| Senin, 23 Agustus 2004 | EKONOMI |
Rupiah Bergantung pada Pertumbuhan EkonomiJAKARTA-Posisi kurs rupiah jika target inflasi 3% pada lima hingga tujuh tahun mendatang tercapai maka akan bergantung pada pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan AS, serta inflasi di negara itu. ''Jika bicara mengenai kurs maka kita harus membandingkan dengan inflasi di AS, termasuk pertumbuhan ekonomi kita. Itulah yang akan menentukan harga keseimbangan dolar AS terhadap rupiah,'' kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aslim Tadjuddin, akhir pekan lalu. Dalam jangka panjang, lanjut dia, kurs rupiah ditentukan oleh fundamental ekonomi. Apabila inflasi dapat ditekan lebih rendah maka pertumbuhan ekonomi bisa ditingkatkan, serta jika indikator ekonomi dapat dijaga tetap stabil maka kurs rupiah akan terus menguat. Sekarang, kata dia, nilai tukar rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor regional. Dua hari terakhir pekan lalu yen Jepang terus menguat terhadap dolar AS. Itu terjadi karena pasar masih ragu terhadap pertumbuhan ekonomi AS. ''Pertumbuhan ekonomi AS tidak sebagaimana yang diharapkan oleh pasar, sehingga dolar AS melemah dan mata uang lain, misalnya yen dan rupiah, menguat,'' jelasnya. Akhir pekan lalu, tutur dia, posisi rupiah berada pada Rp 9.220/dolar AS atau menguat dibandingkan dengan sebelumnya. Penguatan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor regional, di samping faktor-faktor domestik. Menurut dia, sekarang ada kondisi ketidakpastian, terutama menjelang pemilihan presiden putaran kedua. Namun, kondisi tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap rupiah. Tidak Besar Sementara itu kenaikan harga minyak memang memengaruhi anggaran tetapi tidak terlalu besar karena selain mengimpor, Indonesia mengekspor minyak. ''Memang ada pengaruhnya, tetapi budget kita tidak akan banyak terpengaruh banyak oleh kenaikan harga minyak. Tidak seperti Jepang yang hampir seluruh kebutuhan minyaknya diimpor,'' ujarnya. Pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2005 pemerintah mematok asumsi harga minyak 24 dolar AS/barel, sedangkan dalam APBN 2004 harga minyak ditetapkan 22 dolar AS/barel. Mengenai inflasi Aslim Tadjuddin menyatakan BI yakin angka 3% dapat dicapai dalam lima hingga tujuh tahun mendatang. Keyakinan itu didasarkan antara lain pada kestabilan makroekonomi. (bn-53) |