| Selasa, 31 Agustus 2004 | EKONOMI |
Tukang Cuci Piring Itu Kini Jadi Bos Rumah MakanMENJADI wirausaha sukses memang tidak begitu saja jatuh dari langit. Diperlukan ketekunan, kerja keras, dan kesabaran ekstra. Itulah kunci sukses H Bustaman pemilik RM Sederhana yang kini menjadi salah satu jaringan rumah makan terbesar di Indonesia. Bos rumah makan yang memiliki ribuan karyawan itu dulu pada tahun 1963 hanyalah seorang tukang cuci piring di sebuah rumah makan Kota Padang. Pria kelahiran Batu Sangkar, Sumatra Barat 11 September 1942 itu kemudian merantau ke Jakara dan menempati salah satu kios di daerah Bendungan Hilir, Jakarta Selatan sebagai pedagang rokok. ''Waktu itu saya belum membayangkan akan memiliki rumah makan, apalagi bisa seperti sekarang,'' tutur dia saat ditemui RM Sederhana Cabang Jalan Pandanaran Semarang. Ia merintis bisnis itu pada 1971 menggunakan tenda ala kadarnya dan gerobak dorong. Seluruh rokok dagangannya dijual untuk modal membeli bahan baku masakan Padang. Dari hasil penjualan itu ia hanya mengumpulkan Rp 15 ribu. Uang sebesar itu tidak cukup sebagai modal kerja. Beruntung, Bustaman yang putus sekolah saat kelas 3 SD itu mendapat pinjaman dari sebuah bank pasar di Jakarta sebesar Rp 75.000. Lalu dengan modal tersebut ia nekat membuka warung makan pertama di kawasan yang populer dengan sebutan Benhil itu. "Kawasan tersebut waktu itu sudah ramai tetapi belum banyak yang berjualan nasi di sana," kata Bustaman. Dalam tempo setahun hasilnya mulai terlihat. Setiap hari warungnya bisa menjual sekitar 150 porsi dengan harga Rp 60/porsi atau omzetnya Rp 9 ribu/hari. Tahun 1974 dia membeli dua kios masing-masing berukuran 3x4 m2 seharga Rp 300 ribu dengan uang muka 20% dan cililan Rp 9 ribu/bulan selama dua tahun. Setahun kemudian menyewa kios seluas 6x15 m2 di Roxy dengan harga sewa Rp 200 ribu/bulan. Sejak itulah RM Sederhana tumbuh pesat dan mencetak penjualan hingga ratusan ribu rupiah per hari. Trauma Namun, bukan berarti perjalanannya menuju sukses berjalan mulus. Tahun 1979 kebakaran yang melanda kawasan Benhil ikut melumat kios yang dia rintis. ''Saya sedikit trauma, tetapi tetap bertekad memajukan warung makan yang sudah susah-payah saya rintis,'' ujarnya. Setahun kemudian pria ramah itu bangkit lagi. Ketika tahun 1980 para pedagang di Benhil mendapat kemudahan memperoleh kredit pengembangan usaha Bustaman tidak mau ketinggalan. Saat itu ia mendapatkan kredit Rp 3 juta dan digunakan untuk membuka beberapa rumah makan. Maklum, jika hanya mengandalkan modal sendiri RM Sederhana tak akan cepat berkembang. Untuk mempercepat pengembangan rumah makannya Bustaman menggandeng mitra. Cara pertama, pola kerja sama dengan modal ditanggung bersama dan hasil dibagi dua. Pola kedua, ia hanya sebagai pengelola, sedangkan semua modal ditanggung mitra. RM Sederhana yang memiliki 35 cabang di Indonesia dan cabangnya yang terakhir di Semarang, kini sudah menjadi brand atau merek yang sangat dikenal. Nama ''Sederhana'' merupakan nama rumah makan saat pertama ia mendirikan warung. Sekarang hampir pada tiap kota besar di Indonesia warung makan itu berdiri, terutama di jalan-jalan protokol. Uniknya, meski fokusnya masakan Padang tetapi menu setiap cabang di daerah disesuaikan dengan lidah masyarakat setempat. ''Misalnya, di Semarang ada menu masakan agak manis karena memang lidah orang di situ sudah begitu,'' ujar Bustaman. Meski demikian setiap rumah makan memiliki standar rasa yang sama. Maksudnya, antara menu di RM Sederhana di Padang dan Cilacap, misalnya, pasti sama. ''Itu karena sudah menjadi ciri khas yang menjadi kekuatan pasar kami,'' tegasnya. Setelah sukses dengan omzet ratusan juta rupiah setiap bulan, Bustaman tetap tidak meninggalkan kesederhanaanya. Contohnya ketika berkunjung ke cabang ia selalu ikut melayani konsumen. Bahkan, ketika istirahat tidak tidur di hotel, tetapi bersama dengan karyawannya di mess. Kunci sukses lainnya adalah soal harga. Paling penting harganya terjangkau. Namun harga hanyalah salah satu faktor. Pihaknya juga memperhatikan kualitas, layanan, dan kenyamanan pelanggan. Ke depan, Bustaman berniat terus mengembangkan jumlah rumah makannya. (Arie Widiarto-53) |