logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Agustus 2004 NASIONAL
Line

Dari Sidak Kapolda ke Pabrik-pabrik (2-Habis)

''Bau Apa Ini, Menyengat Sekali''


PANJAT TEMBOK : Untuk mengetahui aliran limbah pabrik ke irigasi milik warga, Kapolda Irjen Pol Chaerul Rasjid rela memanjat tembok. (b) - Langgeng Widodo

BERKAITAN dengan persoalan pencemaran limbah logam berat, sudah dua kali Kapolda Jateng Irjen Pol Chaerul Rasjid datang ke Karanganyar dalam kurun waktu sepuluh hari. Kedatangan Kapolda pada kali pertama untuk melakukan pembicaraan langsung dengan warga sekitaR yang diduga korban limbah. Sementara itu, kedatangan kali kedua untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pabrik-pabrik yang diduga mencemari.

Ada pun tim anti limbah Reskrim Polda sudah lebih dari dua kali datang untuk mengambil sampel. Baik sampel air di perairan milik warga atau sampel tanah dari lahan pertanian milik petani. Hal itu mencerminkan, Polda serius dalam menangani kasus pencemaran di Karanganyar.

Telah terjadi berbagai peristiwa ganjil, seperti kekagetan para pengusaha dan terbongkarnya laporan palsu dalam sidak Kapolda di PT Kusumahadi Santosa, Jaten, Rabu (18/8). Untuk mengetahui aliran limbah pabrik tersebut ke irigasi milik warga, dia rela memanjat tembok. Demikian juga ketika melakukan sidak ke PT Dunia Setia Sandang. Para wartawan yang juga naik mobil sempat tercecer, menduga sidak tidak dilanjutkan karena Kapolda ada acara lain.

Sebelum masuk lokasi PT Dunia Setia Sandang di Jalan Raya Solo-Sragen, Jaten, rombongan Kapolda sempat tertahan keramaian kendaraan. Ketika sampai di dalam pabrik, tampaknya tidak satu pun pihak manajemen yang menyambut. Boleh jadi mereka tidak tahu kalau ada rombongan Kapolda melakukan sidak. Sebab sidak itu sangat rahasia. Belakangan sidak Kapolda diikuti oleh Direktur Personalia Joko Waluyo.

Rombongan antara lain terdiri atas Kapolda, Kapolwil Surakarta Kombes Pol Abdul Madjid, Kapolres Karanganyar AKBP Amrin Remico, Kepala Bapedalda Jateng Joko Sutrisno, Wakil Bupati KRMTH Drs Sri Sadoyo MM, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Karanganyar Sartono SH.

Setiba di lokasi, Kapolda langsung menuju pusat limbah dengan diantar salah satu anggota tim anti limbah Polda. Para wartawan merasa kaget, sebab anggota tim limbah mengetahui sedetail-detailnya produksi limbah beserta aliran-alirannya. ''Bagaimana dia tahu posisi limbah sedetail itu. Apa mungkin dia sudah menyusup sebelumnya, hingga pihak pabrik tidak tahu menahu dan kebingungan,'' kata Edwin Priyono wartawan RRI Surakarta.

Ketika sampai di pojok pabrik tempat yang semestinya digunakan untuk mengoperasikan instalasi pengolah air limbah (IPAL), Kapolda terpaksa mengambil sapu tangan dari sakunya untuk menutup hidung. Sebab, dia tidak tahan bau limbah cair yang menyengat. Selain itu, limbah cair tersebut tampak hitam pekat. ''Ah bau apa ini, menyengat sekali. Tidak kuat saya,'' ujarnya.

Dengan berjalan cukup cepat, Kapolda menuju tiga kotak berukuran besar yang isinya sudah mengering. Diperkirakan kotak itu adalah lokasi IPAL yang sudah lama tidak digunakan. Bahkan limbah cair yang ada di dalamnya sampai mengering. ''Berapa lama kotak ini tidak dipakai,'' tanya Kapolda. ''Dua minggu Pak,'' jawab Joko Waluyo.

''Ah bohong kamu, mana mungkin,'' tambah Kapolda. Merasa dibohongi.

Selanjutnya dia menelusuri selokan-selokan yang digunakan untuk aliran limbah, yang langsung dibuang ke sungai milik warga . Dia juga membuka sendiri selokan itu untuk membuktikan aliran yang sebenarnya. ''Ah, ini sudah memprihatinkan sekali,'' kata dia.

''Dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan secara langsung serta laporan dari Kapolwil, Kapolres, dan Kapolsek setempat diduga keras terjadi pencemaran lingkungan. Dalam memberikan keterangan pemilik atau pihak manajemen perusahaan juga terlihat membelokan fakta,'' tandas Kapolda. (Langgeng Widodo, 33b)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA