logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 EKONOMI
Line

Petani Kacang Hijau Dapat Pinjaman Rp 200 Juta

DEMAK-Sejak tahun 2002 pemerintah pusat mengalokasikan pinjaman dana langsung masyarakat (PDLM) senilai Rp 200 juta per tahun kepada kelompok tani kacang hijau.

Tahun ini pinjaman itu ditujukan bagi kelompok tani yang memiliki lahan 600 ha di lima kecamatan, yakni Karanganyar, Gajah, Wonosalam, Dempet, dan Kebonagung.

Pada setiap 100 ha dilakukan pengkajian berbagai teknologi budi daya kacang hijau dan 5 ha sebagai laboratorium lapangan.

Dana pinjaman dari pemerintah pusat diharapkan bisa dikelola sebagai modal usaha sekaligus sarana memperkuat kelembagaan petani.

''Dari dana bantuan itu 60% masuk ke kelompok tani dan 40% dikelola oleh pembina di kabupaten,'' kata Ir Bembi Abidin MSc, Kasubdit Kacang-kacangan Direktorat Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Departemen Pertanian usai panen raya kacang hijau di Desa Babat, Kebonagung, Demak, baru-baru ini.

Pemberian dana bantuan itu, lanjut Bembi, bertujuan meningkatkan produksi, kegiatan kelompok tani, serta daya saing. Di sela-sela panen raya itu gabungan kelompok tani agribisnis kacang hijau pada lima kecamatan menandatangani kesepakatan kerja sama dengan PT Suburi Semarang.

Kesepakatan itu menyebutkan hasil panen petani dibeli oleh perusahaan tersebut sesuai dengan harga yang telah disetujui oleh kedua pihak.

Manajer PT Suburi Semarang Ir Tan Sien Liang mengungkapkan potensi kacang hijau di Demak cukup baik. Apalagi pemerintah pusat dan daerah antusias mengembangkan sebagai komoditas andalan.

Dia mengakui kacang-kacangan impor telah masuk Indonesia, misalnya kedelai dari AS serta kacang tanah dari Vietnam dan India. ''Kacang hijau hasil budi daya petani Demak memiliki potensi besar untuk memasuki pasar ekspor,'' tuturnya.

Menurut dia, kualitas kedelai lokal kalah dari kedelai impor. Dari segi kekeringan dan kebersihan kedelai impor lebih memenuhi standar dan bijinya juga besar-besar.

Tekanan pasar global terhadap produk lokal, lanjut dia, kini mulai terasa. Jika pasar Indonesia makin mengglobal dikhawatirkan para petani luar negeri akan menanam di Indonesia.

Kerja sama dengan kelompok tani kacang hijau Demak, kata dia, menunjukkan ada komitmen bersama agar hasil yang diperoleh petani meningkat.

Sistem pemasaran yang diterapkan para petani selama ini masih konvensional, yakni bergantung pada pedagang atau tengkulak.

''Jika tidak lewat tengkulak atau langsung ke gudang maka harga bisa berselisih Rp 50/kg. Kami menerima barang di gudang dengan harga Rp 3.150/kg. Apalagi jika petani mau berhimpun dan berkelompok maka mereka akan mendapatkan nilai lebih,'' jelasnya. (F2-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA