| Senin, 23 Agustus 2004 | PANTURA |
TKW yang Meninggal di Arab SaudiKeluarga Royati Masih Tunggu KabarBREBES-Kabut duka menyelimuti keluarga Rofii (55), warga Desa Jagalempeni RT 03/4, Kecamatan Wanasari, Brebes. Lebih dari sebulan, keluarga sederhana yang hidup di pelosok desa terpencil itu menunggu kabar tentang anaknya, Royati (30), TKW yang dinyatakan meninggal dunia oleh Pemerintah Arab Saudi. Selama itu pula, keluarganya tidak pernah mendapat bantuan, baik dari pemerintah maupun PT Bunga Kemuning Jakarta, PJTKI yang membawa anaknya ke luar negeri. Royati (30), TKW yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di rumah Bhukoid Kholifah Achmad Alkad, 25 Mei lalu dikabarkan meninggal dunia. Kabar itu disampaikan Kedutaan Besar Indonesia di Arab Saudi kepada PJTKI yang mengirim Royati. Kabar kematian itu, akhirnya disampaikan pada keluarganya melalui seorang kurir, 1 Juli. Menurut informasi dari Kedubes, Royati dinyatakan meninggal karena penyakit paru-paru. Selanjutnya, Kedubes memberi waktu tiga minggu kepada keluarga Royati untuk membuat surat pernyataan, agar mayat Royati segera ditangani. Meski Rofii telah menyampaikan surat tersebut sejak awal, hingga kini belum ada berita tentang anaknya. Diceritakan, sejak kali pertama berangkat ke Arab Saudi, anaknya tidak pernah memberi kabar kepada keluarga. Selain itu, juga tidak pernah sekali pun mengirimkan uang. Berkali-kali Kirim Surat Sebenarnya, suaminya, Tasori (28), sudah berkali-kali mengirim surat, namun tidak sepucuk surat pun dibalas. "Kami sudah lebih dari 10 kali mengirim surat, namun tidak satu pun yang dibalas," kata dia. Selama ini mereka berusaha tidak menaruh perasaan curiga apa pun pada pekerjaan dan majikan Royati. Bahkan, ketika dia berusaha mengontak nomor telepon rumah tempat Royati bekerja, dijawab tidak tahu oleh majikannya. Hal itu berselang sekian lama. Kini, setelah dua tahun lebih, tahu-tahu Rofii menerima surat berisi kabar kematian anaknya. "Saya benar-benar kaget, dua tahun lebih tidak ada kabarnya, tahu-tahu malah dikabari sudah mati," katanya. Mereka sebenarnya berusaha tabah, menerima kenyataan itu. Sesuai dengan janji Kedubes Indonesia di Arab Saudi, mereka pun mengirimkan surat balasan ke Arab Saudi. Surat itu berisi permintaan, agar mereka memperoleh keterangan medis mengenai penyebab kematian Royati. Selain itu, mereka juga menuntut hak-hak Royati yang belum diberikan, seperti santunan asuransi dan gaji yang belum dibayar, diserahkan kepada keluarga. Sedangkan untuk pemakaman, mereka meminta mayat Royati dipulangkan ke kampung halaman. Permintaan mereka sudah dikirimkan melalui faksimile sejak awal Juli lalu, namun hingga tiga minggu berselang belum ada kabar dari Kedubes Indonesia di Arab Saudi. Pemerintah juga berkesan cuci tangan dalam masalah itu. Rofii khawatir, permintaannya tidak ditanggapi Pemerintah Arab Saudi, dan menguburkan anaknya begitu saja. Kini, Rofii hanya dapat berharap Pemerintah terketuk hatinya untuk membantu menyelesaikan kasus anaknya. "Kami minta kejelasan sebab musabab kematian Royati," katanya. Dia tidak tahu harus ke mana lagi mencari bantuan, karena perusahaan yang menangani anaknya berkesan lepas tangan. Selain itu, dia juga tidak mempunyai biaya untuk pergi ke Jakarta mengurus masalah tersebut. Jangankan bepergian, untuk makan sehari-hari saja pria yang sudah uzur itu mengaku harus mendapat bantuan dari keluarga dan tetangga.(on-42a) |