| Senin, 23 Agustus 2004 | RAGAM |
Shalat dan Hari Kasih SayangT: Prof Amin yang terhormat, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan, semoga berkenan menjawab. 1. Shalat itu kebutuhan atau kewajiban? Kalau shalat itu kebutuhan, terasa sekali, shalat itu pelarian di waktu butuh pertolongan Tuhan. Kalau shalat itu kewajiban terasa sekali adanya paksaan, sehingga dalam melakukannya hanya sekadar menggugurkan kewajibannya. 2. Bagaimana hukumnya ikut merayakan hari Valentine Day yang nota-bene adalah budaya Barat. Sementara ada hadis yang mengatakan ''Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka''? Demikian dan terima kasih. S Azz di Jawa Tengah J: Sdr S Azz yang sedang bimbang, menarik sekali pertanyaan yang Anda ajukan. Memang gejala semacam yang Anda alami adalah fenomena masa transisi dari budaya dogmatis-doktriner ke budaya rasional-akademis. Ketika seseorang berada dalam masa tersebut, dirinya akan mempertanyakan segala sesuatu dengan cara yang lebih kritis. Yakni, apakah sesuatu itu logis, rasional ataukah tidak? Dan ketika seseorang tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan akan tetap bertanya-tanya? Mengenai pertanyaan pertama, sebetulnya Anda telah memberikan jawabannya sendiri. Shalat adalah kewajiban sekaligus kebutuhan setiap orang Muslim. Shalat adalah salah satu perintah agama yang harus ditaati oleh pemeluknya. Agama diciptakan oleh Allah untuk manusia, dan segala perintah serta larangan-Nya adalah demi kebaikan manusia. Shalat diperintahkan agama karena memberikan kebaikan bagi pelakunya, seperti dengan shalat seseorang akan ingat kepada Allah (QS Taha/20:14), shalat juga bisa mencegah seseorang berbuat keji dan munkar (QS. Al-'Ankabut/29:45). Perihal manusia merasa terpaksa dalam melakukannya adalah persoalan tersendiri. Sebagaimana diketahui dalam diri manusia terdapat dua unsur yang saling bertolak belakang, yaitu akal/hati dan hawa nafsu. Akal/hati cenderung mengajak manusia untuk taat dan mengabdi kepada Allah SWT, sebaliknya hawa nafsu cenderung untuk ingkar dan berbuat maksiyat kepada-Nya. Ketika nafsu menguasai diri manusia, maka manusia akan menolak untuk taat dan mengabdi kepada Allah SWT sebagaimana dalam kasus ini manusia akan merasa berat dan terpaksa melakukannya. Sebetulnya hal itu sudah disinyalir oleh Alquran surat Al-Bagarah/2:45. ''Dan mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya shalat itu perkara yang besar (berat dilakukan) kecuali bagi mereka yang khusuk.'' Shalat juga berarti kebutuhan, dan anggapan ini tidak salah sama sekali. Sebagaimana dalam ayat tersebut di atas, ketika seseorang sedang ditimpa masalah hendaknya meminta pertolongan Allah SWT dengan cara tetap bersabar dan melakukan shalat. Shalat adalah sarana komunikasi dengan Allah SWT sehingga pada saat itulah yang tepat bagi manusia memohon pertolongan dan bantuan-Nya. Ketika seseorang mampu memahami filosofi shalat tersebut, maka dengan terasa ringan dia akan melakukannya dan tanpa terpaksa akan melakukannya. Karena itu adalah kebutuhannya. Kebaikan yang diperoleh dari sahalat juga akan kembali kepada dirinya sendiri. Sementara itu tentang perayaan Valentine Day (Hari Kasih Sayang) yang sering dirayakan oleh kalangan muda-mudi, termasuk kalangan muda-mudi Islam, memang layak untuk dicermati. Valentine Day yang berasal dari budaya Barat tidak sepenuhnya cocok untuk budaya Timur atau Islam, namun tidak berarti kita menolak seluruhnya. Karena ada sisi positif di dalamnya, yaitu kasih sayang. Islam juga menekankan adanya kasih sayang kepada sesama, bukan hanya sehari sebagaimana dalam Valentine Day, tetapi terus menerus sepanjang hidup. Yang patut dikhawatirkan adalah akibat negatif dari perayaan tersebut. Karena terdapat unsur-unsur yang bertentangan dengan norma-norma/adat ketimuran dan melanggar etika Islam. Kasih sayang yang terkandung di dalam perayaan tersebut sering disalahartikan dengan pergaulan bebas yang tidak lagi memperhatikan norma dan susila. Muda-mudi yang tidak terikat hubungan resmi dapat dengan bebas melampiaskan nafsu syahwatnya dengan dalih kasih sayang. Oleh karena itu kita harus senantiasa memberikan pengertian kepada saudara-saudara kita tentang dampak dari perayaan tersebut. Yakni semakin intensif membina keimanan dan ketaqwaan bersama jangan sampai budaya-budaya negatif semacam itu masuk dan merusak budaya kita. Wallahu a'lam bishshowab.(35) Bagi yang berminat dengan rubrik ini, kirimkan surat ke alamat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, d/a LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) dan Lembkota Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 70124706. Di atas sebelah kiri amplop ditulis "Interaktif Tasawuf" |