logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 EKONOMI
Line

Pengadaan Gabah Bulog 1,93 Juta Ton

JAKARTA-Perum Bulog hingga kini telah membeli gabah dan beras petani sebanyak 1,93 juta ton setara beras yang terdiri atas pengadaan dalam bentuk gabah 2,67 juta ton dan dalam bentuk beras 136.300 ton.

"Jumlah pengadaan sebanyak itu tergolong sangat besar. Lebih besar dari stok Bulog pada akhir 2003 yang hanya 1,84 juta ton," kata Widjanarko Puspoyo, Direktur Utama Perum Bulog, kemarin.

Namun, lanjut dia, penyerapan gabah dan beras yang dilakukan Bulog itu oleh beberapa pihak dianggap belum optimal. Termasuk kualitas dan kuantitas pengadaan gabah serta beras dalam negeri yang dirasakan belum sesuai dengan harapan.

Seiring dengan tuntutan kualitas dan kuantitas, pihaknya perlu mendorong peningkatan pemberdayaan penggilingan padi di daerah, di samping lebih memodernisasi penggilingan padi yang dimiliki Bulog serta swasta.

"Lewat program modernisasi produksi petani di masa mendatang dapat meningkat kualitas dan kuantitasnya," tuturnya.

Bulog, kata dia, akan membangun sejumlah alat pengering gabah di daerah sentra produksi, antara lain di Jatim, Jateng, atau Jabar.

Pembangunan alat pengering tersebut tidak hanya dilakukan oleh Bulog, tetapi juga mitra kerjanya, yakni perusahaan penggilingan padi baik koperasi maupun nonkoperasi yang telah lulus seleksi.

Silo

Dalam upaya meningkatkan kualitas gabah petani, lanjut dia, Bulog berencana membangun sejumlah silo penyimpanan gabah dan beras.

Upaya itu untuk memodernisasi sistem penyimpanan bahan pangan menggantikan sistem penyimpanan gabah di gudang yang dianggap sudah tidak lagi memadai.

Menurut dia, sistem penyimpanan gabah dan beras dalam karung di gudang saat ini sudah sangat ketinggalan. Hal itu bisa mempercepat penurunan kualitas gabah atau beras yang disimpan.

''Keuntungan lain gabah atau beras yang disimpan di silo adalah dapat mengurangi kemungkinan terserang hama dan penyakit. Biaya pemeliharaan pun bisa ditekan,'' jelasnya.

Di Thailand, tutur dia, sistem penyimpanan gabah dan beras di dalam silo sudah lama dilakukan sehingga negara itu mempunyai cadangan pangan yang lebih tahan lama dan segar dibandingkan dengan Indonesia.

"Kita memang sudah sangat ketinggalan dalam sistem penyimpanan beras dan gabah dibandingkan dengan Thailand yang selama ini menjadi pesaing kita," ujarnya.

Untuk itu Perum Bulog akan melaksanakan pilot project dengan membangun dua silo yang kemungkinan di sekitar Jakarta, misalnya Karawang.

Mengenai investasi pembangunan silo, Widjanarko mengatakan nilainya Rp 2 miliar-Rp 3 miliar dan itu harus dilakukan jika tidak ingin ketinggalan dalam sistem penyimpanan gabah dan beras. (ant-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA