagi di lingkup penyelenggara negara.

Salah satu bukti, sulit menegakkan supremasi hukum baik oleh penyelenggara negara, termasuk penegak hukum tanpa kecuali dari pusat sampai daerah. Hal ini disebabkan norma etika dan moral berdasarkan ajaran agama tak menjadi pondasi kukuh yang melekat pada para penyelenggara negara.

Gagasan yang terekspose insan pers, ide yang dapat mempengaruhi para capres/cawapres terdeteksi pada materi kampanye adalah visi, misi dan program lebih rinci. Terwujudkannya gagasan 'menjauhkan agama dari politik" oleh presiden/wakil presiden terpilih nanti, dapat membuka peluang di NKRI.

Kendati tak serupa namun mirip dengan sistem politik yang berlaku, antara lain di Kuba, Korea Utara, RRC.

Masih ada secerca harapan, pertama saudara-saudara kita se-Tanah Air yang lintas agama, termasuk generasi muda menggunakan hak pilihnya dengan benar tanpa terpengaruh ide/gagasan tersebut.

Kedua, cermati benar materi kampanye formal maupun nonformal kandidat capres sampai mendekati hari-H. Semoga kita diberi kemampuan menjatuhkan pilihan terbaik.

Sungkowo Sokawera
Jl Rancamanyar I/17, Bandung

***

Sikap

Masalah gula impor ilegal yang akhir-akhir ini diramaikan, maka yang menarik untuk disimak adalah pernyataan: "Tidak ada perintah dari Nurdin... ". Kilas balik soal gula tersebut diawali pada Mei 1998, di Kuala Lumpur tim Thomas Cup di bawah pimpinan Mayjen Agus Wirahadikusumah (alm) berjuang mengharumkan bangsa dan berhasil menjadi juara.

Sementara di Jakarta, para perusuh bebas berhuru-hara dan pada kasus Semanggi November 1998, aparat didukung pamswakarsa sangat keras bertindak terhadap gerakan "makar" masyarakat/mahasiswa sehingga jauth banyak korban tewas. Atas tragedi ini Pangab Jenderal TNI Wiranto menyatakan:"Tidak pernah memberikan instruksi..."

Masyarakat awam punya ukuran untuk menilai pemimpinnya. Ukuran yang bebas dari: bius santunnya tutur kata, keterpukauan pamer profesionalisme maupun buaian tegasnya kata-kata buktikan. Mereka bisa melihat jelas dan jernih dengan mata hatinya, apakah pemimpin telah satu kata dengan perbuatan.

Menurut pakar, pemimpin yang baik tidak hanya dituntut menguasai bidangnya (profesional knowledge) saja, tetapi juga harus punya karakter unggul yaitu keharmonisan antara pikiran (thought), kata-kata (words) dan perbuatan (deeds) yang dilakukan terus menerus.

Dengan demikian akan menyatu dan melahirkan sikap nyata yang mengacu pada prinsip universal: bisa dipercaya, tulus, berbudi baik, berperasaan, jujur dan fair (trust worthy man). Menurut Genghis Khan, seorang pejabat memimpin dengan tindak nyata (leading by doing), seorang jenderal memimpin dengan memberi contoh (leading by examples).

Sungguh sulit bagi para petani tebu untuk menerima dan memahami penjelasan teknis prosedural kalau kenyataannya gula impor ilegal terdistribusi secara apik dan melimpah yang membuat mereka semakin jauh dari sejahtera. Sementara di pihak lain hanya muncul sanggahan... Tidak ada perintah dari ketua umum...

Sikap lebih jujur dan konsisten daripada kata-kata. Sayangnya sikap yang ditunjukkan masih menyimpang jauh dari kejujuran dan rasa keadilan. Pemimpin boleh mengklaim dirinya sudah bersikap profesional. Tapi yang pasti dan tidak boleh lupa, sudah saatnya Indonesia punya pemimpin yang juga berkarakter unggul.

Purnomo Iman Santoso
Villa Aster II Blok G/10 Srondol, Semarang 50263

***

Kasatlantas Ungaran

Pada 3 Agustus 2004 pukul 11.30 saya ditilang oleh Poltas di depan Pasar Ungaran karena dianggap melanggar rambu dilarang berputar (balik arah) yang jelas-jelas tidak ada rambunya. Saya dari arah Bawen ke Semarang, setelah pagar besi pemisah jalan di depan Pasar Ungaran saya berputar kembali (karena tidak ada rambu larangan, saya pikir boleh).

Ketika saya tanya apa salahnya, dia jawab saya melanggar rambu dilarang putar. Saya tanya lagi mana rambu larangan, dia malah tanya: saya orang mana. Saya jawab saya orang Ungaran, lalu dia jawab: ''Dulu ada rambunya, tapi ditabrak truk''.

Jawaban yang lucu dan tidak masuk akal. Saya dianggap melanggar tapi rambunya adanya dulu (sampai tulisan ini saya buat, rambu tidak ada). Bp Kasatlantas, kalau memang dilarang putar, mohon segera dipasang rambu larangan sehingga masyarakat tidak dibodohi dan dirugikan.

H Nur Hartadi
Jl Layur Selatan III/D.17, Ungaran

***

S-7 dalam Lelakon Parto Patrio

Saya sampaikan S-7 (surat sungkawa sebagai sorotan serta sumbang saran) dalam lelakon Parto Patrio baru-baru ini. Sungguh ironis nasib sial Parto Patrio ini. Seorang artis muda yang cepat kondang dan melejit yang biasanya menghibur dan membuat tawa publik, kini sebaliknya, membuat iba bagi para pandhemennya.

Betapa tidak. Dengan menembakkan peluru karet ke atas layaknya seorang polisi yang mau membubarkan para pendemo, agar tidak dikejar-kejar wartawan, eee... malah masuk tahanan. Main-main jadi sungguhan. Untung tidak seperti mendiang Lady Diana dikejar paparasi di Inggris

Di samping sungkawa saya sumbang saran sbb: Kepada Parto Patrio Cs dan keluarga, semoga mawas diri dan ambil hikmahnya dan segera bebas, diampuni-Nya dan merubah sikap. Bagi para artis ingatlah kata mutiara alm Mr Wuryanto SH, mantan Wali Kotamadya Semarang yang berbunyi: bandha, mulya, kuasa marahi salin salaga (harta benda, kemuliaan dan kekuasaan mengakibatkan lupa/berubah sikap). Ingatlah, wartawan juga telah berjasa mengharumkan namamu. Bagi para wartawan dan pengelola infortainment, ingatlah: Ngana ya ngana ning aja ngana. Jangan asal kejar tayang seperti sopir angkot yang kejar setoran saja. Ingat Kode Etik Jurnalistik serta dhawuh Nabi Muhammad SAW: ''Jangan suka membeberkan aib orang cacad di hadapan umum''. Bagi pembaca jangan suka menikmati bacaan yang berisi pembeberan aib.

DR Setyadji PW
Jl Supriyadi, Singa III/4, Semarang

***

Pungli di Samsat

Kepada Bapak Kapolda Jateng yang telah menutup judi togel, saya ucapkan terima kasih. Selanjutnya mohon Bapak juga memberantas pungli di kantor Samsat Kota Magelang antara lain membayar surat pengantar mutasi masuk dari Kaur STNK ke Polwil sebesar Rp 150.000, Legalisasi berkas mutasi masuk sebesar Rp 50.000 dan formulir pendaftaran STNK Rp 50.000.

Edy Sumaryanto
Kedungsari 171, Magelang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA