logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Pembelian Tembakau Tipe Mranggen Meningkat

  • Di Bawah Harga Ideal

GROBOGAN- Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Kehutanan, dan Perkebunan Pemkab Grobogan Ir Edhie Sudaryanto mengatakan, pembelian tembakau tipe Mranggen sekarang mengalami peningkatan. "Yang semula 1.940 ton, kini meningkat menjadi 4.000 ton. Sebanyak 2.250 ton dipenuhi tembakau dari Demak, sedangkan sisanya 1.750 ton dari Purwodadi," kata Edhie, kemarin.

Lebih lanjut dia mengatakan, tembakau tipe Mranggen itu sebagian ditanam di Kecamatan Tegowanu, Tanggungharjo, Karangrayung, dan Penawangan. "Dari 2.500 hektare luas areal tembakau di wilayah Grobogan, sekitar 70 persennya ada di kecamatan-kecamatan tersebut," ujarnya.

Besarnya harga jual tembakau, kata dia, tergantung pada kualitasnya. Bila sempat terkena hujan, maka kualitasnya akan turun sehingga harga jualnya rendah. "Hujan itu mempengaruhi harga tembakau," katanya.

Sebelumnya, puluhan petani di Kecamatan Tanggungharjo terpaksa menjual tembakau rajangan dengan harga yang kurang ideal. Tembakau rajangan dijual dengan harga berkisar Rp 5.000 - Rp 7.000 per/kg. "Harga tersebut sebenarnya sudah cukup baik jika dibandingkan dengan harga pada awal-awal panen. Namun jika harga itu dikalkulasi dengan pengeluaran petani, maka masih di bawah harga ideal," ujar beberapa petani tembakau.

Tokoh masyarakat Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo M Labib mengatakan, para petani tembakau terpaksa menjual hasil panenannya karena mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Alasannya, apabila dikalkulasi dengan biaya produksi menanam hingga memanen pohon tembakau, harga tersebut belum sesuai. "Sebab, untuk mengolah lahan, memupuk hingga memanen, harga ideal yang dikehendaki petani ketika menjual tembakau rajangannya, ya di atas Rp 10.000," ujarnya.

Namun, kata dia, karena desakan kebutuhan terkait dengan tradisi di desa itu, maka para petani tembakau terpaksa menjual secepatnya. "Tradisi di masyarakat, jika selesai panen tembakau kemudian punya mantu, maka warga lainnya mesti ikut membantu. Itu sebagai wujud kerukunan," jelasnya.

Selain itu, kebanyakan petani tembakau tidak bisa menjual langsung kepada pabrikan tetapi kepada tengkulak atau pengijon. Hal itu terkait dengan masa tanam selanjutnya. (H3-91r)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA