logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 MURIA
Line

Perlu Cara Khusus Tangani Penghuni Panti

DI pinggiran sebuah desa paling utara di Kecamatan Kota Blora berdiri sejumlah bangunan di atas tanah seluas 3.050 m2. Tak banyak orang yang tahu tempat itu.

Sebuah papan nama yang bertuliskan ''Panti Pamardi Karya'' terpampang di pinggir jalan menuju ke lokasi. Apa sebenarnya tempat itu? Siapa yang yang tiggal di dalamnya?

Ya, di sejumlah bangunan yang terletak di tengah hutan rakyat dan dataran tinggi pegunungan Kendeng Utara itu tinggal sekitar 50 orang. Semuanya adalah para gelandangan, pemulung gelandangan, pengemis, dan orang-orang telantar yang tengah direhabilitasi agar kelak bisa kembali ke masyarakat. Jelasnya, keberadaan mereka di panti yang berlokasi di Jl Raya Blora - Rembang Km 10 yang masuk wilayah Desa Ngampel itu sangat memerlukan perhatian dari semua pihak.

Kepala Panti Pamardi Karya Sochibi, menuturkan, panti yang dipimpinnya itu berdiri pada tahun 1949, waktu itu bernama Panti Mardi Pangupo Bugo dengan alamat di Jl A Yani 13 Blora. Sesuai dengan tugas pokoknya yakni memberikan pelayanan sosial, panti itu pun digunakan sebagai tempat penampungan dan perawatan orang-orang telantar dan miskin.

Pada 1982, nama panti itu berubah menjadi Panti Karya Pamardi Karya yang dikelola Cabang Dinas Sosial Kabupaten Blora. Pada 1991, melalui SK Gubernur Jateng, terjadi lagi perubahan dengan status sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Sosial Provinsi Jateng.

Pada 1995 lokasi panti dipindah dari Jl A Yani Blora ke Jl Raya Blora-Rembang Km 10, Desa Ngampel hingga saat ini. Seiring dengan berlakunya otonomi daerah, sesuai dengan Perda Nomor 1 Tahun 2001, panti itu ditetapkan menjadi Panti Karya (PK) Pamardi Karya Blora tipe B sebagai UPTD Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah.

Metode Khusus

Apa saja yang dilakukan 50 orang penghuni panti tersebut? Selaku ketua panti, Sochibi memprogram sejumlah kegitan rutin dengan metode-metode khusus. Mulai dari tahap pendekatan, penerimaan, bimbingan sampai dengan tahap resosialisasi dan penyaluran serta bimbingan lanjutan. Sebab, sasaran garapannya adalah orang telantar. ''Adapun metode bimbingannya meliputi bimbingan fisik, mental, sosial, keterampilan, pertanian, pengetahuan kewiraswastaan, perkoperasian, dan kamtibmas,'' jelasnya.

Khusus bimbingan keterampilannya cukup banyak, dari bimbingan tentang pertukangan kayu, tambal ban, perbengkelan, pembuatan paving, olahan pangan, sampai kerajinan tangan. Itu semua bertujuan untuk memulihkan harga diri, kepercayaan diri, dan tanggung jawab klien terhadap masa depan diri dan keluarganya. (Urip Daryanto-90n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA