| Senin, 23 Agustus 2004 | PANTURA |
Beberapa Pengusaha Batik Ikuti Pameran di JakartaPEKALONGAN - Beberapa pengusaha yang tergabung dalam Koperasi Trading House (TH) Kota Pekalongan akan mengikuti pameran di Smesco Jakarta yang akan dibuka oleh Presiden Megawati, Kamis 26 Agustus mendatang. Kepala Dinas Kooperasi dan UKM Kota Pekalongan Ir Candra Herawati yang ditemui di ruang kerjanya kemarin menjelaskan, pameran itu merupakan event tingkat internasional yang akan berlangsung mulai 26 - 29 Agustus. Produk yang dipamerkan di sana adalah produk unggulan dari seluruh Indonesia. Untuk Jawa Tengah akan diikuti 16 daerah kabupaten/kota. Produk yang akan dipamerkan juga berupa produk unggulan dari daerahnya masing-masing. Menurut Candra, diperkirakan dalam pameran itu pengusaha Pekalongan akan mendapatkan dua kios di lantai dua. Meski dilihat kiosnya kecil berukuran 3 m x 3m, bukan berarti barang yang disediakan terbatas. "Kami menyiapkan pengusaha untuk membawa batik dan tekstil alat tenun bukan mesin (ATBM) satu mobil box. Jumlah barang-barang yang dibawa hanya merupakan contoh dan jika habis akan dikirim lagi," katanya. Karena hanya contoh, dia berharap pembeli atau pedagang yang menginginkan barang itu dapat memesan melalui trading house Pekalongan di Jalan Pemuda 50 Pekalongan telp (0285)-428040 dan 42011, serta melalui email KoperasiTHPKL@telkom.net atau langsung kepada pengusaha anggota TH. "Berapa pun jumlah pesanan akan dapat dipenuhi, mengingat jumlah anggota TH mencapai ribuan," kata Candra. Dia menjelaskan, TH yang dipimpin dr Basyir Achmad itu memiliki angggota 16 sentra industri. Tiap satu sentra memiliki sekitar 250 pengusaha. "Karena itu, tidak aneh jika produk batik dan tekstil Pekalongan melimpah ke beberapa kota di Indonesia," katanya. Trading House, kata Candra, didirikan 3 Mei 2003 dan sudah berbadan hukum dengan nomor 180/126/2003. Sejak berdiri, hingga kini sudah melakukan puluhan kegiatan pameran di tingkat nasional dan internasional. Mengikuti seminar, studi banding, membuat brosur dan menyebarkan ke beberapa kota, bekerja sama dengan lembaga keuangan dan BUMN di dalam dan luar kota untuk mengakses permodalan, pameran dan diklat. Dengan munculnya TH, maka akan memperkuat pasar produk unggulan dari Kota Pekalongan berupa batik yang sudah dikenal di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri. Adapun latar belakang didirikannya TH waktu itu, kata dia, disebabkan kondisi global ekonomi yang masih kurang kondusif akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Kemudian, dalam kondisi khusus, beberapa waktu lalu kondisi pemasaran tekstil Pekalongan terimbas bom Bali dan kebakaran Pasar Tanah Abang yang menyebabkan menurunkan omzet produk unggulan dari Kota Batik. Kemudian juga dalam upaya meminimalkan ketergantungan pasar luar Kota Pekalongan dan penguatan pasar lokal.(A15-15r) |