| Senin, 30 Agustus 2004 | SEMARANG |
Guru, Patriot Tanpa Tunjangan JasaTerpuruklah wahai engkau ibu bapak guru Gajimu takkan menjamin hidup dalam harimu Semua baktimu takkan dipikir oleh penguasa Sebagai pengabdi, trima gajimu tak cukup seminggu PARODI lagu "Hymne Guru" yang syairnya diplesetkan itu dibawakan oleh Wullanningrum SP, guru TK Tri Tunggal Semarang. Pada malam penganugerahan pemenang lomba guru kreatif Jateng-DIY di Unika Soegijapranata, Sabtu (28/8), Wullanningrum dinobatkan sebagai juara umum. Jawaban Wullanningrum saat ditanya "seandainya saya didaulat sebagai menteri pendidikan nasional" memukau dewan juri dan ratusan hadirin yang memadati ruang teater Thomas Aquinas. Bergaya khas seorang guru TK, Wullanningrum memadukan gurauan sekaligus sindiran terhadap penguasa yang belum juga memberikan perhatian khusus kepada dunia pendidikan. ''Saya ingat, ketika bersekolah dulu semua orang tua mewanti-wanti supaya tidak memilih jadi guru. Katanya, gaji guru terlampau kecil, tak pernah sejahtera,''ujarnya disambut tepuk tangan penonton. Namun dengan ironi itu pula, Wullaningrum menegaskan bahwa profesi guru merupakan pilihannya. Dia juga menekankan bahwa pendidikan bukan semata-mata tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab orang tua. ''Sebelum masuk sekolah, banyak anak yang suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis dan filasofis. Namun ketika mereka duduk di bangku sekolah, tiba-tiba kekritisan itu sirna. Siapa yang bertanggung jawab menyirnakan kekritisan anak-anak?''gugatnya. Tak urung dewan juri pun terhenyak mendengar jawaban mahasiswa magister manajemen pendidikan UKSW ini. Empat Nominator Wullanningrum menyisihkan sekitar 317 peserta yang kemudian disaring ketat menjadi empat nominator dari empat kategori. Keempat kategori itu meliputi guru SLB, SD, SMP, dan SMA. Para nominator tersebut merupakan pemenang pertama dari masing-masing kategori yang kemudian diuji publik oleh dewan juri, praktisi pendidikan, dan jurnalis. Hampir semua nominator menunjukkan kemampuan mengesankan. Sebut saja Widyatmoko S Antonius, guru SLB Widya Bhakti Semarang yang memeragakan pembelajaran sistem informasi bahasa isyarat (SIBI). Demikian pula dengan Rudy Prakanto, guru SMA 6 Yogyakarta yang berani mengkritik pola kelas akselerasi. Segala kemampuan yang ditunjukkan para guru agaknya menjadi kesan mendalam malam itu. Pada sambutannya, ketua panitia, Drs Theodorus Sudimin mengingatkan sudah selayaknya semua pihak memberi imbalan yang sepadan dengan dedikasi para guru. Begitu pula Dirut PT Ulam Tiba Halim, Harjanto Halim MSc, sponsor utama kegiatan itu, mengatakan hal serupa. ''Kegiatan seperti ini dapat memacu kreativitas para guru,''tutur Kepala P dan K Jateng, Drs Suwilan Wisnu Yuwono MM. Malam itu, agaknya profesi guru kembali diutarakan seperti sebuah ironi. Rekaman aktivitas para guru yang ditayangkan dalam slide proyektor menjadi tengara bahwa dedikasi mereka tak perlu diragukan lagi. Namun ironi itu tetap mengemuka. Di balik humor dan sindiran, kesan bahwa guru sebagai "patriot tanpa tunjangan jasa" terasa kian melekat. (Ninik D-73) |