logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Agustus 2004 WACANA
Line

Surat Pembaca

Depdiknas Tegal yang Tidak Bijak

Kewajiban para guru SD mengikuti penyetaraan D II bagi yang diangkat sebagai PNS dengan basis SPG mendapat sambutan baik. Dan perguruan tinggi di Tegal, baik PTN maupun PTS telah mengantisipasi para lulusan DII guru SD yang memang sudah mapan ekonominya untuk mencapai S1.

Untuk itu perguruan tinggi di Tegal membuka jenjang S1 Program Transfer. Program ini memberi kesempatan lulusan DII untuk menempuh jalur S1 dengan aneka kemudahan. Tetapi sayangnya pihak Depdiknas Kabupaten Tegal tidak merespon dengan baik.

Mereka terkesan mempersulit dengan mengharuskan para guru membuat surat izin belajar. Sebenarnya surat izin belajar tidak ada masalah. Namun syarat untuk mendapatkannya harus melalui birokrasi panjang dan berbelit.

Salah satu persyaratannya, para guru SD harus membuat pernyataan bermaterai. Isinya: "Tidak akan melimpah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi setelah selesai kuliah''. Artinya mereka yang mengantongi ijazah sarjana tidak boleh melimpah ke menjadi guru SMP atau guru SMA.

Hal ini jelas tidak adil sebab selama ini banyak SD yang dibubarkan. Akibatnya banyak guru SD yang kehilangan jabatan. Ada satu lagi kebijakan yang tidak bijak. Para guru harus membuat izin pemasangan gelar S1. Yang saya herankan mengapa hal ini terjadi.

Padahal mereka yang S1 sudah diberi wewenang memasang gelar oleh rektor yang notabene pejabat eselon. Yang memberi perintah membuat izin adaalah pejabat Pemkab yang jelas eselonnya berada di bawah eselon Rektor PTN. Lucu bukan ?

Semoga tidak ada lagi keharusan membuat pernyataan tidak melimpah bagi guru SD yang akan meneruskan ke S1. Dan sepertinya izin pemasangan gelar tidak perlu.

Anto
Klisapu, Slawi

***

PT Taspen Purwokerto

Menjawab tulisan di rubrik Cablaka 7 Agustus 2004, kami jelaskan, selama ini PT Taspen (Persero) Purwokerto telah melakukan sosialisasi/penyuluhan masalah ketaspenan secara transparan. Antara lain mengenai hak dan kewajiban, prosedur pengurusan dan contoh perhitungan hak.

Sosialisasi dilakukan di berbagai daerah baik lewat radio, TV, surat kabar maupun melalui diklat yang diselenggarakan Pemkab. Bila ada hal yang kurang jelas bisa hubungi Customer Service 0281-634147 atau lewat dialog interaktif di Radio Taravaleria gelombang Frekuensi 105,6 FM.

Acara ini setiap hari Rabu pukul 10.00 s.d 11.00 minggu kedua dan keempat. Bisa juga langsung ke PT Taspen (Persero) Kantor Cabang Purwokerto Jl Prof Dr Suharso 54.

Kepala Bidang Persum
Masrizal Anwar

***

Eskalator di Java Mall

Tanggal 29 Juli 2004 pukul 20.30, saya sekeluarga ke Java Mall Semarang. Saat turun dari lantai I ke lantai dasar dengan menggunakan eskalator saya turun dari Matahari menuju supermaket, Saya tidak tahu tiba-tiba tangan anak saya yang berumur 2 tahun tergores eskalator.

Malam itu juga anak saya dibawa ke rumah sakit dan mendapat 11 jahitan . Yang saya pertanyakan, tingkat keselamatan eskalator di Java minimal untuk anak balita. Saya imbau pengelola meninjau tingkat kerawanan kecelakaan di eskalator sebelum ada korban lain.

Saya berterima kasih kepada beberapa kayawan yang membantu dan menawarkan untuk memberikan pertolongan pada saat kejadian tersebut. Jangan hanya demi kepentingan tertentu tetapi mengabaikan keselamatan pengunjung,

Sukmana Yudya
Jl Mangga VI/26, Semarang

***

Persiku Kandas, Siapa yang Salah?

Penantian panjang dengan penuh harap akhirnya punah sudah. Persiku kini terhempas dan kandas. Pengurus mulai kesibukan barunya yaitu melepas pemain. Ini kebijakan yang kurang simpatik. Mereka bukan mengevaluasi, merencanakan pembinaan kembali dan meminta maaf.

Mereka seharusnya minta maaf kepada masyarakat Kudus serta pendukungnya yang tergabung dalam Laskar Macan Muria. Tetapi pengurus malah menyiapkan segepok surat pelepasan dan menandatangani. Ini seperti yang disampaikan Tim Manager Persiku T Sugiyanto kepada sebuah media.

Kelak bila waktu kompetisi mulai digelar kembali. mereka baru sibuk mencari pemain dan mepetnya waktu akan menjadi alasan. Saya kira pemain Persiku sudah cukup hebat. Buktinya banyak menjadi incaran tim tangguh di atas kelas Persiku. Berapa puluh pemain yang kini tertampung di tim lain justru menjadi pemain andalan.

Apakah pengurus, manager serta pelatih tidak berpikir ke sana?. Kekalahan demi kekalahan Laskar Macan Muria sebetulnya mudah dibaca titik kelemahannya, lebih-lebih oleh pelatih lawan yang pintar memanfaatkannya. Kelemahan itu pada tumpulnya ujung tombak, mudah terpancing emosi dan tidak disiplinnya barisan belakang.

Bagi pelatih yang mumpuni, seharusnya ini menjadi skala prioritas utama untuk dibenahi, jangan malah sekadar mengeluh dan menjadikan kendala kesulitan. Pelatih yang baik justru harus bisa merubah kesulitan menjadi kemudahan.

Bila ada pelatih yang mengeluhkan materi pemain, macam apa dia? Apalagi dapat dicatat, bahwa setiap gawang Persiku kebobolan hampir 99,9% terjadi pada saat menit menjelang berakhir. Bagi saya solusi untuk bisa bangkit kembali, pemain tidak perlu buru-buru dilepas tetapi harus dibina kekompakannya.

Semua pelatih harus diganti yang berkualitas, manajemen keuangan disehatkan, mencari orang-orang yang mengerti betul dunia persepakbolaan. Dan yang terpenting jangan memberikan tempat bagi orang-orang yang cuma mencari hidup dalam tubuh Persiku.

Kita tahu mengamuknya fans Macan Muria di Batang tidak terelakkan lantaran selain perlakuan tuan rumah yang kurang simpatik, juga sebagai puncak kejengkelan, kekecewaan serta kurang jelinya para pelatih dalam berstrategi.

Demikian evaluasi saya selama bergulirnya Kompetisi PSSI Divisi II Nasional yang baru saja usai. Semoga semua pihak yang merasa memiliki Persiku bisa urun rembug dalam membangun dunia persepakbolaan di Kudus yang selalu tertunda kesuksesannya.

Abdullah Fanani BcHk
Loram Wetan Rt 6/Rw 1 Jati, Kudus

***

Ke Mana Mengadu ?

Saya punya pengalaman beberapa waktu lalu ketika mengisi BBM di SPBU Bawen. Mestinya tanki mobil saya hanya berkapasitas 45 liter, tetapi saya harus bayar 48,5 liter di SPBU tsb. (nota ada terlampir). Bagi saya tidak berpikir berapa keuntungan pemilik SPBU setiap hari dari hasil memanipulasi ukuran.

Tetapi pikiran saya, biasa sebab pengusaha yang dicari tentu keuntungan. Yang saya pikir justru setiap timbangan kan mesti ada pengawasnya yaitu aparat yang digaji dari uang rakyat. Tetapi mereka tega-teganya mau diperalat untuk memanipulasi sesamanya.

Coba sekarang YLKI jangan hanya pasang papan nama, tetapi ada aksi nyata secara terus menerus agar keberadaanmu malah menjadi kepercayaan rakyat. Kepada Pemerintah Kabupaten Semarang, mohon serius dikit mengawasi tingkah laku bawahannya yang tidak menyenangkan.

Rizal
Jl Petek, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA