logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Agustus 2004 PANTURA
Line

Makanan 104 Pedagang Diborong

SEORANG ibu dengan dua anaknya, tampak berjalan dengan buru-buru. Mereka ingin cepat sampai ke Alun-alun Kota Brebes. Rombongan lain, sekelompok anak muda, juga berjalan ke arah yang sama.

Ada apa gerangan? "Saya ingin makan gratis dan nonton dangdut," kata Ujang, pemuda tanggung asal Kelurahan Pasarbatang.

Jumat malam lalu (20/8), merupakan hari yang membahagiakan bagi warga Kota Telur Asin itu. Mereka mendapat sajian khusus dari Panitia HUT Ke-59 Kemerdekaan RI, untuk menikmati makanan gratis sekaligus hiburan segar orkes melayu (PM) Family Karlinda Grup dari Kota Bumiayu.

Panitia sengaja mengundang 104 pedagang makanan dan minuman yang ada di kota itu, untuk melayani secara gartis para pengunjung yang ingin menyaksikan pertunjukan musik dangdut.

Pesta ala rakyat itu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Mereka datang dari berbagai penjuru, hanya untuk menikmati makan gratis. Ada mi goreng, mi rebus, nasi goreng, sate blengong, bakso, mi ayam, martabak, dan roti bakar, yang disediakan cuma-cuma. "Mereka tinggal pilih makanan kesukaan. Tak perlu bayar," ujar panitia.

Semula, panitia menyodorkan kupon kepada pengunjung yang akan menikmati makanan. Satu orang mendapat satu kupon; tapi kemudian panitia justru menjadi kewalahan menghadapi serbuan peminat. Akhirnya dibebaskan tanpa kupon. Mereka tinggal pesan pada pedagang.

Satu pedagang makanan, ditarget melayani 100 porsi dengan tarif tiap porsi Rp 3.000. Untuk minuman seperti teh botol, fanta, cola-cola plus es, dan kelapa muda harganya antara Rp 1.500 dan Rp 2.500.

Pedagang yang mendapat borongan panitia, adalah yang berjualan di seputar Alun-alun. Tapi, ada juga beberapa pedagang keliling yang ikut menikmati.

Diwajibkan

Mereka dipesan instansi pemerintah, seperti dinas, kantor, badan, BUMD, dan bagian di sekteratiat Pemkab. Setiap instansi diwajibkan menyediakan 100 porsi makanan dan minuman.

"Lumayan, Mas. Diborong; jadi nggak usah keliling. Kalau tiap tahun seperti ini, enak," papar penjual bakso.

Pengakuan jujur disampaikan pedagang mi rebus yang setiap malam mangkal di seputar Alun-alun. Setiap malam pada hari biasa, paling banter melayani 50 porsi, tapi malam itu dalam satu jam bisa menghabiskan 100 porsi.

Karena permintaan datang bersamaan, dia membuat sekali masak tiga porsi. "Kalau melayani satu porsi sekali masak, kelamaan," kata Bana, pedagang mi rebus.

Meski event seperti itu jarang terjadi, para pedagang umumnya berharap Pemerintah sering menggelar acara serupa. Mereka seakan dimanusiakan, karena tidak menjadi incaran petugas Satpol PP saja, ketika berjualan di sembarang tempat. "Orang kecil, tetap saja orang kecil," kata mereka.

Di tengah kegembiraan pedagang lain, malam itu Zaenudin justru murung. Pedang mi yang biasa mangkal di depan Kantor Sekretariat Pemkab itu, malah tidak mendapat order dari panitia. Sehingga, sampai pukul 22.00 dagangannya masih utuh.

"Mereka (pengunjung), tentu memilih ke Alun-alun karena makan gratis. Di sini harus bayar."

Acara makan gartis, sebenarnya dimulai pukul 20.00, sebelum OM Family Karlina tampil di panggung. Namun, penonton kelihatan tak sabar, sehingga pedagang sudah mulai melayani pukul 19.30. Anehnya, dalam tempo satu jam seluruh makanan habis.

"Saya memang sempat makan dua kali. Sekali makan kupat-sate-blengong, tambah lagi ke penjual mi pangsit," ujar Adi, pemuda dari Pesantunan. (Wahidin Soedja-42a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA