logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 31 Agustus 2004 BANYUMAS
Line

Polisi Periksa Delapan Saksi

  • Termasuk Pengirim dan Penerima SMS

PURWOKERTO - Polisi bekerja keras untuk mengungkap pembunuhan terhadap Herry Best. Polisi mengumpulkan informasi dari berbagai pihak dan memanggil sejumlah saksi untuk meminta keterangan.

''Kami sudah memeriksa delapan saksi,'' kata Kapolres Banyumas AKBP Drs Erwin Triwanto, melalui Kasat Reskrim AKP Arif Fajarudin, kemarin.

Saksi yang dimintai keterangan adalah orang yang menemukan dan sejumlah kenalan Herry Best. Meski sudah memeriksa sejumlah saksi, polisi belum bersedia menyebutkan nama mereka. ''Saksi yang akan kami periksa masih bertambah,'' katanya.

Polisi juga sudah memeriksa orang-orang yang menerima SMS pada Jumat (26/8), yang menyebutkan Herry Best dibunuh. Ketika SMS itu beredar, polisi belum memperoleh informasi soal pembunuhan tersebut.

Isi SMS itu antara lain ''Herry Best mati dibunuh. Dan ada pula yang menyebutkan ini informasi rahasia, jangan disampaikan kepada siapa-siapa, Herry Best sudah dibunuh.''

Berita lewat SMS itu juga diketahui Abdul Latief (24), anak ketiga Herry Best, Jumat (27/8). Dia mengetahui SMS itu dari temannya yang menerima kiriman SMS dari orang lain.

Lapor Polisi

Latief sudah memberi tahu polisi nama pengirim dan penerima SMS itu sejak Selasa (24/8), ketika Herry tidak pulang. Setelah menerima SMS itu tiga hari kemudian, Latif terus mencari sang ayah.

''Kami minta polisi segera mengusut kematian Bapak. Tangkap siapa saja yang terlibat dan adili serta hukum yang berat. Pembunuhan ini kejam sekali,'' ujarnya.

Apakah orang yang mengirim dan menerima SMS sudah diperiksa?

''Kami sudah menelusuri penerima dan pengirim SMS. Orang-orang yang menerima dan mengirim pesan singkat juga sudah kami mintai keterangan,'' kata AKP Arif Fajarudin.

Polisi pun menerima informasi dari berbagai pihak.''Saya datang ke sini hanya untuk memberikan informasi tentang SMS yang saya terima. Jadi saya datang sebagai informan, bukan saksi,'' kata Budiyono SH MH di Polres Banyumas.

Diberitakan kemarin, potongan mayat korban pembunuhan ditemukan Sabtu (28/8) malam di Sungai Serayu, Banjarnegara, dan Minggu (29/8) dini hari di dekat Telaga Sunyi Baturraden. Dari potongan mayat yang terbakar dan sebagian hangus itu, baru bagian tubuh Herry Best yang dapat diidentifikasi.

Nama resmi korban adalah Herryadi. Dia dikenal dengan nama Herry Best karena menjadi guru besar silat di Purwokerto. Nama Best merupakan singkatan dari nama padepokan silatnya, yaitu Bela Diri Sakato Tiger (Best). Mantan guru SD IV Karangklesem itu terakhir tinggal di Kauman Lama Gang Buntu, belakang Lippo Bank.

AKP Arif Fajarudin mengemukakan polisi masih mencari identitas korban yang potongan tubuhnya juga ditemukan di lokasi penemuan tubuh Herry Best.

Karena itu, potongan tubuh korban tersebut, termasuk milik Herry, belum bisa diambil keluarganya dan masih di simpan di kamar mayat RSUD Prof dr Margono Soekarjo (RSMS).

Jika pemeriksaan forensik selesai, mayat Herry akan diserahkan ke keluarganya. Selagi belum ada penyerahan, mayat itu belum bisa diambil dari kamar mayat.

Tak Dimandikan

Keluarga Herry berharap polisi segera menyerahkan jenazah Herry, karena akan segera dimakamkan. Mereka sudah membuat liang lahat di pemakaman Purwokerto Lor.

''Kami hanya berharap pembunuhnya segera ditangkap. Saya percayakan itu pada polisi,'' ujar Abdul Hamid, putra pertama Herry.

Keluarganya berencana, begitu jenazah Herry diserahkan akan dibawa pulang ke rumah, baru kemudian dimakamkan. Kemungkinan jenazah itu tidak dimandikan karena tak memungkinkan. Namun sesuai dengan syariat Islam, jenazah itu boleh dishalati.

Dari Purbalingga dilaporkan, sejak kemarin pagi berkembang isu temuan kepala wanita di Kecamatan Bukateja.

Kasat Reskrim AKP Warokah, kemarin, menyatakan sejak muncul isu itu Kapolres memerintah seluruh jajaran polsek menyusuri Sungai Serayu, terutama di wilayah Bukateja, Rembang, dan Kemangkon.

Namun sampai kemarin petang tak ada laporan tentang temuan kepala wanita. Penjelasan itu juga disampaikan Direktur RSUD Purbalingga, dr Nonot Mulyono. ''Tak ada kiriman mayat atau potongan tubuh ke kamar jenazah RSUD,'' katanya. (in,G22,G23, F10-86)

Dugaan Latar Belakang Pembuhuhan

1. Dendam pribadi yang lama tersimpan.

2. Terlibat pertengkaran di tempat hiburan.

3. Berkait rencana Herry menguasai lahan keamanan.

4. Tingkah laku Herry menyinggung kelompok tertentu.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA