logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 30 Agustus 2004 RAGAM
Line

TASAWUF INTERAKTIF

Doa ketika Hadas

T: Bapak Amin yang terhormat, saya ingin bertanya:

1. Doa atau bacaan apa yang boleh diucapkan dalam kondisi hadas agar pikiran tidak kosong?

2. Apa manfaat ayat 15 dan bagaimana cara penggunaannya?

Karningsih

di Semarang

J: Sdri Karningsih yang terhormat, hadas adalah kondisi saat seseorang terhalang untuk melakukan ibadah, karena tidak dalam keadaan suci. Sedangkan ibadah merupakan sebuah ritual keagamaan yang esensinya adalah komunikasi dengan Tuhan. Dalam berkomunikasi dengan Tuhan yang Maha Suci mengharuskan seseorang dalam kondisi suci pula, sehingga apabila seseorang sedang hadas besar (haid, junub) tidak boleh melakukan shalat sebelum bersuci (mandi besar). Sementara seseorang yang sedang hadas kecil (buang angin, kencing, berak) tidak boleh shalat sebelum berwudlu.

Larangan ibadah bagi orang yang sedang hadas mencakup pula larangan membaca Alquran. Orang yang sedang hadas dilarang membaca Alquran karena Alquran adalah kitab suci yang berisi firman Allah Yang Maha Suci, sehingga orang yang membacanya juga harus suci (QS. Al-Waqi'ah/56:77-80). Namun larangan membaca Alquran tidak berarti larangan membaca bacaan-bacaan yang diambil darinya dengan niat sebagai dzikir atau doa.

Ketika sedang hadas, seseorang boleh membaca doa atau dzikir yang diambil dari Alquran, lebih-lebih jika bacaan tersebut dibaca dalam hati. Untuk orang yang sedang buang air, selayaknya tidak membacanya secara lisan, boleh membaca secara lisan sebelum buang air, yaitu ketika akan masuk ke tempat buang air.

Jadi bagi orang yang sedang dalam kondisi hadas dapat membaca doa atau berdzikir dengan cara tersebut di atas. Karena hal itu dapat menjaganya dari kekosongan pikiran atau melamun dan memikirkan hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu doa atau bacaan apa pun yang baik dapat diucapkan ketika dalam kondisi hadas, baik hadas besar ataupun hadas kecil.

Khusus untuk orang yang sedang hadas besar, meski diperbolehkan membaca bacaan-bacaan tersebut, namun alangkah baiknya jika begitu selesai hadas besar bersegera untuk bersuci (mandi besar), dan jangan menunda untuk waktu yang lama. Jangan membiarkan diri berlama-lama dalam kondisi hadas, karena banyak kerugian yang timbul karenanya. Dari segi kesehatan, membiarkan diri dalam kondisi hadas akan mempengaruhi kebersihan dan kesehatan badan.

Dalam tinjauan tasawuf, membiarkan diri dalam kondisi hadas akan mempengaruhi kesucian jiwa. Kesucian jiwa merupakan tujuan utama dalam tasawuf, karena jiwa yang suci merupakan sarana berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Suci. Penundaan bersuci dalam jangka waktu lama dari segi ibadah juga mengurangi kesempatan Anda untuk mendapatkan pahala, karena ada kesempatan ibadah yang terlewatkan selama hadas tersebut.

Untuk pertanyaan Anda yang kedua, sejauh pengetahuan saya ayat lima belas merupakan rangkaian bacaan yang diambilkan dari ayat-ayat Alquran. Ayat ini diyakini oleh para ahlu khawash (para wali) memiliki faedah/manfaat yang banyak. Di antara faedahnya adalah:

1. Untuk kesembuhan dari penyakit.

Cara penggunaan ayat lima belas untuk tujuan memohon kesembuhan dari penyakit. Ayat lima belas ini dibaca langsung dihadapan orang yang sakit atau diniatkan untuk orang yang sakit. Untuk lebih utamanya sangat dianjurkan jika orang yang sakit ikut membacanya dan membiasakan membaca ayat ini.

2. Tercapainya maksud, cita-cita, serta harapan dengan seizin dan ridla Allah SWT.

3. Untuk mahabbah (dicintai manusia). Jika pemimpin, akan dicintai rakyatnya asal selalu di jalan Allah SWT.

4. Menang dari musuh yang zalim.

5. Mendapat ampunan dari Allah.

6. Dijaga dirinya, keluarganya, hartanya oleh Allah SWT. dari segala marabahaya yang mengancam.

Mengenai cara penggunaan ayat lima belas ini, secara umum Anda dapat membacanya sebagai wirid (bacaan rutin) setiap pagi. Dapat juga Anda baca setelah shalat fardlu. Demikian, wallau a'lam bis-shawab.(35)

Catatan Redaksi: Menurut M.Said dalam bukunya ''Ayat 15'' terbitan PT Alma'arif Bandung, bahwa ayat-ayat tersebut merupakan ayat-ayat mutiara yang tersebar pada beberapa tempat dalam Alquran. Kemudian dikumpulkan oleh Ulama Mujtahidin hingga merupakan rangkaian mutiara yang sangat berharga dan terkenal dengan sebutan ''Ayat Limabelas'' disamping juga ada''Ayat Lima'' dan ''Ayat Tujuh''.

Untuk ''Ayat Limabelas'' diambilkan dari surat Ali 'Imron:1 dan 13, Ar-Ro'du:31, Yaa Siin:82, Al-Fatatihah:2, Qaaf:15, Al-Hadiid:4 dan 25, At-Taghaabun:13, At-Thalaaq:3, Al-jin:28, Al-Muzzammil:9, An-Naba':38, 'Abasa:18, At-takwiir:20, dan Al-Buruuj:20-21.(35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA