| Senin, 30 Agustus 2004 | SEMARANG |
''Sunat Biar Cepat Gede''''NGGAK sakit kok, rasanya seperti digigit semut,'' rayu seorang anggota tim medis dari Tim Assyifa RSUP Kariyadi Semarang kepada Ariyanto (11) salah satu peserta khitanan massal yang diselenggarakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 Semarang (Untag) di Balai Kelurahan Ngaliyan, Minggu (29/8). Namun Ariyanto yang masih duduk di kelas satu SMP itu tetap kesakitan. ''Aduh sakit!'' teriaknya saat sebagian kulitnya hendak dipotong. Beberapa saat kemudian, proses sunat Ariyanto selesai setelah pembiusan lokal diulang. Ya, pagi itu adalah hari yang sangat spesial bagi Ariyanto dan beberapa warga Kecamatan Ngaliyan. Balai Kelurahan Ngaliyan diubah sedemikian rupa layaknya bangsal operasi. Setiap pasien ditangani oleh sekitar 2-3 anggota tim medis. Adapun keluarga pasien menunggu di samping panggung sambil mulut komat-kamit berdoa agar proses sunat berjalan lancar. ''Sudah lama saya ingin disunat. Biar cepat gede,'' ujar Riagung Nugroho yang masih duduk di kelas V SD saat antre sunat. Ketua penyelenggara, Bakhori menyatakan, sunatan massal diikuti oleh 11 orang yang berasal dari Kelurahan Wates, Ngaliyan, Purwoyoso, dan Tambak Aji Kecamatan Ngaliyan. ''Kami telah melakukan sosialisasi ke sekolah dan pertemuan di RT/RW kelurahan-kelurahan di sekitar Kecamatan Ngaliyan tentang sunatan massal ini. Target kami diikuti minimal 30 peserta, tapi kenyataannya hanya diikuti oleh belasan,'' ungkapnya. Menurut dia, keengganan masyarakat untuk mengikuti sunatan massal lebih disebabkan pandangan sebagian masyarakat bahwa Minggu (29/8) kemarin bukan hari baik untuk melaksanakan sunatan. ''Mitos-mitos seperti ini yang menjadi pekerjaan kami selain melakukan kegiatan fisik dalam KKN.'' Penurunan peserta sunatan massal gratis ini, lanjut dia, karena adanya pandangan masyarakat bahwa sunatan massal hanya untuk masyarakat kurang mampu. ''Padahal ini adalah kegiatan pengabdian mahasiswa KKN. Semua lapisan masyarakat boleh ikut,'' tegasnya. Peserta sunatan massal selain mendapat baju koko, kain sarung, peci, dan uang saku, juga perawatan tiga hari kemudian. (Widodo Prasetyo-84i) |