logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 23 Agustus 2004 EKONOMI
Line

Pengusaha Mebel Terpaksa Impor Kayu Myanmar

SEMARANG-Beberapa pengusaha mebel di Semarang mendatangkan kayu dari Myanmar demi kelangsungan produksi. Impor bahan baku itu terpaksa dilakukan karena di dalam negeri sulit diperoleh dan kalaupun ada harganya sangat tinggi.

''Hingga saat ini sudah didatangkan sekitar 10 kontainer kayu dari Myanmar dan setiap kontainer berisi 15 m2,'' kata Wahyu Trisnawan, Ketua Bidang Pengembangan SDM dan Litbang Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komisariat Daerah (Komda) Semarang, kemarin.

Menurut pemilik perusahaan mebel Laras Citra itu, kayu asal Myanmar dipilih karena kualitasnya cukup bagus. Banyak buyers atau pembeli asing juga menginginkan produsen mebel menggunakan kayu asal negara tersebut.

''Para buyers mendukung karena kualitas kayu myanmar itu tak terpaut jauh dari jati. Mereka juga masih percaya mebel Jateng memiliki ciri khas tersendiri,'' ujarnya.

Selain itu, harga kayu myanmar itu lebih murah dibandingkan dengan kayu dalam negeri meski terbebani biaya impor.

Jika pasokan kayu dalam negeri tidak bisa memenuhi kebutuhan produksi, lanjut dia, maka pengusaha mebel yang tergabung dalam Asmindo berniat lebih banyak mengimpor kayu.

''Kami juga tak habis pikir, kenapa masalah kesulitan bahan baku belum juga bisa teratasi hingga sekarang, padahal di negara lain jumlahnya melimpah,'' tuturnya.

Pihaknya sangat berharap pemerintah segera mengatasi masalah kelangkaan bahan baku agar industri mebel yang didominasi usaha skala kecil menengah itu bisa bertahan.

''Peran pemerintah amat diperlukan karena sebagai pengambil kebijakan. Kami para pengusaha hanya bisa mendorong,'' tegasnya.

Membeli Pohon

Para pengusaha mebel anggota Asmindo Komda Semarang, menurut dia, juga akan melakukan terobosan dengan cara menyumbangkan hasil ekspor mebel untuk membeli pohon.

Sebagian dari keuntungan setiap ekspor satu kontainer akan dibelikan 10 bibit pohon jati mas. Bibit tersebut kemudian diserahkan kepada kelurahan-kelurahan dan pengelola jalan tol di Semarang.

''Konsep itu sudah diterapkan di Malaysia. Ratusan pohon ditanam di sepanjang tepian jalan tol dan beberapa tahun lagi akan dipanen.''

Impor kayu itu, kata dia, juga untuk mengurangi kemungkinan terjadi perumahan karyawan. Hingga saat ini tak sedikit pengusaha yang terpaksa merumahkan karyawannya karena kemampuan produksi menurun. ''Untung belum ada yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Diharapkan impor bahan baku dari Myanmar bisa memulihkan kapasitas produksi,'' jelasnya.

Kelangkaan kayu yang terjadi hingga kini, menurut dia, antara lain disebabkan pula oleh penyelundupan dari Indonesia.

Penggunaan kayu selundupan itu, kata dia, mengakibatkan mebel dari negara-negara pesaing, misalnya China dan Vietnam, jauh lebih murah dibandingkan dengan produk Indonesia. (G2-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA