| Senin, 30 Agustus 2004 | SEMARANG |
Kerusakan Hutan Bakau dan Upaya Penanganannya (1)Yang Tersisa, Pohon Berjarak RenggangTINGKAT kerusakan area hutan bakau di wilayah pesisir Kabupaten Kendal, sejak sepuluh tahun ini semakin mengkhawatirkan. Di daerah yang memiliki garis pantai sepanjang lebih kurang 41,2 km tersebut, kini diperkirakan hanya menyisakan kawasan seluas 30-40% saja. Selebihnya, atau 60-70% hutan hilang akibat terkena abrasi ombak Laut Jawa ataupun ulah manusia. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Setyo Sri Mardiko, yang bersambung mulai hari ini. PUKUL 09.00 pagi, saya dan seorang teman memulai "petualangan" untuk melihat secara langsung sisa-sisa hutan bakau di kawasan Pantai Kendal. Hangat sengatan matahari membangkitkan semangat kami. Perjalanan laut dengan menumpang sebuah perahu tradisional bermesin disel, dimulai dari kampung nelayan Bandengan, Kendal Kota, menuju ke arah barat. Rencananya kami akan menyusuri pantai hingga ke wilayah Kecamatan Rowosari, yang berjarak sekitar 30 km. Namun karena kendala alam, yaitu ombak Laut Jawa pada Agustus ini cukup besar, niat itu pun terpaksa kami urungkan. Perahu itu ternyata kesulitan untuk mendekati pantai. Saya merasa kurang puas, karena tidak dapat melihat sasaran dari dekat. Perjalanan laut yang memakan waktu hampir dua jam, akhirnya kami hentikan, dan mendarat di TPI Tanggul Kali Malang, Patebon. Dari sini, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan melalui darat, menggunakan sepeda motor menyusuri jalan setapak di hamparan areal pertambakan. Pantauan dari laut dan darat yang memakan waktu tidak kurang dari delapan jam. Meski tak melihat seluruh kawasan pantai Kendal, lebih dari cukup untuk menjadi catatan. Hampir seluruh wilayah pantai yang berada di tujuh wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Kaliwungu, Brangsong, Kendal Kota, Patebon, Cepiring, Kangkung, dan Rowosari, saat ini kondisinya sangat kritis dan mengkhawatirkan. Gerumbulan Pohon Hutan bakau yang di era 70-an masih lebat ijo royo-royo, sejak sepuluh tahun terakhir sebagian besar hanya tampak berupa gerumbulan beberapa jenis tanaman bakau, seperti pohon bakau, api-api, dan tanaman hasil reboisasi yakni pohon tancang. Gerumbulan tanaman itu terpisah berjauhan satu sama lain, bahkan jaraknya mencapai enam kilometer. Ketika didekati, gerumbulan itu hanya berupa kumpulan pohon yang satu dengan lainnya berjarak renggang. Satu-satunya kawasan pantai di sepanjang pantai Kendal yang terlihat rimbun dan hijau dapat dijumpai di wilayah Desa Kalirejo, Kecamatan Kangkung. Areal hutan di daerah tersebut adalah hasil budi daya dan reboisasi "pejuang" lingkungan yang berasal dari masyarakat desa setempat. Luas hutan di daerah ini sekitar 150 hektare. Di wilayah pantai yang kehilangan hutan, rata-rata mengalami abrasi atau erosi pantai dan akresi atau penambahan luas daratan yang terjadi dari luapan tanah/pasir yang terbawa ombak atau arus sungai. Tanah/pasir hasil akresi berasal dari abrasi pantai dan pendangkalan muara sungai, misalnya terjadi di beberapa titik pantai wilayah Desa Pidodo Kulon, Patebon. Daerah yang terkena abrasi dan akresi, umumnya adalah wilayah pertambakan. Pemandangan yang gersang dan kering, terlihat kentara di lokasi kritis itu. "Sebagai perbandingan, di era 80-an awal luas hutan bakau di wilayah Kaliwungu mencapai 500 hektare, sedangkan kini luasanya hanya berkisar 14,1 hektare. Luas hutan yang tersisa tersebut saat ini, hanya ada di Desa Wonorejo. Tanaman bakau di desa itu kini hanya berupa gerumbulan-gerumbulan kecil pohon yang berjarak renggang. Kondisi lebih parah terjadi di wilayah pantai Brangsong, sebab di daerah itu nyaris tidak ada lagi hutan," kata Kasi Pemantauan dan Pemulihan Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Pedalda) Pemkab Kendal M Ichsan Hisjam, ketika bersama Suara Merdeka di lapangan, Sabtu (28/8). Butuh Rp 10 M Kepala Kantor Perikanan dan Kelautan (KPK) Kendal Ir Suharno, seperti yang di lansir dalam harian ini (SM, 31/5) mengatakan, timbulnya kerusakan hutan bakau terjadi hampir menyeluruh di kawasan pantai utara Laut Jawa. "Kerusakan hutan disebabkan oleh pembuatan areal tambak baru. Petani tak mengindahkan aspek lingkungan, karena saat membangun tambak juga melakukan penebangan pohon-pohon bakau. Kondisi ini semakin parah dengan terjadi abrasi akibat ombak Laut Jawa." Dia mengemukakan, untuk mengembalikan kawasan hutan bakau bukan upaya yang mudah. Selain diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak, yaitu instansi terkait dan masyarakat juga dibutuhkan pendanaan yang sangat besar. "Pada 1997 lalu, kami sudah mengajukan anggaran ke Dinas Perikanan dan Provinsi Jateng Rp 7 miliar, namun belum direalisasi. Saat ini, perkiraan kebutuhan dana untuk kebutuhan tesebut tentu lebih besar, karena disesuaikan dengan nilai tukar mata uang, kami memperkirakan saat ini membutuhkan dana untuk reboisasi pantai Rp 10 miliar." Berdasar data Kantor KPK, luas lahan hutan bakau di Kendal saat ini hanya tersisa 1 % dari luas tambak secara keseluruhan, yaitu 3.300 hektare. Padahal, menurut penelitian instansi tersebut idealnya luas hutan bakau minimal harus 20 % dari luas total tambak. Di pesisir pantai Kendal, kini hanya tersisa hutan bakau seluas 31,7 hektare. (bersambung-84b) |