| Senin, 23 Agustus 2004 | SEMARANG |
Mbah Jon, Ikon Busana KetoprakNAMA Gudel Padmo Sardjono mungkin tak terlampau diakrabi masyarakat Semarang. Tapi, coba sebut nama Mbah Djon, nyaris 100% pekerja seni pertunjukan di Semarang mengenalnya dengan amat baik. Ya, Padmo Sardjono alias Mbah Djon tak ubahnya ikon busana di Semarang dan sekitarnya. Rumahnya selalu dijujug orang bila membutuhkan busana untuk pentas. Baik ketoprak, wayang orang, tari, teater, maupun pertunjukan lain. "Ibarat orang bertani, harus memulai dengan macul, nandur, ngrumat, dan ngrabuk,. Nah, ethok-ethoke, kini saatnya ngundhuh (panen)," tutur dia saat Suara Merdeka bertandang ke kediaman sekaligus tempat penyewaan busananya, di Jalan Surtikanti Tengah III/18 Semarang, Sabtu (21/8). Ngundhuh, yang dimaksud pria kelahiran Sragen, 9 Oktober 1952 itu adalah memanen jerih payahnya. Menurut dia, kesuksesannya dalam usaha penyewaan busana tidak datang tiba-tiba. Dia memulai masa "macul"-nya sejak 1975. Ketika itu dia memulai dengan mengajar tari di berbagai sekolah di Semarang. Sekarang Mbah Djon menggerakkan usaha penyewaan itu dari ruang tamunya. Di ruang tamu yang berbentuk "L" seluas 18 meter persegi itu berjejal aneka busana yang disewakan. Pada bagian depan, tepat di samping jendela, berdiri kukuh sebuah etalase gantung berkerangka kayu jati. Lemari berukuran 2,25 m x 0,5 m x 2,25 m itu dipenuhi surjan, jas, kebaya, dan aneka busana lain. Di depan lemari itu, tepat di bawah langit-langit, bergelantungan berbelas-belas praba (aksesori semacam sayap yang biasanya digunakan Gatotkaca atau Kresna). Panen Agustus Mbah Djon mengakui, 90% kepul asap dapurnya ditopang oleh usaha penyewaan pakaian. Namun, ayah tiga putra itu tidak merasa mengelola usaha sebagai bisnis. Dia lebih bersandar pada falsafah petani. Karena itu, dia tidak menerapkan harga sewa yang zakkelijk. "Sering sekali ada kenalan seniman datang, perlu kostum untuk pentas. Ya, saya bilang, bawa dulu saja. Itung-itungane mengko, gampang. Atau, wis kene dhanane pira, tak eguhke." Biasanya, pada bulan Agustus usaha penyewaan busana Mbah Djon mengalami puncak panen. Pada buku catatan kecilnya tertulis, hingga Sabtu (21/8) telah datang 46 penyewa. Mulai yang meminjam satu stel pakaian tari untuk Agustusan hingga kelompok ketoprak yang menyewa kostum untuk satu lakon. Untuk penyewaan satuan, dia mengenakan harga Rp 50.000/stel untuk busana klasik dan Rp 30.000 - Rp 40.000 untuk busana biasa. Selain dari Semarang, pelanggannya tersebar sampai ke Purwodadi, Pati, Pekalongan, Tegal, Brebes, dan Purworejo. (Achiar M Permana-89) |