logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Agustus 2004 RAGAM
Line

Deteksi Dini Kanker Payudara

KANKER leher rahim dan kanker payudara sampai saat ini masih merupakan urutan teratas dari kanker pada wanita, dengan angka kematian yang masih tinggi. Di Eropa 60 per 100 ribu, Amerika Serikat 100 per 100 ribu dan di berbagai negara di Asia sekitar 10-40 per 100 ribu penduduk. Di Amerika Serikat sekitar 15% kematian akibat kanker pada wanita disebabkan oleh kanker payudara, yaitu lebih dari 40 ribu kematian dalam tahun 2004. Di Indonesia belum ada data yang pasti.

Sampai sekarang penyebab pasti dari kanker payudara belum diketahui, namun yang pasti penyebabnya adalah multi-faktorial. Faktor yang berperan dalam proses terjadinya kondisi tersebut antara lain, faktor genetik yang diturunkan (5-10 %), riwayat kanker payudara dalam keluarga, menopause lambat, menarche (menstruasi pertama) dini, jumlah kehamilan, hamil aterm pada usia tua, umur saat paritas (melahirkan) pertama.

Hal lain yang juga berperan adalah obesitas (kegemukan), pola makan, penggunaan obat kontrasepsi yang lama, kurangnya aktivitas fisik, dan penggunaan estrogen pasca menopause. Perlu diketahui pada 50% penderita kanker payudara tidak ditemukan faktor risiko lain kecuali gender dan umur.

Pendekatan Diagnosis

Pada mereka dengan risiko tinggi terserang kanker payudara ini perlu dilakukan upaya diagnosis dini dengan lebih cermat. Upaya deteksi dini yang paling sederhana dengan melakukan sarari (memeriksa payudara sendiri) sekitar sebulan sekali, atau beberapa hari setelah mulai masa haid.

Apabila ada kecurigaan, harus dilakukan USG payudara atau mamografi. USG dan mamografi masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga dapat saling mengisi. Sebaiknya digunakan USG yang dapat memberikan resolusi yang tinggi agar bisa diperoleh gambaran rinci dari lesi. USG yang digunakan sebaiknya memiliki frekuensi lebih 10 mHz agar resolusi yang diperoleh dapat mengidentifikasi mikrokalsifikasi. Dengan demikian dapat digunakan sebagai petunjuk untuk prosedur biopsi jarum.

Dengan menggunakan USG 3D akan lebih mendapat gambaran yang lebih rinci mengenai bentuk, volume, permukaan dari tumor. Dengan bantuan vascular Doppler bisa terlihat gambaran pembuluh darah di daerah tumor, sehingga dapat lebih mendeteksi secara dini bila mengarah keganasan atau kanker.

Pemeriksaan dengan USG aman karena bebas radiasi dibanding dengan mamografi. Marker tumor (petanda tumor) dalam klinik digunakan untuk skrining, diagnosis, prognosis, atau rekurensi kanker. Interpretasinya harus dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium lainnya. Karena beberapa marker tumor dapat meningkat pada kondisi non kanker, dan tidak semua pasien kanker meningkat marker tumornya terutama pada tahap penyakit yang lanjut, serta banyak marker tumor yang tidak spesifik.

Petanda tumor dalam penatalaksanaan kanker payudara termasuk salah satu faktor prognostik dan prediktif. Faktor prognostik adalah pemeriksaan saat diagnosis atau sewaktu operasi, tanpa terapi ajuvan, yang dihubungkan dengan angka rekurensi, kematian atau outcome klinik lainnya. Faktor prediktif adalah pemeriksaan yang dihubungkan dengan respons terhadap terapi spesifik. Faktor prognostik dan prediktif lainnya adalah karakteristik pasien yang tidak tergantung dengan penyakit (misalnya umur) dan karakteristik penyakit (misalnya ukuran tumor dan jenis histopatologis).

Petanda tumor yang sering diperiksa adalah CA 15-3, Carcinoembryonic Antigen (CEA), reseptor estrogen, reseptor progesterone, HER-2, cathepsin-D, p53. Diagnosis pasti dari kanker payudara dan jenisnya diperoleh melalui biopsi tumor. Sampai awal 1980 biasanya dilakukan biopsi insisi atau eksisi, sekarang biopsi dengan jarum halus (fine needle biopsy) dan core needle biopsy sudah menjadi standar untuk diagnosis.

Prognosis Klinis

Pasien kanker payudara dibagi dalam 2 kelompok besar (Konsensus Internasional St. Gallen) yaitu :

a. Faktor risiko rendah/minimal. Ukuran tumor kurang atau samadengan 2 cm, usia pasien lebih atau samadengan 35 tahun, histologi (pemeriksaan jaringan tumor) tingkat 2-3, reseptor hormon positif (baik reseptor estrogen maupun reseptor progesteron) dan metastasis (jangkitan) kelenjar getah bening negatif.

b. Faktor resiko menengah/ tinggi. Adanya invasi jaringan/sel tumor ke pembuluh darah dan ke pembuluh limfe.

Pengobatan

Pengobatan penderita kanker payudara dapat berupa operasi, radiasi, dan terapi sistemik (kemoterapi, terapi hormonal, antibodi monoklonal). Sementara jenis terapi yang akan diberikan ditentukan stadium penyakit, faktor resiko klinis dan reseptor hormon.

Yang perlu diingat, pengobatan kanker payudara harus selalu melalui pendekatan multidisiplin yang komprehensif. Penentuan stadium TNM (Tumor, Nodes, Metastasis) sangat menentukan pilihan cara operasi dan radiasi yang akan dilakukan, sementara berbagai faktor prognostik sangat berperan dalam pilihan terapi sistemik yang akan diambil.

(Dr.Djoko Merdikoputro Sp.PD/Klinik Hoo Semarang-35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA