| Senin, 23 Agustus 2004 | EKONOMI |
Jangan Buru-buru Hentikan Impor KedelaiSOLO-Pemerintah diingatkan jangan terburu-buru menghentikan impor kedelai karena produksi petani dalam negeri belum mencukupi. Kalau produksi sudah mencukupi kebutuhan maka boleh saja pemerintah memproteksi kedelai melalui kebijakan tidak melakukan impor. Demikian dikemukakan oleh Aco Warso P, Ketua Koperasi Tahu Tempe Mojosongo, Solo, kemarin menanggapi pernyataan Menteri Pertanian Bungaran Saragih yang hendak melakukan proteksi terhadap komoditas kedelai. Caranya bisa dengan tarif atau larangan impor. Menurut Aco, kebutuhan kedelai perajin tahu dan tempe di Solo sebulan ratusan ton. Selama ini sebagian besar bahan baku tersebut didatangkan dari AS dan Brasil, sedangkan kedelai lokal jumlahnya kecil. ''Kedelai lokal tersedia hanya sedikit pada musim kemarau. Paling tidak sampai sebulan sulit dicari. Jadi kalau pemerintah terburu-buru menghentikan impor kedelai, maka akan mematikan perajin tahu tempe,'' tegas dia. Kedelai lokal yang dijual di Solo, lanjut dia, biasa dipasok dari Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, dan NTB. Jumlahnya yang tidak banyak menyebabkan stok pedagang sering kosong, sehingga larangan impor dikhawatirkan bisa menimbulkan gejolak. Selain jumlahnya sedikit, menurut Aco, kedelai lokal oleh para perajin hanya dijadikan bahan baku untuk tahu. Dibuat tempe kedelai lokal dinilai kurang menghasilkan keuntungan karena tidak bisa mengembang sehingga lempengannya kecil-kecil. ''Kedelai lokal itu tidak bisa babar (mengembang-Red) sehingga perajin lebih suka kedelai impor,'' jelasnya. Di Solo saat ini kedelai lokal harganya Rp 3.350/kg, sedangkan kedelai impor dari AS Rp 3.225/kg dan dari Brasil Rp 3.025/kg. Dibandingkan dengan sebulan lalu harga itu turun. Sebelumnya kedelai impor dari AS Rp 3.600-Rp 3.700/kg, Brasil Rp 3.300-Rp 3.400/kg, dan lokal Rp 3.500/kg. (bt-82) |