logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Agustus 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Multidiensi Medali Emas Taufik Hidayat

- Lagu kebangsaan ''Indonesia Raya'' dan linangan air mata. Memori Barcelona 1992 seperti tercetak ulang di Goudi Olympic Hall Athena dalam upacara pengalungan medali tunggal putra bulutangkis, Sabtu lalu. Dua belas tahun silam, tidak seperti biasanya Susi Susanti meluapkan kegembiraan dengan tangis haru. Taufik Hidayat juga mengekspresikannya dengan ungkapan yang sama. Mengapa anak Pengalengan yang dikenal bengal itu meluapkan keterharuan dengan begitu rupa setelah memastikan kemenangan atas Shon Seung-mo, merupakan cermin betapa olimpiade memberikan nuansa berbeda. Kemenangan menjadi emosi bangsa. Diperdengarkannya lagu kebangsaan adalah puncak kebanggaan, jauh di atas nilai-nilai apa pun dalam pertandingan-pertandingan grand prix bulu tangkis.

- Dapat dipahami, tidak sembarang pemain mampu berjaya dalam multievent terbesar dunia ini. Dua olimpiade terakhir mengetengahkan fakta adanya perbawa lain, khususnya pada nomor tunggal putra. Kalau empat tahun lalu di Sydney ''seharusnya'' Taufik Hidayat, Hendrawan, atau Xia Xuanze yang dikasting menuju puncak, yang muncul justru Ji Xinpeng. Tahun ini, Taufik bahkan tidak masuk daftar unggulan, dan yang diperkirakan juara adalah satu di antara peringkat atas dunia Lin Dan, Chen Hong, Bao Chunlai, atau Peter Gade Christensen. Rivalitas elite olahraga bulu tangkis selalu menciptakan kejutan-kejutan, dan olimpiade menambahnya dengan emosi bela negara. Juga atmosfer pembuktian karena medali emas dari arena ini dimaknai sebagai puncak pencapaian prestasi seorang atlet.

- Taufik berjaya justru di tengah keredupan pamor bulu tangkis Indonesia di pentas dunia. Bakat-bakat, khususnya pada bagian putri, seperti sulit bergerak menemukan muara. Kita bahkan diliputi ketidakyakinan tradisi medali emas olimpiade sejak Barcelona 1992, Los Angeles 1996,dan Sydney 2000, bisa dipertahankan. Namun Taufik - yang selama ini lekat dengan berbagai kontroversinya - mampu membalik semua itu. Bersama Sony Dwi Kuncoro, babak demi babak dilewati dengan mulus. Dia bahkan mencetak dua prestasi, yakni emas olimpiade sekaligus menghapus catatan tidak pernah menjadi kampiun di Eropa. Sama seperti Alan Budikusuma pada 1992, dia juga meraih emas olimpiade tanpa pernah juara di dua event paling bergengsi, yakni Kejuaraan Dunia dan All England.

- Sangatlah besar arti medali emas itu, jauh lebih besar dibandingkan bagi Taufik Hidayat sendiri, bagi PBSI, juga lebih besar dari bonus Rp 1 miliar yang menantinya. Prestasi dunia, apalagi olimpiade, mengandung makna keunggulan, kepercayaan diri, dan potensi masa depan bangsa. Inspirasi ini bukan hanya berkembang di dunia olahraga. Sebab Indonesia pun telah membuktikan sejumlah keunggulan dalam olimpiade di bidang ilmu pengetahuan, seperti fisika, biologi, matematika, juga seni. Suatu bangsa membutuhkan terapi untuk membangkitkan, memulihkan, dan menjaga kepercayaan diri. Kita yang dalam beberapa tahun terakhir ini terpuruk karena berbagai krisis, patut menjadikan kemenangan besar Taufik ini sebagai momentum batu loncatan yang penting.

- Semua pencapaian jelas butuh proses. Rangkaian proses itu bisa berupa latihan, pembajaan diri, kemauan, sikap pantang menyerah, serta ketekunan mempelajari hal-hal baru. Bagi PBSI, sukses Taufik patut dijadikan bahan perenungan. Sebab selama ini induk organisasi bulu tangkis itu nyaris gagal ''menjinakkan'' si anak muda dengan segala perilaku nyelenehnya. Kevokalan Taufik, sikapnya, termasuk dalam menentukan pelatih, dibuktikan dengan pencapaian puncak. Sekali lagi terbukti, mengelola atlet besar membutuhkan seni tersendiri. Hal ini tidak serta merta dapat dijawab dengan struktur pendekatan disiplin umum. Rangkaian proses untuk menuju puncak itu, dengan berbagai dinamikanya, dapat dilihat subjektif, pada satu dan lain orang bisa berbeda-beda.

- Bulu tangkis kita bagaimana pun masih memiliki peluang untuk bangkit. Di samping emas Taufik, medali perunggu untuk Sony Dwi Kuncoro dan Flandy Limpele/ Eng Hian membuktikan tradisi kekuatan itu masih ada. Karena itu momentum ini tidak boleh terlepas sebagai pacatan untuk melakukan terapi-terapi pembinaan. Sayang memang, perjuangan Taufik dkk di Athena tidak disiarkan langsung oleh televisi kita sehingga tidak terjadi suasana ''demam olimpiade'' seperti dalam tiga olimpiade sebelumnya. Padahal, inilah saat-saat membanggakan: kemenangan Taufik adalah kemenangan bangsa. Kalau Taufik menitikkan air mata ketika Indonesia Raya dikumandangkan, hal itu menegaskan, dibandingkan dengan banyak sukses lain di berbagai event bulu tangkis, olimpiade adalah pemuncaknya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA