| Senin, 23 Agustus 2004 | SEMARANG |
Bayang-bayang BundaSEORANG anak yang berkiprah di bidang serupa dengan orang tuanya, bisa diibaratkan memegang pedang bermuka dua. Satu sisi dia bisa memiliki bakat turunan untuk menggapai prestasi. Namun sebaliknya, keberhasilan yang diraihnya, sering dinilai tak lebih dari sekadar warisan orang tua. Apalagi, bila keduanya adalah orang yang populer. Dia akan lebih sering disebut semata "bayang-bayang". Ada banyak orang yang lalu jengah dan ingin keluar dari bayang-bayang itu. Namun, tidak bagi Intan Avantie. Gadis menjelang 19 tahun bernama lengkap Eufrasya Citra Intan Permatasari Avantie itu, malah bangga disebut sebagai bayang-bayang ibundanya. Ya, sang ibu Anne Avantie adalah desainer yang telah moncer. Dan, sedari usia SD, Intan berada di trek sama, menggeluti bidang rancangan busana. Bahkan, mulai September mendatang, dia bakal lebih serius belajar desain dan mode di Esmod Jakarta, satu cabang sekolah haute couture (adibusana) dari Paris. "Aku bersyukur mewarisi bakat Bunda (sebutan untuk ibunya-Red). Aku banyak belajar dari dia," tutur puan kelahiran Surakarta, 17 November 1985 itu. Kadangkala, dia memang agak tak nyaman atas komentar orang yang menyebut prestasinya hanya karena dia putri Anne Avantie. Pada banyak event, lomba rancangan busana, setiap meraih kemenangan, telinganya memang acap mendengar komentar seperti itu. Namun itu lalu melecutnya untuk tak sekadar menjadi desainer di bawah bayang-bayang ibunya. "Aku pernah sekolah SMA. Aku ingin menunjukkan keseriusan belajar bidang itu, lalu kuputuskan pindah ke SMK di Jurusan Tata Busana." Gadis berambut panjang sepinggang itu memacu dirinya dengan semangat belajar yang besar. Kalau sang ibu menjadi desainer secara autodidak, Intan mendalaminya dengan pendidikan formal. Selepas lulus dari SMK Pius Tarakanita Magelang, Esmod telah menunggunya untuk lebih dalam menangguk ilmu tentang haute couture. Studi yang bakal dilakoninya itu pun diraihnya melalui upaya yang tak mudah. Dia harus menyisihkan 22 peserta lomba desainer yang diselenggarakan Jakarta Festival Gading Award beberapa waktu lalu. Hebatnya, dia menduduki peringkat pertama dan berhak mendapat beasiswa di Esmod selama setahun. "Namun, aku ingin menempuh studi di situ selama tiga tahun," kata dia seakan memperjelas semangat belajarnya yang menggebu. Ya, boleh saja orang menganggap sulung dari dua bersaudara itu berprestasi karena faktor Anne Avantie. Yang jelas dia pun mensyukuri keberadaannya di jalur hidup ibunya. Bahkan, hampir semua karya rancangan yang dia ciptakan sejenis dengan karya sang ibu, yaitu rancangan kebaya. Bedanya, sang ibu memilih modifikasi kebaya tradisional, sedangkan dia merancang kebaya dalam sentuhan modern. Dari situ, dia berobsesi bisa menggelar karya bersanding dengan ibundanya. (Saroni Asikin-91i) |