| Selasa, 31 Agustus 2004 | WACANA |
tajuk rencanaKeraton, Kembalilah ke Hati Nurani- Seperti yang diperkirakan banyak orang, sepeninggal SISKS Paku Buwono XII Keraton Surakarta akan digerus konflik. Dan, dalam beberapa hari terakhir ini konflik telah memanas dengan munculnya ''surya kembar'' di lingkungan keraton itu. Baik KGPH Hangabehi maupun KGPH Tedjo Wulan berikut para pendukungnya memiliki alasan sendiri. Mana yang dianggap paling absah, orang luar hanyalah penonton. Yang berada dalam arus besar konflik masing-masing tentu merasa benar dan dibenarkan oleh sistem yang memang tidak baku dalam pemilihan raja. Apa yang disebut sebagai angger-angger juga multitafsir, sangat bergantung pada siapa yang berkepentingan menafsirkannya. - Kenapa bisa muncul konflik seperti sekarang? Mungkin saja karena pertama, tidak adanya atau kurang tegasnya aturan sistem penggantian raja setelah mangkat. Kedua, mungkin tidak adanya surat wasiat yang menunjuk nama secara langsung dan jelas siapa yang berhak menggantikan SISKS Paku Buwono XII. Ketiadaan ini juga harus dipahami karena mungkin SISKS PB XII beranggapan bahwa semua putra-putrinya disayang dan dianggap mampu bermusyawarah dengan baik. Tidak ada satu pun putra-putri beliau dicatat sebagai putra mahkota, karena semua lahir dari garwa ampil. Atau, bisa saja beliau beranggapan bahwa semua putra-putrinya tak ada yang mampu menggantikannya, sehingga tidak merasa perlu menunjuk secara langsung. Jika demikian, menjadi tugas putra-putrilah untuk secara baik-baik menyelesaikan masalah itu. - Namun, itu tidak mudah ternyata, karena kekuasaan memang selalu menggoda. Kekuasaan sekecil apa pun selalu mendorong manusia untuk masuk ke dalamnya. Kekuasaan adalah nafsu dan nafsu dikendalikan oleh supremasi otak. Mereka yang sangat percaya kepada supremasi otak akan terus-menerus dibelenggu oleh nafsu-nafsu itu, termasuk nafsu ingin menguasai. Nafsu lahir dari otak, bukan oleh hati nurani. Kenapa? Sebab, hati nurani adalah percikan zat Tuhan dan selalu benar adanya. Karena itu, ketika seseorang ingin berbuat sesuatu sering harus bertanya kepada hati nuraninya. Namun, dominasi otak hampir selalu menang karena belum terbukanya hati nurani kita. Jika kekuasaan diperebutkan sampai harus mengorbankan malu dan mungkin darah, memang begitulah sejarah peradaban manusia. - Ketika konflik di Keraton berlangsung dengan suhu panas seperti ini, sebenarnya kita amat prihatin. Bukankah para beliau yang sedang berkonflik itu keturunan langsung para raja Jawa yang sangat terkenal dengan sebutan raja gung binatara. Mereka juga keturunan para raja pujangga yang mengarang banyak buku tentang bagaimana anak-anak raja harus berperilaku. Dalam Nitisruti, Pucung bait 18-19 disebutkan Nadyan Ratu ya tan ana paenipun, nanging Sri Narendra iku pangiloning bumi, enggonira ngimpuni sihing manungsa. Mapan sampun panjenengan Sang Aprabu sinebut Narendra ratuning kang tatakrami awit denya amenaki tyasing janma. Raja itu laksana cermin jagat dalam mengumpulkan dan memberi kasih sayang. Disebut raja karena telah menguasai dan merajai tata krama hidup dan membuat hati manusia sejahtera. - Namun, konflik juga bisa dipahami akarnya jika kita buka catatan sejarah tentang konflik raja di keraton-keraton Jawa. Semua keturunan raja merasa mempunyai hak atas kekuasaan yang telah ditinggalkan para pendahulunya. Repotnya, sistem dan struktur pergantian raja itu sendiri kadang-kadang lemah, multitafsir, dan tentu banyak kelemahan. Setiap celah itulah yang memungkinkan munculnya konflik seperti sekarang. Para sesepuh keraton juga sudah memberikan nasehat, tetapi tidak mempan juga. Tentu keadaan itu malah menimbulkan tafsir yang amat beragam bagi orang luar yang melihat konflik itu seperti yang dikisahkan dalam catatan sejarah. Tema besarnya sama, hanya waktu dan pemerannya yang berbeda. - Konflik itu jelas akan menimbulkan luka pada diri keraton, sedangkan orang luar hanya penonton. Paling-paling kita hanya akan tergoda oleh pertanyaan, siapa yang akan menang dari perebutan takhta sekarang? Namun, lebih jauh dari itu, kita melihat kenyataan yang menyedihkan: apakah benar-benar surya kembar akan terus berlangsung di keraton ini? Kita hanya mampu mengimbau, kembalilah kepada hati nurani masing-masing. Apakah godaan kekuasaan yang sebatas itu mampu membuat keluarga besar keraton pecah? Jika memang demikian, terpaksa kita harus mengutip catatan sejarah bahwa kekuasaan raja-raja Jawa bukan runtuh oleh kekuatan luar atau asing, melainkan oleh dirinya sendiri. Sungguh, kekuasaan itu memang selalu menggoda. |