logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Agustus 2004 EKONOMI
Line

Menjelang Prepress and Printing Expo (1)

Sulit Bersaing Tanpa Teknologi

SEBUAH event menarik bagi industri grafika bertajuk Prepress and Printing Expo 2004 yang digagas oleh Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jateng digelar 25 dan 26 Agustus 2004 di Hotel Patra Semarang. Kegiatan itu merupakan yang kali pertama digelar di provinsi ini. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Arie Widiarto dalam dua seri mulai hari ini.

PENGGUNA jasa percetakan mungkin tidak terlalu memedulikan bagaimana pelaku bisnis tersebut berusaha memperbaiki mutu produknya. Bagi konsumen yang penting adalah hasil cetakan tepat waktu dan kualitasnya sesuai dengan harapan.

Usaha tersebut juga tidak terlalu dianggap dalam percaturan bisnis. Artinya, hanya orang-orang tertentu yang memperhatikan seluk-beluk industri grafika tersebut. Itu berbeda dari bisnis jasa lain, misalnya konstruksi, yang mendapat lebih banyak perhatian.

Padahal industri grafika cukup menarik ditelusuri. Bayangkan, jika tidak ada pengusaha percetakan siapa yang mencetak soal-soal tes dan ujian sekolah, keperluan perkantoran, undangan, dan sebagainya. Intinya, industri cetak tak hanya koran sebagaimana dikenal masyarakat selama ini.

Di Jateng usaha itu berkembang cukup pesat. Ribuan tenaga kerja terserap di sektor tersebut. Hingga saat ini tercatat sekitar 700 perusahaan percetakan dan didominasi oleh skala usaha kecil menengah (UKM). Usaha berskala besar jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Biasanya yang berskala besar bergerak di bidang penerbitan.

Persoalan lain yang cukup serius dihadapi oleh pelaku usaha grafika adalah kerepotan dalam mengikuti perkembangan teknologi.

Penelusuran di beberapa kota Jateng menunjukkan mesin-mesin yang digunakan saat ini sebagian merupakan mesin-mesin kuno buatan tahun 1980-an. Bahkan, ada yang masih menggunakan mesin handpress buatan tahun 1974.

Kondisi demikian berbeda dari pengusaha di luar negeri yang lebih intensif dalam mengikuti perkembangan teknologi mesin cetak.

Salah satu negara yang menjadi kiblat perkembangan mesin cetak adalah Jerman. Di negara tersebut hampir setiap tahun diselenggarakan pameran dan terakhir adalah Drupa Fair di Dusseldorf.

Kemampuan ekonomi sangat berpengaruh pada perkembangan industri grafika di Jateng. Wajar karena harga satu unit mesin cetak mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Bagi perusahaan berskala besar angka itu mungkin tidak terlalu menjadi persoalan, tetapi bagi yang berskala kecil sulit menjangkau.

Namun, jika teknologi yang terus berkembang pesat tidak diikuti, maka bagaimana bisa bersaing di tengah iklim kompetisi yang sedemikian ketat?

Bukan tidak mungkin pada masa mendatang akan makin banyak pemodal besar masuk di bisnis itu. Kalau itu terjadi maka percetakan berskala UKM yang mendominasi Jateng bisa tinggal papan nama. Terutama jika tak mampu mengikuti perkembangan teknologi grafika. (Arie Widiarto-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA