logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 BANYUMAS
Line

''Ceu, Sun Inyong Dhisit ...''

KEPERGIAN korban mutilasi, Herryadi (47) atau akrab disapa Herry Best, dari rumahnya, Selasa (24/8) siang, ternyata merupakan kepergian selama-selamanya. Pertemuan terakhir dengan keluarga di rumahnya Jalan Kauman Lama 24 Kelurahan Purwokerto Lor berlangsung dalam suasana mesra.

Saat itu, menurut cerita Abdul Latief dan Abdul Hamid (putra keempat dan pertama Herry), lelaki itu tampak manja pada sang istri, Riiltanti (40). Tak seperti biasa, Senin (23/8) malam Herry Best juga tidur di rumah.

''Pas bangun Bapak tidak biasanya aleman sama Ibu. Dia bilang pada Ibu, 'Ceu, Ceu, sun inyong dhisit.' Padahal, biasanya tidak seperti itu,'' ujar Latief. Herry, kata dia, memang selalu menyapa sang istri Ceu.

Saat berkumpul dengan keluarga hampir satu setengah jam itu, sejak bangun sekitar pukul 6.30 hingga pukul 8.00 Herry begitu ceria, terutama dengan kedua anak terakhir yang belum berkeluarga, Maharani dan Nur Istiani. Lelaki kekar penggemar silat itu lebih banyak berlendotan atau merebahkan diri pada istri pertamanya. Saat itu Latief juga berada di rumah tersebut.

Mantan Guru

''Saat dia minta disun, Ibu pun mencium pipinya. Baru siang hari Bapak pamit pergi,'' ujar Latief. Dia menuturkan sang ayah mau ke atas (Pandak, Baturraden-Red).

Mantan guru SD itu juga menyatakan ingin kembali mengurusi lahan keamanan. Sebelumnya dia dicari orang dari sebuah perusahaan angkutan umum. ''Katanya dia keluar untuk mengurus masalah itu,''' ujar Hamid.

Selama ini Hamid tinggal bersama dengan istrinya di Purbalingga. Di rumah tinggal kedua adiknya yang belum nikah dan Abdul Latief. Adapun anak kedua, Nuraini, tinggal di Sumatera dan anak ketiga, Abdul Hakim, saat ini masih menjalani hukuman.

Nuraini menceritakan, sebagaimana ditirukan Hamid, mendapat firasat bahwa sang bapak baru saja mendapat undian sekitar Rp 10 juta. Sebagian uang itu hendak dipakai untuk mengunjunginya di Sumatera. ''Namun saat bertemu Bapak tampak sedih. Padahal, semestinya dia senang,'' kata Hamid, menirukan ucapan Nuraini.

Saat pergi Selasa itu Herry berkaus merah dan bersepatu kets. Selama ini setiap kali bepergian, dia pasti pulang malam hari. Jika pergi ke luar kota dia selalu mengontak keluarga. Jauh sebelumnya, malam Minggu (21/8), kata Latief, Herry cekcok dengan sekelompok orang di hotel dan Diskotek Puriwisata.

Sampai kemarin petang, rumah duka di Gang Buntu Kauman masih dipenuhi pelayat. Pihak keluarga masih menunggu kepastian dari kepolisian, kapan jenazah Herry bisa dibawa pulang untuk dikuburkan.

Sampai kemarin pula potongan sebagian tubuhnya masih berada di RS MS Margono Soekardjo. Suasana di rumah duka seperti itu sudah berlangsung sejak Sabtu (28/8), saat kali pertama keluarga itu mendapat informasi soal kematian Herry Best. (Agus Wahyudi, Khoerudin Islam, Sigit Oediarto-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA