| Selasa, 31 Agustus 2004 | WACANA |
Daya Saing Petani Sutera AlamOleh: EL. WidiyaputeraMENGHADAPI masa transisi menuju era globalisasi pada saat ini, masyarakat Indonesia belum siap sepenuhnya menghadapi pasar perdagangan bebas, terutama petani. Ketika gong perdagangan bebas mulai ditabuh, kita menemukan banyak komoditi pertanian dan perkebunan impor di pasar domestik, terutama berasal dari China yang hampir menguasai 75% barang impor. Ini sangat memprihatinkan apabila kita dikenal sebagai negara agraris, dalam lima tahun lagi akan menjadi dikenal sebagai negara "konsumsi" terbesar di dunia. Bukan hal mustahil ini akan terjadi, mengingat Indonesia mempunyai jumlah penduduk lebih dari 200 juta pada tahun ini akan menjadi pasar potensial bagi negara lain, yang siap menghadapi pasar perdagangan bebas. Dalam tiga tahun terakhir ini, benang sutera dari China sangat memukul kehidupan petani sutera alam, karena harga jual benang sutera kita sebesar Rp. 300.000 per kg rasanya sangat sulit untuk untuk bersaing dengan benang sutera dari China yang berkisar antara Rp 150 - 170 ribu per kg, di pasar domestik, apalagi di pasar international. Apabila ini dibiarkan, maka berapa ribu hektar lahan tanaman murbei menjadi tidak produktif dan berapa banyak petani sutera kita menjadi jatuh miskin. Kerugian ini tidak hanya diterima oleh petani sutera alam secara langsung, tapi juga pemerintah melalui program yang dijalankannya selama ini belum berhasil. Potensi Pasar Sutera Alam Sebenarnya potensi pengembangan dalam sektor ini masih cukup besar peluangnya dan menguntungkan dibandingkan dengan sektor lain. Hanya saja kita tidak pernah melakukan kegiatan yang sifatnya mengarah pada penelitian yang tidak hanya melibatkan dengan instansi terkait, tapi juga pihak akademis. Industri persutraan merupakan salah satu subsektor agroindustri yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena memiliki berbagai keunggulan. Yakni bahan baku seluruhnya tersedia dan berasal dari sumber daya alam tokal. Produknya merupakan komoditas ekspor yang merupakan bahan baku industri lain yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri, sehingga dapat meningkatkan devisa, menyerap tenaga kerja yang cukup banyak, dan memiliki keterkaitan yang erat dengan sektor serta sub sektor lainnya. Banyak negara penghasil sutera terbesar di dunia seperti China, India dan CSIS mampu menguasai pasar sutera di dunia karena mereka melakukan pengembangan dan penelitian dengan melibatkan pihak akademis untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Bahkan negara-negara maju seperti Amerka Serikat, Inggris, German dan Australia sudah melakukan penelitian dan pengembangan juga. Mengapa mereka melakukannya? Hal ini berdasarkan potensi pasar yang dimiliki industri fiber/ benang dunia; yang pada saat ini kebutuhannya sebesar 100.000 ton/ tahun (bulletin ISA, 2003), sedangkan produksinya baru mendekati 85% dan pasar domestik setiap tahun produksinya baru mencapai 225 ton. Oleh karena itu komoditi sutera di China memberikan perhatian khusus pada komoditi ini, mengingat sutera dianggap penyumbang devisa negara terbesar dan mempunyai petuang yang cukup tinggi. Di samping itu, sutera alam ini dianggap tidak mengganggu ekosistem lingkungan bahkan sebagai industri yang ramah terhadap lingkungan. Sudah selayaknya jika kita belajar pengalaman dengan negera ini, karena kemampuannya dalam membaca potensi bisnis di masa yang akan datang. Melihat gambaran tersebut di atas, jelas terlihat prospek persutraan alam cukup cerah. Hal ini berkaitan dengan masih tingginya permintaan di dalam negeri maupun pasar dunia, dibandingkan dengan produksinya. Tidak salah seandainya beberapa pemerintah kabupaten di Indonesia mendorong perkembangan sutera alam seperti, Tasikmalaya, Garut, Sopeng, Ciamis, Temanggung dan kota lainnya, karena mereka melihat potensi di sektor ini memberikan kontribusi yang tebih baik dibandingkan potensi lain, asal dikembangkan dengan baik dan teratur. Potensi Pengembangan Di dalam proses produksi dimutai dari penanaman daun murbei dan penetasan telur ulat sutera, lalu dipelihara dengan makanan utama daun murbei sampai akhirnya berubah menjadi kokon (kepompong) membutuhkan waktu selama satu bulan. Kokon yang berwarna putih dan berbentuk butat tonjong itu, lalu dipintal menjadi benang sutera. Dari benang initah, baru akhirnya ditenun menjadi kain sutera. Penenunan dapat dilakukan baik dengan atat tenun mesin atau alat tenun bukan mesin (ATBM). Sayang sekali, pengetahuan petani sutera alam di Indonesia yang hanya mengetahui manfaat sutera alam menjadi benang dan kain, padahal kalau kita mau, masih banyak potensi yang dimiliki dalam budi daya sutera alam ini yang memberikan keuntungan yang cukup visible baik untuk industri rumah maupun skala produk massal Beberapa potensi yang dimiliki dalam budi daya sutera alam dan masih memerukan pengembangannya adalah: Satu, daun, buah, ranting dan kutit akar tanaman murbei; dapat dijadikan sebagai obat natural dalam penyembuhan beberapa penyakit yaitu; sakit kulit bisul, batuk, sakit kepala, gigi, rematik dlt. Dua, ulat sutera; mempunyai potensi dijadikan bahan untuk industri kosmetik, farmasi, animal food, makanan, minuman dll. Kandungan nutrisi dalam utat sutera sangat besar sekali dibandingkan jenis serangga yang lain. Tiga, kepompong; selain menjadi benang, juga dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan seperti bunga, pigura dll. Bahkan beberapa negara seperti Jepang dan Thailand tetah mengenal kerajinan ini beberapa tahun yang silam, yang harga jualnya sangat tinggi dan pasar yang cukup bagus. Empat, limbah pemintalan sutera alam; dalam limbah industri pemintalan sutera alam masih mempunyai nilai tambah yang cukup tinggi, dimana banyak digunakan sebagai bahan industri; seperti kertas, fiberglass, polish/ semir dll. Jika kita melihat secara keseluruhan dalam pengembangan budi daya sutera ini sebenarnya mempunyai nilai jual yang cukup tinggi dan ramah terhadap lingkungan karena limbah akhir yang dihasilkan sangat sedikit. Semua ini dapat dilakukan apabila adanya kerja sama yang baik antara petani, pengusaha, pemerintah dan kepedulian akademis di datam penetitian. Kelemahan Mengapa benang kita tidak dapat bersaing dengan benang dari China? Bagaimana cara meningkatkan "daya saing" sutera alam kita? Dari segi kualitas kepompong yang dihasilkan dari bibit ulat sutera kita tidak kalah dengan negara China, hanya kita kurang mengekploitasi secara optimal industri ini sehingga mempengaruhi ongkos produksi. Ongkos produksi dapat ditekan, apabila harga bibit ulat sutera tidak di monopoli oleh Perhutani. Padahal kita tahu bahwa dalam industri ini, bibit utat sutera memberikan kontribusi 50% di dalam ongkos produksi. Kita berharap banyak, pemerintah mengizinkan tembaga atau perorangan yang ahli dalam pembibitan untuk menjual dan bersaing dengan Perhutani sehingga petani mempunyai beberapa pilihan untuk mendapatkan bibit yang baik. Dengan begitu Perhutani mempunyai motivasi untuk meningkatkan kualitas bibit dan juga menekan ongkos produksi bibit ulat sutera. Selama ini terkesan Perhutani dan Dinas Kehutanan hanya melakukan kegiatan yang bersifat penyuluhan saja, tanpa melakukan pembinaan, penelitian dan pengembangan sektor ini. Bahkan penulis pernah menghadiri kegiatan "pendidikan dan pelatihan sutera alam" di Jawa Tengah, di situ petani hanya diberikan penyuluhan bagaimana cara metakukan budi daya sutera alam dan tanpa kegiatan untuk pengembangan potensi lain yang dimiliki sutera alam. Penulis yakin kegiatan usaha apa pun, jika tidak digali dengan optimal maka hasilnya tidak seberapa bahkan cenderung hancur. Seharusnya instansi terkait banyak belajar dari komiditi lain seperti kemudu, minyak atsiri, lidah buaya dan lain-lain. Mengapa komoditi ini dalam waktu singkat dapat dikenal oteh masyarakat kita, jika dibandingkan sutera alam yang telah ada sejak puluhan tahun yang lalu? Satu hal yang penting bagi pemerintah melalui Deperindag, Dinas Kehutanan dan Perhutani untuk meningkatkan petani sutera alam di Indonesia, selain memberikan penyuluhan dan pelatihan, kemudian mencarikan pasar juga melibatkan pihak akademis untuk mengadakan penetitian. Juga dalam pengembangan usaha sutera alam membutuhkan beberapa implikasi yang pertu diperhatikan, di antaranya reorientasi arah dan kebijakan pengembangan secara terpadu dan beroreintasi ekonomi. Lainnya adalah pertunya iklim usaha yang kondusif, seperti atokasi areat pengembangan yang tegas, revitalisasi dan optimalisasi tembaga pendukung dan lembaga pelayanan, peningkatan keterlibatan dan investasi pemerintah, pembinaan intensif, pemberian kredit usaha, penelitian dan pengembangan teknologi secara dinamis dan peningkatan diseminasi hasil penelitian dan publikasi. Dengan demikian program pemerintah untuk menjadikan komoditi sutera alam sebagai komoditi ekspor dapat berjalan lebih efektif dan efisien, sehingga dapat mengangkat harkat dan martabat petani sutera untuk hidup yang layak. (18) -EL. Widiyaputera, SE, praktisi dan pengamat bisnis di persuteraan alam. |