| Senin, 23 Agustus 2004 | WACANA |
Pendidikan yang Menepis EgoisitasOleh: SuyantoDALAM sebuah masyarakat suatu bangsa, generasi terus lahir bersama budaya dan teknologi yang diciptakannya. Tak seorang pun dapat mencegah fenomena ini. Dalam tulisan pendek ini, saya mengajak para orang tua, guru, dan tokoh panutan masyarakat untuk melakukan pemikiran reflektif terhadap perkembangan perilaku dan kebiasaan para generasi muda kita terkait dengan budaya dan teknologi yang digunakannya. Apa pentingnya bicara soal ini? Jawabnya tentu sangat penting dan perlu. Sebab, perilaku kolektif para siswa atau generasi muda saat ini sangat menentukan nasib bangsa pada masa yang akan datang. Bahkan secara individu, perilaku anak-anak kita dalam kaitannya dengan pemanfaatan teknologi sehari-hari akan memengaruhi ketenteraman kita sebagai orang tua. Pemimpin masa depan, secara alami, juga ikut ditentukan oleh budaya hidup para siswa saat ini yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Karena itu, jika kita melakukan perenungan secara reflektif-substantif terhadap cara dan budaya hidup para siswa kita, tentu tidak ada jeleknya buat dunia pendidikan untuk mencari terapi pedagogis bagi kemunculan fenomena yang tidak baik akibat adanya pemakaian teknologi yang tidak proporsional. Di sinilah letak pentingnya mengapa saya mengajak para pembaca untuk peduli pada dampak pemanfaatan teknologi oleh anak-anak kita. Ya, memang betul teknologi itu netral, bergantung pada the man behind the technology. Artinya, jika teknologi digunakan oleh orang yang tepat dengan cara yang benar, tentu akan menghasilkan produktivitas kerja yang luar biasa. Hal ini terjadi karena teknologi pada hakikatnya diciptakan untuk membantu kehidupan manusia agar lebih nyaman, efisien, efektif, dan produktif. Meski demikian, bila sebuah teknologi digunakan secara keliru, dan kekeliruan itu tidak disadari secara kolektif, tunggulah dampak negatifnya bagi budaya generasi muda. Jika hal ini terjadi, sistem pendidikan kita harus mampu melakukan koreksi. Meskipun demikian, melakukan koreksi terhadap kekeliruan tersebut juga tidak mudah tanpa upaya secara sadar dan tersistem. Karena itu, sistem dan praksis pendidikan kita semestinya maju menjadi pelopor di depan melakukan terapi preventif, di samping upaya kuratif yang juga harus dilakukan. Egois-Hedonis Teknologi yang menolong berbagai kehidupan manusia sekarang muncul silih berganti. Sebaliknya, teknologi yang berpeluang untuk melahirkan sikap hidup egois dan hedonis juga amat banyak, dan muncul setiap saat. Saya tidak akan membuat inventarisasi terhadap semua teknologi yang termasuk dalam kelompok terakhir itu. Tetapi saya mengingatkan dampak negatif pemanfaatan beberapa teknologi saja terhadap kehidupan para siswa kita. Anak-anak kita saat ini berada pada sistem teknologi yang dapat dinikmati secara individual dan konsumtif. Hal ini terjadi dengan adanya inovasi yang besar-besaran terhadap teknolgi yang berbasis elektronik, seperti teknolgi penyiaran televisi yang semakin canggih, sistem seluler yang menawarkan berbagai aplikasi pada hand phone yang semakin kompetitif, mainan VCD yang mampu menampilkan pelakunya secara riil dan dapat dimodifikasi sesuai dengan kemauan pemainnya. Akibat teknologi itu, anak-anak kita saat ini kehilangan kemampuan untuk memiliki interaksi sosial yang baik dengan peer group-nya dan juga orang lain di luar diri mereka. Akibatnya, anak-anak kita saat ini tidak memiliki kecakapan sosial yang memadai akibat kebiasaan menikmati teknologi yang cara pemanfaatannya memang dapat dilakukan secara individual. Pulang dari sekolah, anak-anak kita langsung menikmati acara televisi yang akhir-akhir ini banyak yang memanipulasi minat para siswa usia SMP. Banyak ceritera sinetron yang disuguhkan oleh berbagai rumah produksi yang tema utamanya selalu itu-itu saja: perselisihan dan pertengkaran antarkelompok teman, kekerasan antarkelompok, perebutan kekasih, pamer kekayaan orang tua, dan gaya-gaya hidup lain yang sangat hedonistis. Keadaan ini dalam jangka panjang akan membuat anak-anak kita menjadi generasi yang egois dan hedonis. Bahkan dengan menikmati teknologi secara konsumtif telah terbiasa anak-anak kita dengan hand phone-nya sering melakukan missed call dengan alasan supaya ditelepon balik. Dengan perilaku seperti ini, tanpa tersadari mereka sesungguhnya sedang belajar menjadi anak-anak egois. Sekolah perlu tanggap terhadap fenomena seperti ini. Karena itu, proses belajar di sekolah perlu mengompensasi hilangnya nilai-nilai kehidupan penting pada anak-anak kita akibat pemanfaatan teknologi yang tidak proporsional. Bagaimana caranya? Hal itu dapat dilakukan dengan cara sekolah melakukan proses pembelajaran dengan memberikan peluang yang besar bagi terjadinya interaksi yang intens di antara siswa dan siswa, siswa dan guru, siswa dan lingkungan sekitarnya. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan model-model pembelajaran inquiry dan discovery. Dengan model itu, siswa didorong untuk terlibat dalam rumusan masalah dan mencari solusinya secara aktif, baik secara konseptual, empirik, dan hipotetik. Dengan model itu, para siswa bisa diajak berpikir secara kelompok, kemudian berbagi pengalaman. Dari sini dapat diintegrasikan pesan moral seperti tolerensi, empati, kejujuran, ke- uletan bekerja, sikap mandiri, dan sebagainya. Pada akhirnya, semua itu dapat membangun sistem nilai anak-anak yang tidak mementingkan diri sendiri yang mengarah pada perilaku yang egois. Orang egois pada masa yang akan datang tidak akan memiliki peluang untuk mendapatkan keberhasilan. Sebab, ciri penting kehidupan pada era global adalah pentingnya melakukan networking antarbangsa yang tidak mengenal batas-batas teritorial kenegaraan. Kalau hal ini semua kita lakukan, ada pembenarnya, yaitu filsafat pendidikan social reconstructionism. Ketika kita melihat ada praktik kehidupan yang keliru di dalam masyarakat, pendidikan perlu digunakan untuk melakukan rekonstruksi agar masyarakat bisa kembali pada nilai-nilai ideal yang ingin dicapai. Semoga begitu. (29) -Prof Suyanto PhD, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta; alumnus Boston dan Michigan State University, USA |