| Selasa, 31 Agustus 2004 | WACANA |
tajuk rencanaMengapa Atlet Meresahkan Masa Depannya?- Bonus medali emas Olimpiade Rp 1 miliar, peraih medali perak Rp 500 juta, dan perunggu Rp 250 juta. Sementara itu, pelatih yang mengantar atlet juara mendapat Rp 250 juta, Rp 125 juta, dan 62,5 juta. Tidak perlu diperdebatkan lagi, daftar iming-iming dan beberapa di antaranya diraih oleh para atlet Indonesia yang berprestasi di Olimpiade Athena itu sepadan dengan apa yang telah mereka persembahkan untuk bangsa dan negara. Prestasi olahraga memberi makna multidimensional bagi suatu bangsa, dari kebanggaan nasional, kepercayaan diri, dan bukti kemampuan yang bisa berjajar atau bahkan unggul dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi. Prestasi olahraga juga merupakan inspirasi bagi banyak hal untuk memotivasi bidang-bidang kehidupan yang lain. - Pada tingkat lokal, bonus yang disiapkan untuk atlet-atlet dan pelatih kontingen PON XVI Jawa Tengah Rp 5,5 miliar. Untuk peraih medali emas disiapkan Rp 40 juta. Jumlah tersebut masih bakal bertambah dari pemerintah kota/kabupaten asal si atlet, dari perseorangan, juga mungkin dari induk organisasi olahraganya. Apa pula artinya? Otoritas olahraga suatu provinsi menganggap penting prestasi nasional lewat PON. Hal itu juga merupakan penghargaan atas perjuangan atlet yang tentu didapat setelah melewati hari-hari penuh pengorbanan: meninggalkan kesempatan sekolah, kuliah, keluarga, dan masa-masa remajanya. Pembina tinju Daniel Bahari pernah menyatakan hari-hari seorang atlet adalah neraka sedangkan medan pertandingan adalah pesta pora. - Hanya dengan rangsangan bonus itukah kita menghargai prestasi atlet? Keresahan bintang peraih emas Olimpiade Athena Taufik Hidayat menarik untuk disimak. Kepada Presiden Megawati Soekarnoputri, dia mengaku resah terhadap masa depannya setelah nanti tidak lagi menjadi atlet. Hal itu berbeda dari atlet-atlet negara lain yang mendapat perhatian besar pemerintah. Ketidakjelasan itulah yang menyebabkan banyak orang tua yang tidak merelakan anaknya menjadi atlet. Ungkapan jujur Taufik bisa dikatakan mewakili koleganya. Bagi yang berprestasi seperti dia, tentulah sebagian keresahannya masih bisa dikompensasikan dengan aneka bonus. Akan tetapi bagaimana dengan mereka yang ternyata mentok dan akhirnya sulit bersaing padahal sudah mengorbankan segalanya? - Eksodus sejumlah pemain bulu tangkis kita ke mancanegara baik sebagai pemain maupun pelatih yang sekaligus sebagian dimanfaatkan untuk kuliah, tidaklah mewakili keseluruhan gambaran kesempatan untuk menikmati kemungkinan-kemungkinan semacam itu. Banyak di antara atlet kita yang menekuni profesi ini hanya karena merasa wilayah itulah yang memberi kemungkinan masa depan. Baik itu dengan secara instan mengumpulkan uang untuk investasi hari depan selagi mereka berada dalam golden age maupun mencoba siapa tahu ada prioritas dari kalangan swasta dan pemerintah untuk memberi pekerjaan dengan mempertimbangkan prestasinya. Walaupun tidak sedikit yang mampu merajut hidup di luar olahraga, lebih banyak kisah atlet yang merana pada hari tuanya. - Tidak dapat dimungkiri, bahwa pemerintah memberi perhatian agar atlet bisa mempersiapkan masa depannya secara lebih mantap, tentu akan mendorong untuk tidak ragu-ragu berpacu membajakan prestasi. Bonus dari sebuah kejuaraan merupakan rangsangan instan, tetapi dalam jangka panjang, dibutuhkan perhatian lebih sistematis seperti yang dilakukan di Korea Selatan dengan memberi pensiun seumur hidup bagi atlet-atlet berprestasi Olimpiade. Persoalannya, memang mengharapkan pihak swasta atau pemerintah membuka kesempatan khusus kepada atlet untuk menjadi karyawan tentu membawa banyak pertimbangan. Misalnya menyangkut kompetensi, bagaimana dengan kesempatan bagi sumber daya manusia dari bidang lain yang lebih kompeten? - Namun, menghargai prestasi olahragawan mutlak harus dilakukan. Bagaimanapun, mereka adalah kelompok insan terbatas dengan kualifikasi khusus sehingga wajar bila mendapat perlakuan istimewa. Sekali lagi, yang harus dipertimbangkan adalah pengorbanan selama masa-masa pembajaan diri dari kecil hingga mereka melanglang dari satu arena pertandingan ke pertandingan yang lain. Taufik Hidayat sudah menyampaikan perasaan mewakili perasaan umum para atlet, langsung kepada Presiden. Sudah sepatutnya, dengan potensi atlet-atlet kita yang mampu masuk ke "komunitas Olimpiade" sejak 1992, perhatian khusus baik dari sisi anggaran olahraga melalui APBN ataupun sistematisasi konsep terhadap masa depan atlet perlu segera direvitalisasi. |