logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 MURIA
Line

Karena Merugi, CBIP Dibiarkan Dongkrok

REMBANG-Alat pembuat es balok yang diberi nama Container Box Ice Plan (CBIP) di kompleks pusat pendaratan ikan (PPI) Tasikagung, Kecamatan Kota, Rembang, beberapa hari terakhir ini dibiarkan dongkrok. Padahal, mesin senilai Rp 1 miliar itu diresmikan penggunaannya oleh Bupati H Hendarsono, beberapa bulan lalu.

Proyek tersebut didanai dari APBD Jateng tahun anggaran 2003, bersama pembangunan stasiun pompa bahan bakar nelayan (SPBN) di lokasi Kawasan Bahari Terpadu (KBT).

Bupati ketika dihubungi Suara Merdeka, kemarin, mengaku belum tahu masalah tersebut. Alasannya, pengelolaan CBIP sepenuhnya diserahkan kepada KUD "Saroyo Mino" Tasikagung.

''Sungguh, saya belum dapat laporan. Makanya saya belum bisa memberikan komentar,'' katanya.

Hendarsono menambahkan, jika hal itu benar, maka pihaknya akan segera melakukan evaluasi mencari penyebabnya.

Ketua KUD Saroyo Mino, H Kasnadi SSos ketika dimintai tanggapannya mengatakan, sejak CBIP dioperasikan tak pernah mendapat keuntungan. Alasannya, karena biaya operasionalnya tidak sebanding dengan pemasukan dari hasil penjualan es balok.

''Beberapa kali produksi, hasilnya selalu merugi. Makanya, untuk sementara ini mesinnya kami biarkan nganggur,'' katanya.

Diakui, selama ini nelayan Rembang sering mengalami kekurangan es balok untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan. Mereka sering harus mendatangkan es balok dari luar daerah.

Kalau demikian, mengapa bisa rugi? Kasnadi menjelaskan, berdasarkan data teknis, kapasitas produksi CBIP sebanyak 10 ton/hari. Tetapi ketika dicoba 24 jam nonstop, produksinya cuma sembilan ton. Sementara itu beban biaya operasinya cukup tinggi, utamanya untuk membayar listrik.(jl-90a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA